alexametrics

”Jangan Lupa Bintangnya, Kak!”

Oleh: EKA KURNIAWAN
14 November 2021, 09:06:50 WIB

Selepas menerima bingkisan makanan yang saya pesan secara daring, si pengemudi ojol sambil tersenyum berpamitan berkata, ”Jangan lupa bintangnya, Kak!”

KITA sering mendengar permohonan semacam itu. Tak semata-mata minta bintang sebetulnya. Lebih tepat ia meminta peringkat lima bintang di aplikasi layanannya, seperti mahasiswa berharap memperoleh nilai maksimal A+.

Baca juga:
Horor Bahasa

Jika ia tak membuang-buang waktu di jalan, tak membuat makanan kita tumpah tak keruan, tak berkata-kata yang membuat kita tak nyaman, umumnya kita dengan senang hati memberinya lima bintang. Itu sangat berarti bagi si pengemudi ojol, mengingat rata-rata bintang yang diperolehnya akan menentukan kemungkinan ia memperoleh tawaran pesanan dari algoritma aplikasi.

Sekilas itu cara yang jitu untuk mengukur kinerja seseorang. Lima bintang berarti bekerja dan berperilaku sangat baik, sementara memperoleh satu bintang berarti buruk. Orang akan terdorong untuk menjaga kinerjanya, memperbaikinya jika memperoleh nilai rendah.

Di tengah dunia yang semakin terdigitalisasi dan terkoneksi ke internet, bentuk-bentuk peringkat ini semakin umum kita temukan. Tak hanya untuk layanan jasa seperti kasus pengemudi ojol yang mengantar makanan, tapi juga untuk barang. Masyarakat pengguna jasa atau pembeli produk memiliki kuasa untuk ikut mengontrol kualitas yang diperlukan.

Editor : Ilham Safutra




Close Ads