alexametrics

Apakah Film Nehi-Nehi Akan Kembali?

Oleh MAHFUD IKHWAN
12 Juni 2022, 10:07:49 WIB

Pada awal ’90-an, di desa-desa nelayan tak jauh dari Tuban, satu malam dalam sepekan para pelaut akan meliburkan diri dari mencari ikan. Itu adalah malam film India. Di salah satu dari tiga bioskop di Tuban, para nelayan akan jumpa para jagoannya: Sunny Deol, Sanjay Dutt, atau Anil Kapoor. Konon, karena selalu dalam rombongan besar, mereka jalan kaki beriringan berkilo-kilometer untuk sampai di bioskop yang dituju.

KALAU Amrish Puri sudah membentak ’Bas!’, bukan hanya satu bioskop, satu Kelurahan Kingking pun akan bergetar,” demikian kisah seorang teman –tentu dengan sedikit berlebihan.

Lalu, di awal Pelita terakhir kekuasaan Orde Baru itu, terjadi sebuah perubahan besar ekonomi-politik –yang akan sulit dijelaskan dalam satu–dua paragraf– yang berimbas pada sistem perniagaan film dan bioskop di Indonesia. Satu kelompok industri muncul dengan monopoli jaringan bioskop dan impor filmnya: bioskop-bioskop baru dengan nama sama dan film Hollywood-nya bermunculan di kota-kota besar, sementara bioskop-bioskop lama, kebanyakan di kota kecil dengan film yang beragam, bertumbangan. Film India, sebagaimana film Indonesia dan Mandarin, kukut bersama bioskop-bioskop yang biasa memutarnya.

Memang, Sanjay Dutt dkk tak langsung menghilang. Dari bioskop-bioskop kota kecil di Situbondo hingga Subang, dari Gorontalo hingga Batam, para jagoan itu kemudian nongol di TV milik putri Pak Harto, TPI. Tapi, semua tak sama lagi.

TV, tak seperti layar bioskop, membuat sinema mengalami domestikasi. Booming film India di TV memang memapar para remaja laki-laki tengah ’90-an yang tak sempat menikmati kejayaan Inspektur Vijay di bioskop. Namun, di luar sana, terutama dalam persepsi masyarakat kota berpunya, muncul asosiasi bahwa film India adalah tontonan para pembantu rumah tangga. Maraknya VCD dan pemutar video rumahan kemudian melengkapi proses ”dirumahkan”-nya film India. Dan munculnya Kuch Kuch Hota Hai (KKHH) pada 1998, sebuah film India yang sebelumnya nyaris tak pernah ada presedennya, dan histeria kaum hawa yang kemudian mengikutinya, sepenuhnya menyempurnakannya.

Sebesar apa pun efek ikutan KKHH (demam Shah Rukh Khan, munculnya penggemar baru film India yang berbeda tipe dan kelas sosialnya, banjirnya VCD bajakan di kota-kota kecamatan) tak mengembalikan film India ke kerumunan. Jalan kaki berombongan para nelayan di Tuban jelas sudah jadi masa lalu, tapi antrean para gadis remaja di depan loket bioskop di dalam mal untuk film baru Shah Rukh atau Hrithik Roshan juga tak pernah ada.

Monopoli bioskop dan kebijakan impor film tak memungkinkan itu terjadi. Larisnya VCD bajakan film India di kota-kota pinggir pantai di kepulauan Indonesia tak sebanding dengan stigma ”selera rendah” yang menyelubunginya. Dan setelah belasan tahun demikian, film India kemudian identik dengan para penggemar inferior yang menonton dalam diam.

Pada awal dekade lalu, 3 Idiots (2009) ramai beredar dari tangan ke tangan lewat file-file hasil unduhan ilegal. Dianggap cerdas dan kritis, film yang dibintangi Aamir Khan ini mendobrak semua stigma yang melekati film India. Tapi, alih-alih membuat orang melihat film India secara berbeda, ia sebatas dianggap sebagai ”film India yang berbeda”.

Lalu, hari-hari ini, orang-orang ramai membicarakan Gangubai Kathiawadi (2022) dan RRR (2022). Yang pertama untuk kecenderungan feminisnya, sementara yang kedua untuk aksi gila-gilaannya.

***

Alih-alih pertanyaan, pada dasarnya judul kolom ini adalah sebuah harapan. Dan seperti yang sudah-sudah, harapan ini adalah harapan yang sangat lemah.

Lagi pula, ironisnya, ini sebenarnya saat yang tak pas untuk berharap. Sinema India, baik sebagai industri maupun sebagai produk budaya, sedang dalam kondisi tak menyenangkan. Industri film dunia terpukul sangat keras oleh pandemi. Namun, tak ada yang lebih menderita melebihi industri film India, yang berdiri di tengah masyarakat yang menjadikan bioskop sebagi tempat suci ketiga setelah kuil-kuil dan stadion-stadion kriket mereka.

Tapi, masih ada yang lebih buruk dari pandemi: rezim ultranasionalis yang selama 10 tahun terakhir berkuasa. Mereka sedang mengimajinasikan India yang kembali sepenuhnya Hindu seperti zaman Ramayana, dan sedang mengupayakannya dengan berbagai cara. Industri film adalah salah satu target utamanya –seperti yang sudah pernah dicoba oleh rezim-rezim fasis di mana-mana. Lagi pula, di mata rezim, industri film, terutama Bollywood, adalah tempat berkubunya kalangan sekuler-liberal-komunis-Islam/pro-Pakistan (yang dibaca dalam satu helaan).

Mereka membelah industri film sebagaimana mereka membelah India hari ini: pro pemerintah atau ”antinasional” (demikian mereka menyebut oposisi). Sosok-sosok atau karya yang prorezim didukung habis (dianugerahi gelar dan penghargaan atau filmnya dibebaspajakkan), sementara yang dianggap musuh digebah seperti sampar. Contoh mutakhir, ketika film penuh propaganda anti-Islam seperti Kashmir File dibebaspajakkan, kampanye boikot film baru Aamir Khan telah digalakkan secara masif bahkan ketika masih berupa trailer.

Bersyukurnya, selalu ada oase di tengah gurun. Pusat perfilman India tersebar di berbagai negara bagian. Ketika Bollywood di Mumbai masih remuk karena wabah atau diobok-obok politik rezim, pusat-pusat industri film lain yang agak jauh dari jangkauan kekuasaan lebih cepat pulih; demikian juga, ketika film-film berbiaya besar mesti tiarap, film-film yang lebih independen secara ekonomi tengah mengincar kesempatan. Kolapsnya perbioskopan selama pandemi di India, seperti yang terjadi di mana-mana, memaksa banyak film hijrah ke platform over-the-top (OTT) seperti Netflix, Disney Plus, dll. Pihak yang paling sigap memanfaatkan alih wahana ini adalah film-film berbujet kecil atau film-film dari industri yang lebih independen seperti sinema berbahasa Malayalam dari Kerala.

Gangubai Kathiawadi (berbahasa Hindi) dan RRR (Telugu) kebetulan tak mendapat gangguan dari kekuasaan. Lagi pula, keduanya adalah film-film besar yang diharap membangkitkan kembali perbioskopan India, dan sejauh ini dianggap berhasil. Dan, kesuksesan itu tampaknya bisa mereka ulangi di platform OTT. Keduanya ada di daftar film dengan penonton terbanyak di Netflix di berbagai negara, termasuk di Indonesia. Yang lebih istimewa, untuk konteks Indonesia, dua film tersebut hadir dalam banyak percakapan, baik online maupun offline. Dan, jelas, ia ditonton tak hanya oleh penggemar tradisional film India.

Kedua film, sebagaimana yang pernah dialami KKHH dan 3 Idiots, saya yakin, belum akan mengembalikan sinema India dari kurungan domestikasinya di Indonesia. (Jadi, lupakan bentakan Tuan Thakur yang menggetarkan satu kelurahan.) Tapi, angka-angka yang nyata di platform OTT mungkin akan sulit diabaikan oleh jejaring pawagam ketika industri perbioskopan kita sudah sepenuhnya pulih.

Mungkin. (*)

MAHFUD IKHWAN, Penggagas Sindikasi Nonton India

Editor : Ilham Safutra

Saksikan video menarik berikut ini:

Close Ads