alexametrics

Yang Tercekam di Ambang (Bagian Luar Pertunjukan)

Oleh BERI HANNA
19 Juni 2022, 06:46:51 WIB

Saya hebat dalam membicarakan orang lain kepada teman kuliah, kadang saya terlampau jago bercerita sampai lupa apa saja yang sudah saya katakan.

TAPI, saya dikenal pendiam oleh teman-teman komunitas menulis di Solo. Bila saya sendiri di depan laptop, sering saya teringat orang-orang tertentu untuk kemudian menulis puisi. Kadang, satu–dua puisi saya kirimkan kepada yang bersangkutan. Di waktu lain, saya merasa sedih dan telanjang adalah diri saya yang sesungguhnya, bukan melukis atau bernyanyi sendiri seperti apa yang sering saya bayangkan.

Beberapa kali setelah lebih dulu tidak menyadari sikap di posisi tertentu seperti sebagian contoh di atas, saya baru mengerti mengapa Erving Goffman, sosiolog yang menghabiskan waktunya memperhatikan tingkah manusia, mengklaim potongan-potongan tindakan atau adegan semacam ini dengan nama dramaturgi; panggung depan dan belakang.

Ada satu–dua kawan mengaku kenal saya luar dalam. Akan tetapi, baiknya pengakuan itu dikhawatirkan karena sebetulnya saya tidak kenal siapa diri saya ini. Begitu juga dengan apa yang saya saksikan dari pertunjukan Yang Mencengkeram dan Hilang di Ambang sutradara Dendi Madiya pada Sabtu, 28 Mei 2022, di Padepokan Seni Bagong Kussudiardja.

Aktor perempuan seperti tidak mengenal siapa dia, di mana dia, mengapa dia, dan tubuhnya bertindak demikian selama pertunjukan. Dia hanya berdiri, lalu duduk dan seolah hilang di ambang bagai tidak pernah ada. Dia melambaikan tangan untuk kematian orang-orang, lalu membutuhkan dirinya yang lain dalam ruang sakral. Silang posisi dari potongan adegan ini seperti panggung depan dan belakang dramaturgi Erving Goffman yang penuh kejutan. Saya tidak pernah kenal siapa saya, begitu juga dengan aktor perempuan di pertunjukan.

Apakah akting –terlepas menjadi tontonan atau tidak– masih punya daya untuk membawa publik dalam pengaruh kuat atas sebuah fenomena semacam sihir atau racun yang membunuh? –dalam konteks ini membunuh perasaan-perasaan tertentu. Saya tahu, dari banyak orang yang saya kenal suka terjun ke dalam tontonan yang sedang ramai dibicarakan. Dari video pendek di Instagram, TikTok, dan YouTube, skema adegan muncul berlompatan di mana-mana. Kerja semacam ini pelan-pelan seperti ingin membunuh kerja akting di atas panggung.

Apakah akting dari ruang pertunjukan yang disusun, lalu menjadi tontonan, tidak bisa melesat seperti akting ruang virtual yang tersusun dengan format digital aktual masa kini? Mari simak sekian banyak video pendek. Dalam beberapa detik, suasana langsung kuat terbangun, tidak terkecuali video teks.

Proses layout dan teknik digital seperti memudahkan segala narasi bercampur secara acak. Bahkan seperti lebih gampang dibaca walaupun potongan-potongan terjal antara satu gambar dan gambar lain. Sedangkan menonton kerja teater, bagi beberapa kawan yang saya kenal pernah berkata: membutuhkan energi dan pembacaan kuat untuk menyamakan maksud dan tujuan. Untuk ini, saya tidak begitu paham dengan apa yang dimaksud beberapa kawan saya.

Dalam rentang panjang, setelah sering bergelut dengan dunia virtual, potongan-potongan laku atau akting semakin terdesak ke dalam ruang sempit sekaligus penanda realitas baru dari pengaruh visual yang belakangan sudah bertebaran, lebih cepat. Konteks atau cara kerja semacam ini masuk dan bersanding ke dalam pertunjukan Yang Mencengkeram dan Hilang di Ambang. Terlihat di beberapa adegan yang menggeser pola gamang dan goyah ke dalam narasi bentuk tubuh, bahkan teks oral.

Realitas ketidakpastian, yang sulit dipegang seperti teknik pembuatan video atau unsur-unsur tambahan editing, muncul bersambung silang ke dalam adegan dari tubuh yang melambaikan tangan dan wujud benda keseharian (kadang versi abstrak) yang dihadirkan.

Sebagai contoh realitas ketidakpastian yang saya maksud, sebutlah panci-panci penyok dari adegan yang dipukul dalam pertunjukan bukan realitas yang bisa kita temukan di keseharian. Tapi, ini realitas teknik yang hadir dari konten video setelah lolos dari skema realitas pergelutan dengan tragedi, ironi, juga histeria manusia.

Hal-hal semacam ini, di antaranya keluar masuk menjadi pertunjukan utuh, bersambung silang menandakan jarak tempuh pertunjukan, semakin menyentuh hal lain yang tidak terpikirkan.

Aktor dan akting yang berlangsung mengingatkan saya kepada keasingan posisi dan cara bersikap. Saya sering lupa apa bahasa yang sudah saya siapkan untuk bercakap panjang lebar kepada orang-orang yang ditemui, juga mudah menjadi diri saya yang lain ketika posisi mendesak untuk berperilaku ke dalam sikap asing.

Mari sebentar bergeser ke hari Minggu, 29 Mei 2022, di Museum Louvre. Lukisan Mona Lisa dilempari kue oleh laki-laki yang menyamar menjadi perempuan. Apakah tindakan akting dan laku –setelah melempar kue– sudah membentuk laki-laki itu untuk berteriak mengajak orang kembali melihat bumi?

Saya sering melihat, baik drama panggung atau arsip, dokumenter, juga realitas akting tanpa jembatan akting, menggeser orang-orang untuk menepatkan diri ke dalam ruang bebas sekaligus sunyi dan mencengkeram. Saya dan beberapa orang terlihat mudah goyah untuk digeser atau dikendalikan oleh keterimpitan cara membaca. Sering kali, bahasa menjadi kepentingan untuk menuju gelanggang raksasa produksi massal sebuah ancaman.

Pertunjukan Dendi Madya membawa teka-teki kematian dari pandangan masyarakat. Obsesi memecahkan misteri muncul dalam wahana pembacaan salin tempel yang menjebak saya untuk percaya dan tidak percaya.

Aktor di atas panggung hidup dari realisme bahasa berita media online dan cetak, video, dan gambar arsip. Gerak tubuh aktor bukan seni rupa atau tarian, tapi tersusun atas realitas bahasa produksi media. Dialog dan bunyi para aktor terdengar tidak asing, bahkan terlampau familier, terlebih dalam kurun waktu satu tahun belakangan ini. (*)

BERI HANNA, Penonton teater

Editor : Ilham Safutra

Saksikan video menarik berikut ini:

Close Ads