alexametrics

Siapa Yang Akan Makan Terakhir?

Oleh: EKA KURNIAWAN
10 Oktober 2021, 09:24:00 WIB

Dalam film seri Korea yang sedang populer, Squid Game, ada satu karakter perempuan yang mengalah kepada pemain perempuan lain dalam adu kelereng. Padahal, mereka dalam permainan bertahan hidup di mana yang kalah akan ditembak mati.

MEMANG kita bisa mengerti keputusannya. Ia merasa tak memiliki siapa pun di dunia ini. Tak akan ada yang kehilangan dirinya jika ia mati. Tapi, bukankah kalau ia tetap bertahan hidup setidaknya bisa melihat dunia lebih lama? Mungkin bisa menemukan seseorang yang memiliki arti dan akan kehilangan jika ia tak ada? Ia mungkin punya kesempatan berbahagia?

Dalam titik seperti itu, di mana hanya ada satu di antara mereka yang boleh tetap hidup, saya membayangkan ukuran-ukuran keputusan seseorang bisa tak lagi sekadar individual. Ia mulai berpikir sebagai sesuatu yang lebih luas: kelompok. Kawannya masih memiliki seorang adik yang harus dilindungi, juga ibu yang harus diselamatkan. Jika kawannya yang ditembak mati, tiga manusia mungkin akan jadi korban.

Ada banyak film maupun novel yang berkisah tentang situasi distopian macam begini, di mana sekelompok orang harus bertahan hidup dan situasi membuat mereka harus menyingkirkan sesamanya. Ada yang direkayasa sebagai permainan seperti film seri yang saya sebut di atas, ada pula yang ”alami” semacam kejadian di novel Lord of the Flies.

Yang menarik, bahkan dalam situasi memakan atau dimakan, kenapa masih sering terselip pikiran yang lebih luas dari sekadar nyawa sendiri? Kenapa kita memikirkan keselamatan orang lain? Memikirkan keluarga, kawan-kawan, kelompok suku, bangsa, bahkan akhirnya memikirkan manusia secara keseluruhan?

Editor : Ilham Safutra

Saksikan video menarik berikut ini:




Close Ads