alexametrics

Percaya Tidak Percaya

Oleh EKA KURNIAWAN
12 September 2021, 09:00:08 WIB

Dalam hidup, suka tidak suka, kita kadang harus memercayai seseorang atau sesuatu. Jika kita mau bepergian mempergunakan pesawat, misalnya, kita harus percaya kepada pilot, bukan? Kita juga percaya kepada para insinyur yang merakit pesawat itu.

JIKA kita melewati jembatan, kita percaya pada kawat bentangan yang menahannya. Jika kita mengemudikan kendaraan, kita juga percaya pada kemampuan pedal rem untuk menghentikan laju. Menyimpan uang di bank, kita tak hanya percaya pada sistem mereka, juga percaya tak akan dicuri pegawainya.

Sialnya, orang atau sesuatu yang bisa mengkhianati atau menipu juga senantiasa datang dari mereka yang kita percaya. Termasuk bagaimana Julius Caesar dikhianati oleh dua teman dekatnya, Brutus dan Cassius. Mereka tentu orang yang bisa dia percaya sehingga boleh menjadi ”teman dekat”.

Beberapa malam lalu saya menonton film Spanyol, Contratiempo (yang dalam judul Inggris menjadi The Invisible Guest) garapan sutradara Oriel Paulo. Film itu sungguh-sungguh menggambarkan tentang apa yang saya bayangkan tentang ”kepercayaan” dan bagaimana kepercayaan sering kali menjadi titik terlemah dari seorang manusia.

Jika kita terkena kasus hukum, siapa yang bisa kita percaya dalam menghadapi seluk-beluk perkara dan pengadilan? Jawaban paling mungkin: pengacara. Apalagi jika kita merupakan penguasa dengan kuasa, sanggup menggelontorkan banyak duit untuk pengacara berbuat apa pun yang penting membebaskan kita dari jerat hukum.

Editor : Ilham Safutra

Saksikan video menarik berikut ini:




Close Ads