alexametrics

Takdir Peristiwa Teater

Oleh ANDY SRI WAHYUDI
22 Januari 2022, 16:02:51 WIB

Beramai-ramai orang menempuh jalan digital. Kebijakan pemerintah juga menyarankan demikian. Seni pertunjukan yang semula berlangsung di panggung pertunjukan beralih ke media digital. Karya tari, teater, pantomim, monolog, musik, bahkan pameran seni rupa diselenggarakan secara online atau ditayangkan via media sosial. Diskusi seni juga berlangsung secara online. Semua serba-online. Media digital menjadi jawaban atas keadaan yang serbasulit. Namun, apakah benar itu jawaban yang tepat? Ya, sangat tepat. Media digital menjadi jalan alternatif untuk mewujudkan gagasan di masa pandemi.

Kerja kembali dimulai, bekerja dengan peranti teknologi berupa kamera untuk kemudian diedit, lalu diunggah via media sosial, lalu di-share atau dibagikan link-nya agar dapat dilihat banyak penonton.

Karya-karya panggung tak lagi menjadi peristiwa teater yang dilihat secara langsung saat itu juga, tanpa dibatasi kaca seperti di TV atau HP. Para aktor tak lagi berakting di hadapan penonton yang duduk di depan panggung, melainkan berakting di depan kamera. Pertunjukan di panggung teater berubah menjadi seperti tontonan layar kaca lewat mata kamera.

Lantas, apakah nasib seni pertunjukan akan seperti kegiatan surat-menyurat dua dekade silam, dalam arti seni pertunjukan akan menjadi kenangan? Ternyata peralihan media tak sepenuhnya tepat karena tak bisa membangun peristiwa teater di mana setiap unsur berdialog secara langsung saat itu juga. Meski demikian, peralihan media tersebut mempunyai keuntungan karena dapat disaksikan secara luas dengan ukuran layar yang berbeda-beda. Daya jangkaunya bahkan ke seluruh dunia. Ia akan terdokumentasikan selamanya dan sewaktu-waktu dapat diulang atau diputar kembali. Kapan pun dan di mana pun. Teater dapat dibawa ke mana-mana.

Akan tetapi, apa pun namanya, entah itu keuntungan atau kelebihan, peristiwa peralihan dari panggung menuju media digital tetaplah gagal karena tak dapat membentuk peristiwa teater. Peralihan media itu hanya menjadi tawaran atas keadaan yang tak memungkinkan untuk berproduksi lantaran pandemi. Pada akhirnya, peralihan ke media digital menjadi jalan tengah: semacam dokumentasi dengan teknik penyajiannya yang lebih tergarap. Sebab, peristiwa teater memuat banyak nilai yang tak dapat diraih di dunia digital. Nilai-nilai tersebut ada pada pertemuan antar pelaku seni dan penonton, intensitas aktor yang utuh, sistem kerja pemanggungan yang sekali jadi, serta apresiasi penonton lewat indra dan tubuh. Nilai-nilai itu saling berdialog satu dengan yang lainnya dalam satu kesatuan ruang.

Peristiwa teater tidak dapat tergusur ataupun tergeser oleh media digital seperti surat-menyurat. Senyatanya memang tidak mungkin. Ia pasti kembali pada takdirnya: berdialog secara langsung. (*)

Editor : Ilham Safutra

Saksikan video menarik berikut ini:

Close Ads