Sepak Bola dan Jiwa Kanak-kanaknya

Oleh MAHFUD IKHWAN
13 November 2022, 09:48:51 WIB

Untuk membuka kolom ini, coba simak kisah berikut. Di sangat ngebet ingin nonton semifinal AFF U-16 2022. Sialnya, TV di rumah Di selalu dipakai memutar sinetron. Ia biasa ikut nonton di TV temannya, Mus, tetangga terdekatnya. Sialnya lagi, TV Mus sedang rusak. Pilihan satu-satunya, mereka mesti nonton di TV milik Par, yang rumahnya lebih jauh.

SATU jam sebelum pertandingan, Di datang ke rumah Mus membawa singkong mentah. Ia minta Mus merebus singkong tersebut buat camilan nonton, sementara ia hendak menyelidik apakah TV Par sudah dinyalakan. Ketika TV Par sudah pasti dinyalakan, dan singkong sudah matang, mereka berdua membawanya ke rumah Par. Dua jam kemudian, mereka pulang ke rumah masing-masing dengan bahagia: Indonesia lolos ke final.

Kisah Di, Mus, dan Par adalah pengalaman banyak penggemar sepak bola di Indonesia. Tapi, cerita di atas bukan cerita masa kecil, sementara orang-orang itu bahkan terlalu tua untuk disebut bapak-bapak. Mereka juga bukan ilustrasi; mereka nyata. Mereka nyaris aneh, tapi jelas, mereka jauh dari sendirian.

Jika Anda penggemar AC Milan seperti saya, Anda pasti tak asing dengan Tiziano Crudeli, kakek kekanak-kanakan itu. Crudeli (79) menjadi sensasi di Italia karena komentar-komentar sepenuh jiwanya atas pertandingan-pertandingan Milan. Ia akan berteriak histeris, menangis, berjoget, berlari memutari studio, memeluk semua orang, sesekali memukulinya (seperti yang dilakukannya kepada Simone Barbato, pendukung Inter di studio), untuk setiap gol Milan.

Dan, ah, ya, apakah Anda bisa lupa dengan bapak-bapak pendukung Southampton berperut buncit yang menari sendirian di tribun St Mary’s menjelang pertandingan itu?

Dan tentu ini adalah sedikit saja contoh ekstrem dari apa yang paling kuat dari sepak bola: menjaga jiwa kekanak-kanakan kita.

***

Sepak bola modern diciptakan oleh orang-orang dewasa di Inggris Raya untuk mengendalikan hasrat liar kanak-kanak, baik di sekolah-sekolah umum maupun di lembaga-lembaga pendidikan milik gereja. Tapi, baik di tanah kelahirannya, di daratan Eropa, maupun nanti di tanah terjanjinya di Amerika Latin, hasrat liar kanak-kanak inilah yang justru menghidupi sepak bola dan membesarkannya. Cara benda bulat itu diolah kaki atau cara gol diciptakan dan dirayakan bukanlah hal yang sebelumnya diatur oleh orang-orang dewasa itu. Ia barangkali ditemukan di tepi sungai La Plata atau di jalanan kota Rio oleh cucu-cucu bekas budak kulit hitam berkaki bengkok.

Cara sepak bola dinikmati juga berkembang karena mereka yang dikuasai jiwa kanak-kanaknya. Mereka adalah para buruh yang merasa tak pantas nonton teater atau opera dan tak cukup punya uang untuk masuk gelanggang pacuan kuda, dan karena itu memilih pergi ke lapangan bola, tempat rekan sepabriknya atau teman minumnya bermain, dan dengan cara yang aneh merasa ikut bangga dan bahagia. Demikianlah suporter sepak bola pertama-tama tercipta.

Ketika orang-orang kekanak-kanakan ini semakin banyak saja, beberapa orang dengan pikiran lebih jernih melihat bahwa kerumunan orang kekanak-kanakan itu adalah sebuah pasar. Maka, mulailah mereka menawarkan kue, kaus kaki, bir, hingga bahan bangunan. Sejak itu sepak bola selalu diincar para pedagang.

Lalu, tiba masanya ketika para pedagang ingin menjual lebih dan karakter kekanak-kanakan itu menghalanginya, maka ia harus sama sekali disingkirkan dari sepak bola. Ia dikelirukan dengan hooliganisme (fenomena yang lebih banyak muncul karena politik dan ekonomi Thatcherian yang memiskinkan alih-alih sepak bola), lalu digebah. Teras-teras yang riuh dibabat, diganti kursi-kursi yang teratur. Penonton harus sopan, duduk berjajar, dan bayar mahal. Bersamaan dengan itu, mereka menjadikan orang yang paling mewakili jiwa kekanak-kanakan dalam sepak bola, Diego Maradona namanya, tampak sebagai bajingan yang culas.

Tapi, jelas, watak kekanak-kanakan itu tak pernah akan hilang selama mereka masih mengizinkan sepak bola dimainkan dan dinikmati.

***

Orang-orang paling dewasa di sepak bola, yang tak membiarkan jiwa kekanak-kanakan menguasai diri mereka, dan selama bertahun-tahun mencoba terus mengikis jiwa kekanak-kanakan tersebut dari sepak bola, telah menentukan bahwa Piala Dunia 2022 diselenggarakan di Qatar, negara kecil kaya di Teluk Arab yang tak punya sejarah sepak bola –juga sejarah apa pun! Mereka, dengan tangan yang dingin, tega, dan kotor, memberi kita, para penggemar sepak bola, Piala Dunia paling tidak tepat, paling tidak nyaman, dan paling tidak seharusnya. Sepp Blatter, orang paling bertanggung jawab atas keputusan itu, tepat di hari kolom ini ditulis, menyatakan bahwa Qatar adalah pilihan yang salah.

Orang-orang dewasa di sisi yang berbeda, yang menganggap bahwa sepak bola harus selalu terhubung dengan isu-isu ekonomi-politik dan kemanusiaan, terus menyuarakan penentangannya. Piala Dunia Qatar dikotori oleh terlalu banyak skandal, mulai korupsi dan suap (yang sudah terbukti di pengadilan, dan pelaku-pelakunya telah dihukum), pengabaian hak-hak pekerja, ribuan kematian, hingga eksklusi yang mencolok terhadap kaum homoseksual, dan karena itu layak ditolak. Setidaknya di Eropa, sebagian karena dicampur dengan bias ras mereka, upaya-upaya boikot ini jelas berdampak.

Saya, yang dalam hal sepak bola adalah seorang bocah usia 11 tahun yang tinggal dalam tubuh laki-laki dewasa berusia 42 tahun, jelas terpapar oleh kampanye dan laporan-laporan tersebut. Mengandalkan sebagian besar informasi dan tulisan sepak bola dari The Guardian, membaca dan menyimpan beberapa judul buku paling cerewet perihal ekonomi-politik sepak bola, dan setahun terakhir menerjemahkan buku yang sepenuhnya kontra terhadap FIFA dan terselenggaranya Piala Dunia Qatar, bocah kecil dalam tubuh saya dipaksa mendewasa. Mungkin karena itulah, saya sama sekali tak antusias dengan perhelatan di waktu yang janggal ini. Tak seperti sebelum-sebelumnya, saya tak hafal tim mana saja yang ada di putaran final, tim apa di grup mana dengan tim mana, mana grup paling ringan, mana grup neraka, apalagi membuat hitung-hitungan tim mana yang kira-kira juara. Saya juga tampaknya tak akan menulis, di mana pun, tidak seperti di event-event sebelumnya.

Apakah saya tak akan nonton? Tidak, tidak. Satu-satunya janji yang tidak ingin saya ucapkan –karena tak mungkin saya tepati– adalah sepenuhnya berhenti menonton sepak bola!

Saya ingat cerita Eduardo Galeano ketika Piala Dunia 2010. Ketika Piala Dunia dimulai, ia pasang plakat di pintu rumahnya: SEPAK BOLA DILARANG MASUK. Sebulan kemudian, ketika ia membuang plakat tersebut, ia telah menonton 64 pertandingan, dan tak bisa beranjak sedikit pun dari sofa.

Saya paling-paling juga akan berakhir seperti itu.

Saya mungkin nyaris tak punya alasan untuk nonton pertandingan pembuka antara Qatar vs Ekuador, tapi bagaimana jika Iran bisa mengalahkan Inggris besoknya, dan saya tidak menontonnya? Bagaimana jika Jerman tersingkir di awal lagi seperti di Rusia? Bagaimana kalau Argentina kali ini benar-benar bagus dan layak juara? Bagaimana kalau Messi betulan kerasukan Maradona di Piala Dunia terakhirnya? Dan berbagai bagaimana lainnya.

Lagi pula bocah 11 tahun dalam diri saya pasti tak tinggal diam. Ia akan berontak dan menghardik: ”Ada Piala Dunia kok nggak nonton, gila apa!”

Belum lagi kalau saya mesti melihat kegilaan kanak-kanak pada orang-orang tua yang saya ceritakan di depan. Saya sudah berkali-kali mengalami, kekanak-kanakan yang dimiliki sepak bola adalah kekanak-kanakan yang paling menular. (*)

MAHFUD IKHWAN, Penulis asal Lamongan

Editor : Ilham Safutra

Saksikan video menarik berikut ini:


Close Ads