alexametrics

Berjalan Mundur di Karimata

Oleh BENNY ARNAS
21 November 2021, 11:07:46 WIB

Semua berjalan mundur di Karimata. Saya membuka kelas menulis di Karimata dengan membawa-bawa Andrea Hirata, Asma Nadia, dan Tere Liye sebagai pemantik. Mereka menggeleng dan balas melongo ketika saya mengonfirmasinya dengan tatapan tak percaya tentang ketaktahuan mereka dengan nama-nama yang karya-karyanya dilabeli best seller (baca: dibaca sejuta umat!) itu.

KETIKA saya membawa-bawa film sebagai pendekatan, tidak ada satu pun yang tahu (apalagi pernah menonton!) film-film seperti Laskar Pelangi, Ayat-Ayat Cinta, Surga yang Tak Dirindukan, atau Habibie Ainun!

”Ikatan Cinta,” kata Karin (15) dan Ambai (20) dengan wajah memerah. Ekspresi itu, apakah muncul karena gugup atau bangga dengan jawabannya, saya tidak tahu.

”Dilwale,” kata Dul (22), peserta kelas menulis yang rela tidak menangkap cumi demi mengikuti kelas menulis.

Sejak kapan sinetron dan film India menjadi candu bagi remaja atau anak muda? Pada saya, itu terjadi ketika SMP, dua puluhan tahun silam.

Editor : Ilham Safutra




Close Ads