alexametrics

Teater Virtual, Semata Siasat atau Jelajah Baru?

Oleh SHINTA FEBRIANY*
24 Januari 2021, 17:21:13 WIB

Diskusi Kaleidoskop Teater Indonesia 2020 bertajuk Teater: Pandemi dan Digitalisasi digelar Jumat, 11 Desember 2020, oleh Perkumpulan Nasional Teater Indonesia (Penastri).

PENASTRI didirikan November lalu oleh pegiat teater yang berasal dari berbagai wilayah di Indonesia untuk tujuan membangun ekosistem teater yang lebih demokratis, terprogram, dan mendukung perkembangan ide-ide baru.

Diskusi menghadirkan pembicara Faiza Mardzoeki, Silvester Petara Hurit, Nurul Inayah, Elyda K. Rara, Eka Nusa Pertiwi, I Wayan Sumahardika, serta penanggap Yudi Tajudin dan moderator Ibed Surgana Yuga. Diskusi tersebut merupakan aktivitas publik pertama Penastri yang dihadiri sekitar 130 peserta dari berbagai latar belakang. Sejumlah ihwal terkait siasat teater di masa pandemi dimunculkan. Saya mengurai dan memaknainya di tulisan ini.

Siasat Teater Virtual

Pembicaraan tentang teater virtual atau digital mengisi sepuluh bulan perjalanan pandemi Covid-19 di Indonesia. Sebuah masa krisis, entakan keras bagi pegiat teater yang selama ini melakukan kerja penciptaan teater secara tatap muka. Faiza Mardzoeki, penulis naskah dan sutradara dari Institut Ungu Jogjakarta, menjelaskan situasi tak biasa tersebut sebagai situasi yang dipaksa yang justru memunculkan daya kreatif.

Daya kreatif ditandai Faiza saat penciptaan teater film Waktu tanpa Buku karya Lene Therese Teigen yang diterjemahkannya. Lima sutradara perempuan yang diundang mendiskusikan peran aspek kamera dan estetika teater. Peran dominan aspek kamera di teater di masa ini tidak terhindarkan. Atas dasar tersebut, istilah teater film lantas disematkan. Siasat teater film disebut Faiza sebagai kemungkinan baru teater di masa pandemi.

Silvester Petara Hurit memunculkan pertanyaan atas kolaborasi teater dan film. ’’Sebenarnya, kita menggarap teater atau film?’’ Bagi Silvester, teater memiliki kekhasan sebagai pertemuan langsung yang memberikan kehangatan yang tidak tergantikan oleh kecanggihan media digital. Pada titik itu, teater virtual memberikan ruang untuk dijelajahi sekaligus memperlihatkan watak keterbatasan.

Bersama Seniman Teater Flores Timur (STFT), Silvester membuat pertunjukan teater virtual Tana Tani dalam rangkaian UrFear, Huhu, dan Kerumunan Peer Gynt produksi Teater Garasi. Dalam kondisi terdesak dan waktu singkat, Tana Tani dapat dipentaskan. Ruang yang tadinya tersekat jauh oleh jarak menjadi terbuka. Siasat teater virtual telah memperlihatkan pemaknaan baru atas pertemuan, dialog, interaksi, dan saling membaca dalam konteks teater saat ini.

Siasat teater virtual juga diungkap Nurul Inayah, aktor dan sutradara dari Kala Teater Makassar. Perpindahan ruang teater dari langsung ke virtual tidak serta-merta dilakukan sebab ada situasi baru yang mesti dilihat dan dipelajari. Sejumlah percobaan siasat yang dilakukan Nurul bersama Kala Teater memantulkan pertanyaan, ’’Apakah teater virtual merupakan siasat temporer ataukah bentuk baru teater?’’ Jika ia adalah bentuk baru, sutradara, aktor, dan semua yang terlibat dalam penciptaan teater perlu mempelajari keahlian berbeda, semisal teknik audiovisual.

I Wayan Sumahardika, sutradara dan penulis naskah dari Teater Kalangan Bali, melihat terputusnya koneksi dengan ruang nyata dan kemudian beralih ke ruang virtual. Suma mengidentifikasi hal-hal yang dapat dibawa ke ruang digital dan yang ditinggalkan serta mengeksplorasinya dalam konteks dramaturgi ruang digital, melihat mata kamera, angle penonton.

Baca juga: Riset Nabi Palsu hingga Pekerja Rumahan

Jelajah Baru Teater

Dari berbagai wacana yang digulirkan dalam diskusi, ada beberapa kecenderungan berpikir atas situasi yang dihadapi teater saat ini. Sebagian besar melakukan siasat pertunjukan teater virtual dengan penyesuaian atas praktik penciptaan yang telah dilakukan sebelumnya meski ada juga yang menolaknya. Saya pikir pandemi telah memantulkan banyak kekosongan dalam diri dan lingkungan kita dan persoalannya kemudian ialah bagaimana mengisi kekosongan. Dan teater adalah jalan yang kita miliki.

Selama pandemi masih berlangsung, saya pikir teater virtual adalah siasat yang paling memungkinkan untuk ditempuh. Teater virtual merupakan ruang yang paling aman untuk menyatakan gagasan dan imajinasi. Teater virtual tidak menggantikan teater secara langsung.

Mungkin mulanya teater virtual semata siasat, tapi kemudian kita bisa melihat dan menyadari ada hal-hal baru yang ditampakkan di sana. Teater virtual adalah siasat sekaligus jelajah baru. Banyak kemungkinan yang dimunculkan, mulai pengetahuan dan wawasan tentang teknologi dan audiovisual, istilah baru, hingga persentuhan teater dengan seni lainnya. Jelajah baru tersebut meluaskan jangkauan teater untuk tidak hanya berkutat dengan dirinya.

Teater virtual sanggup menjangkau penonton yang tersebar secara geografis yang sulit dimiliki teater langsung. Teater virtual membiarkan dirinya diintervensi oleh penonton yang tak terbayangkan itu. Pada saat yang sama, teater virtual mesti melepaskan dirinya dari cengkeraman teater langsung.

Pandemi memaksa kita untuk membayangkan kembali teater. Mengalami pandemi berarti mengalami siasat baru. Sebuah siasat teater yang memerlukan sejumlah penyesuaian, negosiasi, dan keterbukaan. Tidak semata agar kita tetap bisa hidup di dalam teater, tetapi terutama agar teater tetap terhubung dengan semesta.

Teater virtual telah (dan akan) menjadi penanda penting perjalanan teater Indonesia. Pertanyaan yang tersisa adalah: Apakah teater virtual memiliki masa depan setelah pandemi Covid-19 menjadi masa lalu? Kita tunggu. (*)

*) SHINTA FEBRIANY, Sutradara teater dan ketua umum Penastri

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Ilham Safutra

Saksikan video menarik berikut ini: