alexametrics

Paus Pergi, Paman Datang

Oleh ANINDITA S. THAYF, Novelis dan esais
17 Oktober 2021, 07:21:48 WIB

Dalam ranah kesusastraan kita, peran pembaptis mesti selalu hadir dan dihadirkan. Kehadirannya dianggap perlu untuk menahbiskan sebuah karya dengan penilaian baik atau buruk yang, tentu saja, sesuai ukuran pembaptis. Maka lahirlah istilah ”paus” sastra.

PASCA kemerdekaan, Mh. Rustandi Kartakusuma (1957) memperkenalkan istilah pijpers yang berarti peniup seruling dalam esainya. Rustandi menautkan istilah ini dengan kritikus sastra asal Negeri Belanda. Menurutnya, tugas pijpers adalah memberikan penilaian tentang karya sastra yang ditulis pengarang Indonesia. Legitimasi para pijpers ini begitu kuat. Pendapat-pendapat mereka dijadikan pegangan sehingga, sebagaimana dikatakan Rustandi: ”Jika seruling lambat lagunya, lambat pula kita berdansa, bila seruling cepat, cepat pula kita. Dengan kata lain, kita hanya pembuntut.”

Sayangnya, para pijpers ini tidak bisa terus-terusan ”mengasuh” sastrawan Indonesia. Maka dilahirkanlah ”paus” sastra Indonesia: H.B. Jassin. Dengan tugas pokok serupa para kritikus Belanda, yaitu membaptis sastrawan Indonesia, baik lewat majalah Kisah atau Horison maupun lewat buku semacam Kesusastraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Esei. Sang paus pula yang membaptis para sastrawan yang hendak masuk ke dalam daftar Angkatan Pujangga Baru, Angkatan 45, dan Angkatan 66. Di bawah tekanan Orde Baru, dia pula yang membuang sastrawan-sastrawan Lekra dari Gema Tanah Air. Dengan kata lain, sang paus inilah yang menentukan sastrawan mana yang harus diangkat dan mana yang harus disingkirkan dari peta sastra Indonesia.

Berbeda dengan para pijpers yang menyerahkan tongkat suci pembaptis kepada H.B. Jassin setelah meninggalkan tanah jajahan mereka tercinta, sang paus sastra tidak pernah menunjuk penggantinya. Otoritasnya tidak diwariskan kepada siapa pun. Alhasil, tongkat suci itu seolah menguap usai sang paus sastra tunggal tiada.

Apa yang terjadi selanjutnya adalah ramailah muncul para Mas, Bang, dan Prof dengan huruf kapital lambang penokohan yang suci dalam jagat kesusastraan kita. Kesucian yang mereka dapat dari tongkat pembaptis buatan masing-masing yang diperoleh entah dari kesenioritasan, posisi dalam kelembagaan, ataupun gelar akademis. Sebagaimana yang terjadi kepada para pijpers dan sang paus, mereka juga muncul dengan pengekor dan jagoan masing-masing, bahkan media.

Editor : Ilham Safutra




Close Ads