alexametrics

Seabad Henk Ngantung (1 Maret 1921–1 Maret 2021)

21 Maret 2021, 15:09:31 WIB

Tugu adalah sebuah peringatan. Penanda pada suatu peristiwa, simbol penghormatan pada yang berhak, dan pengingat awal peradaban baru.

TUGU menjadi rangkaian tumpukan batu dan bata yang ”dihidupkan” hingga seakan bernyawa. Pada tugulah terkadang keyakinan dan harapan muncul menjadi makna.

Bung Karno pernah memiliki keyakinan seperti itu. Ia benar-benar menempatkan tugu bukan hanya sebagai tonggak. Tugu juga didirikan sebagai lambang. Pengingat bagi yang lupa pada api revolusi kemerdekaan, atau juga penanda dimulainya perjuangan baru.

Untuk memperindah Kota Jakarta dalam menghadapi Asian Games IV tahun 1962, Bung Karno membawa serta Henk Ngantung melakukan kunjungan kenegaraan. Henk adalah wakil gubernur Jakarta saat itu, sedangkan Jakarta sendiri akan menjadi tuan rumah perhelatan akbar olahraga se-Asia. Tak ada alasan lain bagi Bung Karno saat menunjuk Henk Ngantung menjadi wakil gubernur Jakarta pada awal tahun 1960. Si Bung berharap Jakarta dapat menjadi kota yang lebih estetis. Harapannya terletak pada sosok Henk Ngantung.

Henk yang seorang pelukis terkenal saat itu adalah seniman kesayangan Bung Karno. Lukisannya berjudul ”Sang Pemanah” adalah lukisan monumental. Disebut lukisan monumental karena lima hal. Pertama, lukisan itu dihasilkan saat masih pendudukan Jepang. Kedua, saat dipamerkan, Bung Karno sudah menyatakan akan membeli. Ketiga, Henk bilang bahwa lukisan itu belum jadi. Ia butuh model untuk menyempurnakan bagian lengan si pemanah. Keempat, Bung Karno menawarkan dirinya sebagai model. Kelima, lukisan diangkut ke rumah Bung Karno dan menjadi saksi peristiwa proklamasi 17 Agustus 1945. Ya, Henk adalah sosok yang dicari Bung Karno untuk mewujudkan estetika Kota Jakarta.

Asian Games IV tahun 1962 akan menjadi pertaruhan bagi Indonesia. Dua tahun sebelum digelar, siapa pemegang kekuasaan Jakarta menjadi sangat penting. Isu suksesi yang melatarbelakangi sepanjang tahun 1959 berakhir dengan keputusan bahwa Kol dr Soemarno diangkat sebagai gubernur Jakarta. Sedangkan Henk Ngantung ditunjuk Soekarno untuk menjadi wakil gubernur Jakarta.

Jika membuka buku Sketsa-Sketsa Henk Ngantung (1981), akan pahamlah kita mengapa Henk yang dipilih Bung Karno. Sketsa yang bagi banyak orang diinterpretasikan sebagai gambar yang belum jadi atau hanya sebuah bagian dari perencanaan, namun berbeda jika di tangan Henk. Henk memperlakukan sketsa sebagai karya yang telah jadi. Sketsa menjadi gambaran yang paling jujur, tanpa polesan. Sketsa juga menjadi penerjemah bagi ribuan tanda yang ditangkap mata.

Sebagai pengganti mata lensa di kamera, sketsa Henk Ngantung juga menjadi saksi atas berbagai peristiwa penting di seputar lahirnya republik ini. Perundingan Linggarjati, Renville, Kaliurang, serta tokoh-tokoh yang hadir dalam perundingan-perundingan digambarnya. Tak ketinggalan tokoh menteri penting saat itu, A.R. Baswedan, yang juga kakek gubernur DKI Jakarta sekarang, Anies Baswedan, tak luput dari sketsanya. Bagi Bung Karno, Henk Ngantung-lah yang bisa menerjemahkan gagasan dan keinginannya.

Begitu Henk Ngantung dilantik menjadi wakil gubernur Jakarta, ia diajak Soekarno melakukan kunjungan kenegaraan ke berbagai negara. Kota-kota di Meksiko dan Brasil memikat perhatian Henk Ngantung. Kota-kota yang sangat memperhatikan taman kota dan monumen. Untuk inilah Bung Karno membutuhkan Henk dalam merekam secara optis keunggulan estetis kota-kota di dunia. Sebagai tuan rumah Asian Games, tentu saja mendandani wajah Kota Jakarta adalah keharusan. Berdiri setara dengan bangsa lain, itu misi utamanya.

Sketsa Tugu Selamat Datang di depan Hotel Indonesia adalah hasil dari mata elangnya. Bersama Edhi Soenarso dan Trubus yang turut membuat tugu bersejarah itu, Henk membuat sketsanya. Tugu itulah yang diproyeksikan Bung Karno untuk menyambut tamu-tamu atlet Asian Games 1962 yang akan berdatangan ke Jakarta.

Terkait dengan tugu, ada cerita yang menarik seputar pembuatan Tugu Nasional. Kini kita mengenalnya sebagai Monumen Nasional (Monas). Saat Bung Karno ingin ada sebuah monumen yang bisa dilihat dari jarak ratusan kilometer, kaum oposan secara bertubi-tubi menyerang gagasan itu. Dianggap tak memiliki rasa atas kondisi ekonomi bangsa saat itu menjadi alasan terbesar kaum oposan.

Namun tidak bagi kelompok-kelompok seniman, terutama dari Lekra. Pembangunan monumen atau tugu justru dilihat sebagai upaya jangka panjang menghadirkan wajah kepribadian bangsa ke negara lain. Henk yang saat itu masih duduk di Dewan Nasional (1955) dengan sigap mengumpulkan seniman-seniman ke istana. Kalimatnya yang masih menjadi ingatan adalah: ”Beras perlu, tetapi batu pun bernilai!”.

Baca juga: Seni Jalanan di Jalan Ranciere

Singkat cerita, kini kita masih bisa menikmati Monas dan bangga dengan segala cerita di dalamnya. Meski diorama di Monas menghilangkan lukisan ”Sang Pemanah” yang menjadi latar saat Soekarno membacakan teks proklamasi. Lukisan monumental itu diganti dengan lukisan pemandangan alam yang entah lukisan siapa. Ironis bagi Henk Ngantung, mantan gubernur Jakarta, yang meninggalkan banyak warisan estetika bagi ibu kota. (*)

OBED BIMA WICANDRA

Dosen Desain Komunikasi Visual UK Petra. Kini sedang menempuh studi doktoral di Kajian Seni dan Masyarakat Universitas Sanata Dharma Jogjakarta.

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Ilham Safutra




Close Ads