Ada Perkara di Balik Monumen Pahlawan

Oleh AGUS DERMAWAN T.
13 November 2022, 10:39:32 WIB

Presiden Soekarno berbincang dengan Henk Ngantung, pelukis yang jadi gubernur Jakarta pada 1964–1965. ”Aku ingin Jakarta beratmosfer seni. Seandainya Jakarta harus mengusung de ziel van het nationalisme is erg hoog (jiwa nasionalisme yang sangat tinggi), semua harus diungkap lewat seni,” kata Soekarno.

SENI yang dimaksud adalah patung monumen di tengah kota. Dan menurut Soekarno, sosok yang digubah dalam patung monumen harus memiliki riwayat, roh, dan makna kepahlawanan.

Baca juga:
Lukisan Dunia

Lalu patung-patung monumen kota di Jakarta pun jadi bagian utama dari jiwa Jakarta, sang ibu kota. (Pembangunan monumen ini pada kemudian hari dilanjutkan dengan semangat di Surabaya, yang dikerjakan oleh para seniman Surabaya). Patung monumen di Jakarta tersebut jadi hiburan visual sekaligus pancingan oral bagi masyarakat. Sebab, selain bentuk-bentuknya yang memikat, cerita yang ada di sebaliknya menarik untuk didengarkan. Apalagi ketika diketahui bahwa di balik cerita-cerita itu berkelindan kisah yang bernuansa ganjil dan beperkara pada kemudian harinya.

Simak cerita Patung Dirgantara di Pasar Minggu, Jakarta. Figur patung ini dipersonifikasi sebagai Hanoman yang terbang, selayaknya Yuri Gagarin, kosmonot Uni Soviet yang sukses keluar orbit dengan pesawat Sputnik. Dan dipersembahkan kepada para pahlawan Angkatan Udara Republik Indonesia. Patung dibikin oleh Edhi Sunarso dengan didampingi arsitek Ir Sutami sebagai pembuat fondasi.

Pada kurun 1980-an muncul desas-desus yang mengatakan bahwa sosok di Patung Dirgantara itu adalah lelaki algojo ”pencungkil mata” yang sedang beraksi, binaan partai terlarang. Sehingga monumen itu minta dirobohkan oleh beberapa komunitas. Atas dugaan itu Edhi tentulah geli. ”Yang saya patungkan di situ adalah muka saya sendiri. Wajah Edhi yang sangat sayang tetangga, teman, anak, istri…” katanya.

Patung Pahlawan atau Patung Pak Tani di kawasan Jalan Prapatan, dekat Stasiun Gambir, Jakarta, juga pernah digoyang cerita miring. Patung karya Matvey Manizer dan Ossip Manizer dari Uni Soviet ini dituduh menggambarkan ”Angkatan Ke-5: Petani Bersenjata”, yang dianggap konsep politik Partai Komunis Indonesia. Karena itu, pada 1982 Inspektur Jenderal Departemen Luar Negeri Sarwo Edhie Wibowo meminta kepada mantan Gubernur Jakarta Soemarno Sosroatmodjo (yang memasang monumen itu) untuk mewacanakan pembongkaran. Padahal, menurut Matvey, patung itu hanya menggambarkan adegan seorang ibu memberi restu kepada anaknya yang ingin maju perang dan ingin jadi pahlawan bangsa.

Patung Monumen Pembebasan Irian Barat di kawasan Lapangan Banteng juga punya cerita. Patung ini menggambarkan seorang lelaki Irian (Papua) yang telanjang dada sedang berteriak kuat: ”Merdeka!” Lengan patung itu mengacung ke langit, dengan rantai belenggu yang putus. Patung Pembebasan Irian Barat didirikan untuk memperingati kembalinya Irian Barat ke pangkuan Indonesia pada 1962 dari rengkuhan Belanda.

Henk Ngantung diminta untuk mengoordinasi. Edhi Sunarso ditugasi membangun patung. Soekarno minta agar patung dibuat menjulang di atas tumpuan (voetstuk) 17 meter dan dengan figur setinggi 8 meter. Ini lambang 17 Agustus. Tapi, dalam pelaksanaannya patung jadi 9,5 meter dengan tumpuan setinggi 21 meter. Namun, apabila publik bertanya soal simbol yang terkandung dalam monumen, pemandu akan menjawab: ”Tinggi tumpuan 17 meter dan tinggi patung 8 meter!” Yang meragukan, silakan ukur sendiri.

Namun, meski apik dan segar dalam pandangan mata, sejumlah pengamat sosial mempertanyakan: mengapa rambut figur patung itu tidak keriting sebagaimana rambut orang Irian? Padahal yang jadi model adalah Johannes Abraham Dimara, pejuang Irian yang keriting. Apalagi ketika diketahui bahwa nama Irian itu semula adalah Papua, yang menurut penelitian pelaut Portugis Don Jorge de Meneses berasal dari kata Melayu Kuno: papuwah, yang artinya keriting. Dan pulaunya dinamai Ilhas Dos Papua. Meskipun nama ini kemudian diganti jadi Isla del Oro (Pulau Emas) oleh Alvado de Saavedra, pemimpin armada dari Spanyol. Dan diganti lagi oleh Belanda jadi Nederlands Nieuw Guinea. Sedangkan nama Irian, menurut Gubernur Papua Frans Kaisiepo, singkatan dari: Ikut Republik Indonesia Anti Nederland.

Atas gugatan soal keriting rambut, Edhi dan Soekarno bisa menepis kritik. Mereka berdua mengatakan bahwa yang membebaskan Irian Barat bukan cuma masyarakat Irian sendiri, tapi juga orang-orang dari seluruh penjuru Indonesia, yang rambutnya bisa sedikit ikal atau bahkan lurus. ”Ada Mas Warsito, ada Cak Sukoco, ada Boru Sitorus, ada Koh Asiong. Semua ikut menumpahkan darah, bloed vergieten, di situ!” kata Soekarno sebagaimana dituturkan Edhi.

Di luar urusan rambut patung, kita tahu Presiden Soeharto mengganti nama Irian Barat jadi Irian Jaya pada 1973. Dan Presiden Abdurrahman Wahid mengganti jadi Papua pada 1999. (*)

AGUS DERMAWAN T., Pengamat seni dan penulis buku-buku budaya. Narasumber ahli koleksi benda seni Istana Presiden.

Editor : Ilham Safutra

Saksikan video menarik berikut ini:


Close Ads