alexametrics

”Kepercayaan” dalam Politik Indonesia

Oleh HATIB ABDUL KADIR
24 April 2022, 05:52:23 WIB

Beberapa waktu lalu, ada begitu banyak politikus, bahkan intelektual, yang tertipu dengan berbagai macam praktik perdukunan, ramalan, hingga bantuan. Apa yang menyebabkan begitu banyak elite politik, bahkan intelektual, percaya dengan dunia spiritual, bahkan hingga kena tipu?

CENDEKIAWAN ICMI lulusan Amerika, Dr Marwah Daud Ibrahim, pun pernah menjadi murid Kanjeng Dimas yang dipercayai keturunan raja dan keturunan raja-raja. Demikian pula, tak sedikit elite politik kita yang percaya dengan dunia spiritual dan meski akhirnya kena tipu. Seperti Presiden SBY yang percaya soal blue energy. Pembangkit listrik menggunakan tenaga air dan jin. Di tahun 1950-an, Soekarno pernah memberikan gelar kepada raja dan ratu dari suku anak dalam yang ternyata fiktif. Soekarno mendapatkan iming-iming dana dari raja dan ratu ini untuk merebut Irian Barat dari tangan Belanda.

Mayoritas laporan sejarah dan antropologi di Indonesia menunjukkan bahwa misionarisme agama justru mempunyai peran dominan dalam memperkenalkan modernitas kepada suku-suku bangsa dan masyarakat adat di Indonesia. Modernitas di Indonesia tidak sepenuhnya dibangun dari sains dan sekularisme, melainkan tercampur dengan kepercayaan dan keimanan. Dan agama tidak serta-merta menghilangkan kepercayaan terhadap roh leluhur dan arwah nenek moyang. Karena itulah, tidak heran jika ada begitu banyak pemimpin politik, bahkan intelektual, yang demikian tergoda dengan makhluk halus, jin, dan suara-suara roh leluhur. Meski ia telah mengecap pendidikan di Eropa, Amerika, maupun Australia.

Modernitas di Indonesia tidak berjalan secara linear. Clifford Geertz pernah menggambarkan karakter bangsa Indonesia seperti ukiran kayu Jepara. Motifnya bukan melebar keluar, namun rumit ke dalam. Hal ini yang menyebabkan bangsa Indonesia mengalami involusi, bukan revolusi. Tentu saja pandangan ini sangat pesimistis. Namun, Geertz juga tidak sepenuhnya salah. Bangsa kita mempunyai sifat menyortir nilai-nilai baru yang datang dan digabungkan dengan nilai lama. Laiknya penumpang cemas di dalam pesawat yang hendak terbang, bangsa Indonesia seperti menghadapi era lepas landas. Di depan banyak turbulensi. Disrupsi teknologi, perubahan sosial yang cepat, ekonomi yang naik turun. Elite politik menyikapi perubahan-perubahan besar ini dengan meleburkan semua ideologi yang bertentangan ke dalam satu bejana. Soekarno menyatukan nasakom hingga Presiden Jokowi menggabungkan politisi cebong-kampret dalam satu kabinet. Tujuannya agar suasana politik tetap stabil dan teduh dalam menghadapi turbulensi ke depan.

Kita Memang Tidak Pernah Modern

Bruno Latour, seorang antropolog sains dari Prancis, pernah mengeluarkan bukunya yang cukup pretensius, We Have Never Been Modern (1991). Bagi Latour, modernitas ternyata tidak pernah berhasil memisahkan antara alam dan masyarakat, alam dan kebudayaan. Serta spiritualitas dengan urusan duniawi, yang meliputi ekonomi, politik, dan kehidupan sosial. Pandangan ini tentu berlaku kuat di Indonesia yang kehidupan sosial politiknya sangat erat dengan dunia mistis. Ketika menjelang pemilu dan pilkada, ada begitu banyak politikus yang mendatangi dukun dan ”orang pintar”. Para politikus ini menggabungkan dunia tradisionalisme dan modernitas dalam wadah yang sama. Nils Bubandt, seorang antropolog yang melakukan riset tentang relasi jin dan demokrasi di Maluku Utara, mengajukan satu pertanyaan utama dalam bukunya, Demokrasi, Korupsi, dan Makhluk Halus dalam Politik Kontemporer Indonesia (2016). Mengapa demokrasi yang dibangun dengan dasar pengetahuan rasional, di Indonesia justru dicampurkan atau dirasuki dengan kehadiran makhluk halus, ilmu hitam, hantu, jin, dan arwah leluhur. Padahal, sesungguhnya semua ini tidak rasional di mata demokrasi modern?

Di Indonesia, dunia supranatural dan keimanan tidak sepenuhnya terpisah dari kehidupan sosial, politik, dan ekonomi. Masyarakat agraris percaya pada tanggal baik dan buruk dalam bertanam. Masyarakat berburu dan meramu percaya bahwa beberapa jenis pohon tertentu adalah bagian dari kerabat mereka. Sebagian binatang adalah nenek moyang mereka. Hingga masyarakat pekerja perkebunan di Jawa yang mempunyai struktur setan (dhemit) layaknya struktur gender dan ras. James T. Siegel, antropolog Universitas Cornell, yang melakukan penelitian di Malang Selatan menyebutkan dalam bukunya, Naming the Witch (2000), bahwa arwah-arwah keluarga korban kekerasan massal yang dituduh PKI datang ke mimpi keluarga korban dan meminta untuk memaafkan para pelaku kekerasan. Pandangan kulturalis ini tentu saja menafikan pendekatan ekonomi, politik, dan hukum. Dan juga mencederai upaya-upaya rekonsiliasi modern yang tengah diupayakan berbagai aktivis saat ini. Namun, tentu kita tidak bisa menampik bahwa model rekonsiliasi kultural ini toh diam-diam berjalan efektif di mana keluarga korban mengampuni pelaku kekerasan melalui suara-suara dan mimpi dari roh dan arwah pendahulu mereka yang kuburnya entah di mana.

Di ranah politik, bangsa ini berjalan dengan model rekonsiliasi sosial di atas. Ada begitu banyak politikus yang percaya terhadap hal yang kabur seperti hoaks, berita palsu (fake news), teori konspirasi, metode penyembuhan dengan cuci otak, dan berbagai hal yang tidak dapat diukur validitasnya. Pandangan seperti ini memang mempunyai konsekuensi politik yang tidak baik. Ketika terjadi gelombang protes masyarakat terkait dengan undang-undang omnibus law, cipta kerja, protes naiknya harga-harga, hingga demo massa menentang perpanjangan masa jabatan presiden, para politikus melihat semua ketidakpuasan ekonomi dan politik ini seperti cara mereka memercayai jin, makhluk halus, dan suara-suara dari para leluhur. Gerakan-gerakan ketidakpuasan politik ditanggapi dengan memunculkan tuduhan: penumpang gelap, dalang, provokator, yang semuanya ini mempunyai kemiripan dengan jin dan makhluk halus. Samar-samar, tidak dapat diklarifikasi, tidak terukur validitasnya, namun mampu menjadi landasan pembenaran yang efektif. (*)

HATIB ABDUL KADIR

Dosen Antropologi Universitas Brawijaya Malang

Editor : Ilham Safutra

Saksikan video menarik berikut ini:



Close Ads