alexametrics

Takdir Peristiwa Teater

Oleh ANDY SRI WAHYUDI
22 Januari 2022, 16:02:51 WIB

Dear An yang baik…

Kuharap kabarmu baik-baik saja

bersama keluarga dan orang-orang tercinta.

Di sini kabarku jua baik-baik saja. Tiada kurang suatu apa…

SEPOTONG kalimat pembuka dalam surat itu adalah kalimat dari sahabat dekat saya, Ji, yang berada jauh dari tempat saya tinggal. Kalimat yang ditulis dengan pulpen bertinta biru sebagai tanda kangen. Waktu itu warna menjadi tanda yang begitu impresif. Warna dapat menerbitkan berbagai macam rasa: merah pertanda marah, hitam keadaan baik-baik saja, biru melambangkan kangen. Sang pembaca surat pasti senyum-senyum sendiri saat membacanya.

Keindahan seperti itu hanya dapat dirasakan generasi remaja sebelum milenial. Sebab, budaya surat-menyurat telah tergusur teknologi. Media surat di atas kertas telah bergeser ke media digital. Lantas, bagaimana pergeseran media dan budaya itu terjadi?

Teknologi komunikasi berjalan merambat, namun pasti. Manusia semakin ingin serbacepat dan simpel. Munculnya teknologi handphone segera disambut dengan antusias. Hampir semua orang memiliki alat komunikasi tersebut. Handphone tak hanya menggeser surat, namun juga telepon umum, radio, bahkan televisi. Semua dilipat-lipat dalam sebuah kotak kecil dengan perangkat sistem bernama Android atau iOS.

Begitulah sekelumit cerita perjalanan media yang saya alami. Kini saya hidup di zaman yang membuat saya harus meng-upgrade pikiran agar tak ketinggalan zaman karena dapat berpengaruh pada dunia kerja dan kreativitas yang saya lakoni, yakni dunia seni pertunjukan: teater.

Teater dan Media Digital

Saat ini saya bekerja di bidang seni pertunjukan, khususnya teater. Seni yang mempunyai hukum di mana harus ada pemain, penonton, dan panggung. Jika salah satu tidak ada, peristiwa itu akan gagal menjadi peristiwa teater. Dan peristiwa itu terjadi secara langsung: bertemu tatap muka, tidak melewati perantara media lainnya.

Akan tetapi, di awal tahun 2020, Indonesia mengalami bencana berupa persebaran Covid-19. Sebetulnya itu bencana dunia yang diawali dari Wuhan, Tiongkok, pada tahun 2019. Sejak saat itu, seperti sedang terjadi sebuah revolusi internasional. Namanya revolusi sunyi sebab dunia menjadi lengang. Tak boleh ada kerumunan dan setiap orang wajib memakai masker untuk mengendalikan persebaran virus.

Perubahan itu sangat berefek pada dunia pertunjukan yang saya geluti. Panggung menjadi sepi seperti rumah hantu. Para pelaku seni menganggur dan event organizer bangkrut. Tak ada yang dikerjakan kecuali rebahan di dalam rumah. Berangkat dari suasana itu, para pelaku seni mulai berpikir bagaimana agar kegiatan seni tetap berjalan. Para pelaku seni juga berpikir untuk melangsungkan kegiatan seni agar perekonomian –rumah tangga– bergeliat kembali. Agar hidup kembali bangkit di tengah kesunyian.

Beramai-ramai orang menempuh jalan digital. Kebijakan pemerintah juga menyarankan demikian. Seni pertunjukan yang semula berlangsung di panggung pertunjukan beralih ke media digital. Karya tari, teater, pantomim, monolog, musik, bahkan pameran seni rupa diselenggarakan secara online atau ditayangkan via media sosial. Diskusi seni juga berlangsung secara online. Semua serba-online. Media digital menjadi jawaban atas keadaan yang serbasulit. Namun, apakah benar itu jawaban yang tepat? Ya, sangat tepat. Media digital menjadi jalan alternatif untuk mewujudkan gagasan di masa pandemi.

Kerja kembali dimulai, bekerja dengan peranti teknologi berupa kamera untuk kemudian diedit, lalu diunggah via media sosial, lalu di-share atau dibagikan link-nya agar dapat dilihat banyak penonton.

Karya-karya panggung tak lagi menjadi peristiwa teater yang dilihat secara langsung saat itu juga, tanpa dibatasi kaca seperti di TV atau HP. Para aktor tak lagi berakting di hadapan penonton yang duduk di depan panggung, melainkan berakting di depan kamera. Pertunjukan di panggung teater berubah menjadi seperti tontonan layar kaca lewat mata kamera.

Lantas, apakah nasib seni pertunjukan akan seperti kegiatan surat-menyurat dua dekade silam, dalam arti seni pertunjukan akan menjadi kenangan? Ternyata peralihan media tak sepenuhnya tepat karena tak bisa membangun peristiwa teater di mana setiap unsur berdialog secara langsung saat itu juga. Meski demikian, peralihan media tersebut mempunyai keuntungan karena dapat disaksikan secara luas dengan ukuran layar yang berbeda-beda. Daya jangkaunya bahkan ke seluruh dunia. Ia akan terdokumentasikan selamanya dan sewaktu-waktu dapat diulang atau diputar kembali. Kapan pun dan di mana pun. Teater dapat dibawa ke mana-mana.

Akan tetapi, apa pun namanya, entah itu keuntungan atau kelebihan, peristiwa peralihan dari panggung menuju media digital tetaplah gagal karena tak dapat membentuk peristiwa teater. Peralihan media itu hanya menjadi tawaran atas keadaan yang tak memungkinkan untuk berproduksi lantaran pandemi. Pada akhirnya, peralihan ke media digital menjadi jalan tengah: semacam dokumentasi dengan teknik penyajiannya yang lebih tergarap. Sebab, peristiwa teater memuat banyak nilai yang tak dapat diraih di dunia digital. Nilai-nilai tersebut ada pada pertemuan antar pelaku seni dan penonton, intensitas aktor yang utuh, sistem kerja pemanggungan yang sekali jadi, serta apresiasi penonton lewat indra dan tubuh. Nilai-nilai itu saling berdialog satu dengan yang lainnya dalam satu kesatuan ruang.

Peristiwa teater tidak dapat tergusur ataupun tergeser oleh media digital seperti surat-menyurat. Senyatanya memang tidak mungkin. Ia pasti kembali pada takdirnya: berdialog secara langsung. (*)

ANDY SRI WAHYUDI, Penulis dan sutradara seni pertunjukan

Editor : Ilham Safutra

Saksikan video menarik berikut ini: