alexametrics

Memakan atau Dimakan Adalah Pertanyaan

Oleh EKA KURNIAWAN
13 Desember 2020, 13:30:09 WIB

Lelaki yang mendekap buku edisi sampul keras Don Quixote itu terbangun di sel nomor 48. Nomor itu punya arti khusus: ia berada di tingkat ke-48 dari atas, di sebuah penjara berbentuk vertikal, menghunjam ke bawah laksana sumur.

NOMOR yang tak terlalu buruk, sesegera ia tahu bagaimana tempat itu bekerja. Setiap kali waktu makan tiba, sejenis peron beton turun perlahan dari satu sel ke sel lain di bawahnya. Peron itu membawa makanan, tahanan di sel paling atas bisa makan sepuasnya, sementara yang bawah memperoleh sisa-sisa.

Yang sangat bawah? Kemungkinan besar hanya memperoleh piring-piring kotor. Nasib mereka bisa berubah di akhir bulan, di mana sel mereka diacak kembali. Mereka bisa memperoleh nasib lebih baik atau lebih buruk. Jika satu bulan tak memperoleh makanan, kamu bisa makan teman satu selmu sendiri.

’’Lebih baik memakan daripada dimakan,’’ kata salah satu penghuni tempat itu. Ini memang hanya ada di sebuah film Spanyol berjudul The Platform, besutan sutradara Galder Gaztelu-Urrutia. Sebuah film yang bisa dikategorikan sebagai film sains-fiksi, horor, kritik sosial, atau gabungan dari itu semua.

Yang mengerikan bagi saya bukanlah semata-mata adegannya yang memang brutal, banjir darah, tapi justru pada kesadaran bahwa apa yang terjadi di film itu terjadi secara nyata di dunia ini. Memakan atau dimakan bukanlah ujaran fiktif, tapi terjadi di depan mata semua orang.

Film ini, di luar urusan genrenya yang mungkin tak akan bikin nyaman sebagian orang, memberikan banyak perenungan, dan terutama pertanyaan. Buat saya ini tanda film yang baik.

Hidup memang seharusnya penuh pertanyaan. Hanya orang mati yang tidak bertanya. Orang hidup yang puas dengan jawaban dan tak mengajukan pertanyaan bagi saya sama saja mati sebelum napasnya direnggut.

Jika makanan itu pada dasarnya dipersiapkan dengan jumlah yang mencukupi untuk semua penghuni, kenapa mereka tak bisa mengatur diri agar semua bisa makan?

Kenapa yang paling atas makan begitu banyak, bahkan menghambur-hamburkannya, sehingga makanan habis hanya beberapa tingkat ke bawah, dan membiarkan sisanya mati atau menjadi kanibal?

Di kehidupan nyata, kita melihatnya sebagai hierarki sosial. Dalam keadaan tertentu, nasib manusia bisa berubah. Yang pernah di atas mungkin ke bawah, begitu juga sebaliknya, seperti metafora roda pedati yang sering dikatakan orang-orang bijak.

Meskipun begitu, satu hal sama. Mereka yang di atas memiliki kesempatan makan lebih banyak. Tak hanya makan dalam arti harfiah, tentu saja.

Mereka bisa memiliki tanah lebih luas, bukit-bukit berisi batu dan mineral berharga, pengetahuan dan informasi, menciptakan akumulasi kekayaan yang melimpah ruah. Mereka tak peduli apakah bisa memakan semua itu atau tidak.

Di bawah? Ada yang mengumpulkan sampah untuk bertahan hidup. Ada yang meminta-minta. Ada yang tak makan berhari-hari. Orang melakukan banyak hal untuk sekadar bertahan hidup.

Yang tak bisa bertahan hidup menjadi yang tersingkir. Dengan kata lain: yang menuju kematian. Jika bukan karena menjatuhkan diri, bisa jadi siap mati dimangsa sesama manusia.

Di dunia nyata saya rasa keadaan jauh lebih bengis. Para elite di sel tertinggi, mereka yang berkuasa, memiliki kesempatan lebih besar untuk terus berada di atas.

Di negara monarki, kekuasaan diturunkan berdasar darah keturunan. Di negara demokrasi? Selalu ada cara anak para penguasa menjadi penguasa kecil di berbagai kota. Pemilu daerah yang baru saja dilaksanakan dengan gamblang memperlihatkannya.

Di sel-sel masyarakat paling bawah, mereka berharap bisa naik ke tingkat yang lebih tinggi. Kadang-kadang dengan usaha dan nasib baik, mereka menemukan diri berada beberapa tingkat di atas. Lebih sering terjadi, keadaan memaksa mereka saling menginjak, seperti kerumunan kepiting yang hendak keluar dari baskom.

Seperti perkataan Gandhi, sumber daya alam di bumi ini sangat mencukupi untuk setiap manusia bisa makan. Tapi, kenapa ada yang kelaparan?

Kenapa kita tidak bersama-sama memberantas kerakusan? Kenapa kekayaan dunia tak didistribusikan saja secara merata sehingga semua orang bisa bertahan di sel masing-masing, tak peduli ia berada di tingkat berapa?

Bahkan, seandainya kerakusan tak bisa dihapuskan, katakanlah karena manusia memiliki kecenderungan untuk mengumpulkan melebihi kebutuhannya, sebagai cara berjaga-jaga di masa sulit, tak bisakah kerakusan dibatasi? Sebanyak apa? Adakah cara untuk melindungi mereka yang berada di sel paling bawah?

Pertanyaan-pertanyaan itu saya yakin ada di benak banyak orang, tapi hierarki sosial menciptakan mereka yang di tingkat paling bawah saling bertarung dan berseteru satu sama lain. Tentu saja satu–dua akhirnya mengajukan pertanyaan.

Sialnya, tak semua senang dengan pertanyaan-pertanyaan semacam itu. Entah takut atau ingin mengamankan posisi, termasuk sekadar posisi yang lebih baik dari sesama. Memilih mengabaikannya, menjadikan dunia tetap seperti sediakala, bagai wujud nyata penjara The Platform. (*)

EKA KURNIAWAN

Penulis dan novelis, nomine The Man Booker International Prize 2016

 

Saksikan video menarik berikut ini:

 

 

Editor : Ilham Safutra


Close Ads