Vagabond Metafisika untuk Kelangsungan Bumi dan Manusia*

Oleh CARLA BIANPOEN
22 Januari 2023, 09:08:58 WIB

Perupa kawakan Teguh Ostenrik pernah mengatakan, I don’t make art for a living, but I live to make art (Aku tidak membuat karya seni untuk hidup, tetapi aku hidup untuk membuat karya seni). Dia sering membuat heboh dengan karya yang dianggap ”aneh”, ”gila”, ataupun absurd.

TEGUH Ostenrik yang lahir di Jakarta pada 1950 memang bukan perupa yang suka jalan di koridor umum. Dia memilih jalan alternatif, mengikuti pengetahuan, pikiran, dan rasanya sendiri. Pernah almarhumah Ibu Toeti Heraty dan Romo Magnis Suseno menyebutnya sebagai vagabond metafisika. Suatu sebutan yang pantas, apalagi karena kedua filsuf itu menganggap Teguh membuka jalan dan lahan untuk kebebasan berpikir ke arah imajinasi dan realisasi wawasan dunia baru.

Karya Teguh selama 40 tahun memang membuktikan bahwa dia tidak ikut-ikutan. Kalaupun dia telah melanglang buana ke berbagai negara, menyelami bermacam gaya seni dunia, dan menentukan gayanya tersendiri, hal itu menjadikan karyanya fascinating juga membuka pikiran pemirsanya.

Mungkin ejekan dosen di studi kedokteran Trisakti menjadi kenyataan. PR untuk dosen itu begitu tidak memuaskan sehingga dia diejek: kamu pasti bisa menjadi artis yang hebat.

Betul saja, Teguh meninggalkan dosen itu dengan tekad baru. Setelah bekerja beberapa lama di Jerman untuk mengumpulkan dana yang dibutuhkan untuk belajar seni, dia masuk ke Hochschule der Kunst di Berlin. Dia lalu melanglang buana di berbagai negara dan menyelami berbagai gaya seni dunia. Kemudian seperti kita ketahui karyanya memang lain daripada yang lain.

Karyanya yang bagus tentu tak terhitung. Tapi mungkin seri karya Homo Sapiens merupakan karya yang paling menggetarkan. Dengan memakai warna bumi ditambah nuansa oker dan merah sebagai warna tipikal dari zaman kuno (antiquity), karya Teguh mengingatkan ke budaya Maya dari Meksiko, Asmat dari Papua, dan Toraja di Sulawesi Selatan.

Saya teringat ketika ia membuat instalasi bertajuk Alam Bawah Air di Galeri Nasional pada 1989. Dia menjadikan seluruh ruangan gelap dan publik dibuat bisa merasakan sensasi alam bawah air.

Yang nyinyir waktu itu kurang menyadari bahwa itulah suatu momentum untuk kali pertama ide instalasi masuk ruang pameran. Dan kemudian menjadi momentum dalam sejarah seni rupa Indonesia.

Sesuatu yang khas dalam karya Teguh adalah dimensi manusia yang menjadikan karyanya mencerahkan. Seperti ketika Tembok Berlin jatuh, Teguh segera ke Berlin dan membeli beberapa bongkahan untuk dibawa ke Jakarta.

Dia lalu membuat instalasi seni di tempat RPTRA (ruang publik terpadu ramah anak) sebagai peringatan akan akibat parahnya kekuatan pemecah belah yang saat itu juga berkecamuk di Jakarta.

Begitu juga dengan karya dan proyek pentingnya mengenai terumbu karang. Ketika melakukan diving di perairan Senggigi, Lombok, pada 2013, dia kaget karena ikan, lobster, dan lain-lain ternyata sudah tidak ada. Dan diving yang dialaminya mirip diving ke gurun pasir. Tak ada lagi lobster dan ikan yang meramaikan alam bawah air seperti yang pernah dilihatnya.

Terpukul karena terumbu karang yang menghidupi kehidupan manusia dan biota lain sudah nyaris punah, dia take action. Yakni untuk mengembalikan paradise bawah air yang tak dapat dihapuskan dari memorinya.

Dia lalu memulai museum bawah air yang disebut ARTificial Reef Park untuk patung seni terbuat dari scrap metal. Ia nekat mengumpulkam scrap metal sebanyak-banyaknya untuk membuat patung bawah laut pertamanya.

Pada launching Mei 2014 sebagai Domus Sepiae, kini proyek itu sudah mencapai edisi yang ke-12. Kali ini dinamakan Kurma Amerta yang ingin ditenggelamkan di Desa Bondalem, Tejakula, Bali Utara.

Tiga patung penyu (satu penyu berdimensi 200 cm x 350 cm x 50 cm) sedang dipamerkan di pameran bersama Artina (digelar sampai 19 Februari mendatang) di Sarinah Mall lantai 6, Jakarta. Patung itu menunggu kolektor untuk diadopsi. Masing-masing patung penyu ditawarkan seharga Rp 19,9 juta per ekor dan itu digunakan untuk membiayai pembuatannya. Sebagai catatan, patung penyu yang sedang dipamerkan itu merupakan prototipe untuk target sejumlah 399 patung penyu yang pada waktunya akan diturunkan ke laut di Desa Bondalem.

Nah, perlu dicatat bahwa setiap pembentukan habitat terumbu karang konsepnya disesuaikan dengan alam dan kepercayaan setempat. Di tempat Bali Utara, misalnya. Penyu edisi ke-12 dipercayai menjadi penjunjung semesta kehidupan.

Diharapkan Teguh Ostenrik dan Yayasan Terumbu Rupa yang telah melepaskan karyanya di sebelas tempat sebelumnya dapat melanjutkan penjagaan habitat laut sampai sebagian besar dari kelautan Nusantara dapat hidup kembali habitat lautnya.

Sementara itu, kita terus menunggu gebrakan Teguh yang baru, segar, dan membuka wawasan. (*)

CARLA BIANPOEN, Penulis dan pengamat seni rupa kontemporer

*) Judul asli: Teguh Ostenrik, Vagabond Metafisika untuk Kelangsungan Bumi dan Manusia. Judul asli terpaksa dipenggal karena keterbatasan jumlah karakter di kolom judul.

Editor : Ilham Safutra

Saksikan video menarik berikut ini:



Close Ads