alexametrics

Kuasa Kucing

Oleh EKA KURNIAWAN
24 April 2022, 05:57:31 WIB

Salah satu binatang paling populer di media sosial, sudah pasti, kucing. Sebar foto kucing Anda, yang tampak menggemaskan maupun menyebalkan, tak lama kemudian Anda akan memperoleh komentar atau like.

BUKU-BUKU yang menampilkan kucing senantiasa menarik perhatian. Dari karya klasik semacam I am a Cat karya Natsume Soseki hingga panduan menulis novel pun meminjam si kucing ini dalam buku Save the Cat! Write a Novel karya Jessica Brody.

Apa sih keuntungan memelihara dan menyukai kucing? Untuk memburu tikus di rumah? Di kompleks perumahan kami, kucing-kucing liar bahkan tak berani mendekati tikus-tikus got.

Kucing jelas bukan binatang menyeramkan seperti saudara besarnya macam harimau atau singa. Mereka tak menguasai hati manusia dengan mengumbar ketakutan. Kucing juga tak segalak (atau sepintar) anjing-anjing tertentu, yang bisa diandalkan menjaga keamanan rumah atau peternakan, atau melacak narkoba.

Ada orang memelihara kucing untuk mendengar suaranya seperti memelihara burung? Saya tak yakin. Yang ada, kita dibuat jengkel saat mereka berisik di musim kawin. Untuk mencari uang seperti topeng monyet? Kasihan. Dipelihara untuk diambil daging dan kulitnya? Saya lebih tak yakin lagi.

Menurut saya, kucing menjadi demikian populer (sebagai binatang peliharaan maupun selebriti media sosial maupun fiksi) justru karena tak punya kualitas-kualitas itu semua. Kucing menguasai manusia, cukup dengan menjilat-jilat bulunya seharian dan sesekali tampak menggemaskan.

Memang ada kucing pintar yang dipertunjukkan di sirkus atau kontes. Tapi, saya yakin, sebagian besar tak punya keterampilan semacam itu.

Kucing pasti tertawa melihat manusia harus berperang dengan beragam senjata mematikan untuk menguasai manusia lain. Mereka juga pasti terpingkal-pingkal jika mengetahui manusia mengeluarkan banyak uang agar manusia lain mau patuh kepada kehendaknya.

Baca juga:
Perbuatan Baik

Ya, kekerasan dan uang merupakan bagian dari alat kekuasaan. Manusia ingin menguasai manusia yang lain dengan mempergunakan perkakas-perkakas itu. Bisa juga mempergunakan kuasa pengetahuan (baik pengetahuan duniawi maupun pengetahuan agama).

Sekali lagi, kucing tak membutuhkan itu. Tanpa kekuatan, tanpa uang, tanpa pengetahuan, kucing bisa membuat manusia yang memeliharanya bagaikan seorang hamba. Pontang-panting memberi mereka makan, membersihkan kandang, dan membuang kotorannya.

Anak saya bahkan berani bilang, ”Camilan kucing lebih mahal dari camilanku, dan kita tetap membelikannya.”

Jika menonton film-film dokumenter tentang binatang, saya sering takjub dengan evolusi beragam binatang untuk mempertahankan keberadaan spesiesnya. Ada yang bisa berubah warna, ada yang bisa menampung banyak air di tubuh, dan sebagainya. Tentu yang gagal dan akhirnya punah banyak.

Kucing lagi-lagi merupakan satu yang menakjubkan. Mereka berhasil beradaptasi dan memastikan diri tak akan punah dengan cara: menjadi pujaan manusia, sampai titik di mana mereka kadang dianggap tuan, bahkan dewa!

Dalam terminologi politik, kemampuan kucing ”menguasai” manusia ini apakah bisa disebut sebagai ”hegemoni”? Dengan cerdik, kucing menguasai manusia tidak dengan paksaan, tapi justru dengan membuat manusia mau dikuasai secara sukarela alias konsensual.

Ya, saya meminjam konsep itu dari filsuf Italia Antonio Gramsci. Gramsci melihat bahwa satu kelas tak selalu berkuasa dengan alat-alat kekerasan dan paksaan. Melalui perkakas seperti kebudayaan, moral, dan ideologi, kekuasaan ditanamkan ke kelas lain dan justru dengan sadar diterima.

Membandingkan kelakuan kucing dengan pandangan filsafat yang sudah mapan serta diterima luas mungkin berlebihan. Tapi, saya ingin menunjukkan, atau setidaknya mengajak kita sadar, bahwa ”filsafat kucing” ini sangat mungkin dipakai manusia untuk berkuasa.

Poles dirimu sebagai politikus yang ramah dan menggemaskan. Jangan pamer kekuatan, justru perlihatkan diri sebagai sosok yang bisa disentuh agar mudah dicintai. Ngobrol akrab dengan pemilik warung kaki lima seperti kucing manja menggesek-gesekkan kepala ke kaki manusia.

Sesekali biarkan dirimu apes, seperti kucing masuk got, agar orang merasa iba. Sesekali perlihatkan kamu menyukai (musik, film, olahraga) yang sama seperti rakyat kebanyakan meskipun harus pura-pura. Perlihatkan pula kamu bagian kaum yang banyak (keyakinan, sentimen).

Intinya, seperti kucing, buatlah orang mencintaimu meskipun sebetulnya kamu sebagai calon politikus tak punya kualitas apa-apa untuk jadi pemimpin. Cukup dicintai, setelah itu, mereka akan mendewakanmu.

Adu kekuatan dan uang mungkin masih berlaku di latar belakang, tapi tak ada yang lebih mantap melebihi bisa berkuasa layaknya kucing. Jika Anda sudah menjelma kucing, mencakar pun akan dimaafkan. Tak bekerja pun tak apa-apa, tetap akan ada pasukan yang siap membela.

Pertanyaan pentingnya, setelah diperhamba kucing peliharaan di rumah, lha masak kita mau diperhamba politikus atau penguasa pula? Bilang akan mengusut skandal hilangnya minyak goreng, ternyata mereka juga biang keroknya. Itu contoh saja sih.

Tak perlu menambah dengan menjadikan penguasa sebagai peliharaan, yang minta dikasih makan dan dibuangkan kotorannya. Cukuplah kita memelihara kucing. Setidaknya, kalau sudah dibuat kenyang, kucing umumnya tak rampok sana rampok sini lagi. (*)

EKA KURNIAWAN

Penulis dan novelis, nomine The Man Booker International Prize 2016

Editor : Ilham Safutra

Saksikan video menarik berikut ini:



Close Ads