alexametrics

Ruang Publik yang Rawan

Oleh SARAS DEWI
10 Juli 2022, 07:33:19 WIB

Geram menyergap dengan kasus pelecehan seksual yang terjadi di kereta api. Video yang direkam oleh korban menunjukkan pelaku yang bebal meski berkali-kali ditegur oleh perempuan itu.

KEJADIAN semacam ini, yang amat disesalkan, kerap terjadi pada perempuan di ruang publik, termasuk di dalam transportasi umum. Perempuan selalu terancam tubuhnya bahkan ketika menggunakan fasilitas umum. Bentuk pelecehan yang terjadi dari ujaran, siulan, hingga kontak fisik. Mengapa ruang publik sedemikian rawan dengan pelecehan seksual?

Melalui hasil survei yang dilakukan oleh Koalisi Ruang Publik Aman (KRPA) dinyatakan bahwa meski selama masa pandemi dan diberlakukannya pembatasan sosial, pelecehan seksual tetap terjadi. Adapun survei yang mereka laksanakan pada akhir tahun 2021 itu diikuti oleh 4.236 responden yang tersebar di 34 provinsi dengan usia peserta survei dari 16 tahun hingga 24 tahun. Survei itu mengungkap bahwa empat di antara lima perempuan dalam aktivitas sehari-harinya mengalami pelecehan seksual di ruang publik. KRPA memberikan basis data yang kuat dalam rangka membongkar pelecehan seksual yang acap kali dianggap remeh dan sepele oleh sebagian masyarakat. Normalisasi pelecehan seksual semacam inilah yang membuat jalanan, kendaraan umum, maupun fasilitas publik yang lainnya tidak aman bagi tubuh perempuan.

KRPA yang merupakan gabungan dari lima komunitas yang mendorong kesetaraan ruang bagi perempuan seperti Hollaback! Jakarta, Jakarta Feminist, PerEMPUan, Lentera Sintas Indonesia, dan Dear Catcallers Indonesia pernah melakukan penelitian serupa pada tahun 2019. Temuan mereka amat membantu masyarakat menyadari pentingnya menuntut ruang publik yang aman. Penelitian yang mereka lakukan mengikutsertakan 62.224 responden dari berbagai daerah di Indonesia. Data itu menunjukkan bahwa 64 persen perempuan pernah mengalami pelecehan seksual, kemudian 52 persen responden menjawab bahwa kali pertama mengalami pelecehan seksual ketika di bawah usia 16 tahun. Riset itu pun menegaskan bahwa pelecehan seksual bukan disebabkan cara berpakaian korban. Data itu membeberkan berbagai jenis pakaian yang digunakan oleh korban: rok, celana panjang, baju lengan panjang, seragam sekolah, baju seragam kantor, hijab panjang, dsb. Bermacam bentuk pelecehan seksual yang disampaikan oleh responden, dari pelecehan verbal hingga disentuh, belakangan ini saya mencermati pula kejadian pengambilan gambar tanpa izin yang terjadi di angkutan umum.

Betapa menggusarkannya pengalaman mengalami pelecehan di ruang publik. Tetap nyata dalam ingatan saya bagaimana kejadian itu saya alami sendiri saat sedang menumpangi MRT (moda raya terpadu) di Jakarta. Seorang lelaki yang duduk di seberang saya secara cepat terus merekam kaki saya. Saya sempat membentak orang tersebut, namun sepertinya ia tidak memedulikan kemarahan saya. Survei oleh KRPA menyatakan 56 persen perempuan melawan para pelaku pelecehan, namun yang mengenaskan adalah reaksi saksi yang berada di sekitar kejadian. Sebagian, yakni 41 persen, mengabaikan kejadian itu, bahkan ada yang menyalahkan kejadian tersebut pada korban! Mempersalahkan korban ataupun menyangsikan suara korban juga menjadi kendala besar dalam menciptakan ruang publik yang setara dan aman. Banyak korban yang mengalami pelecehan seksual menjadi trauma dan selalu berada dalam perasaan takut saat di tempat umum.

Apakah sejatinya pelecehan seksual tersebut? Menurut Elizabeth Arveda Kissling dalam publikasinya yang menyorot soal pelecehan seksual, tindakan tersebut merupakan strategi penyebaran teror dengan nuansa seksual. Pelecehan seksual merupakan cara merepresi tubuh perempuan serta menegaskan suatu kontrol sosial. Penelitian ini merujuk esai penting yang ditulis oleh Pam McAllister yang berjudul ”Wolf Whistles and Warnings”. Ia menganalisis bahwa pelecehan seksual juga siasat untuk mempertegas batasan spasial bagi lelaki dan perempuan. Intimidasi yang dilakukan dalam pelecehan seksual adalah cara untuk mengingatkan perempuan bahwa ruang publik adalah wilayah kekuasaan lelaki. Pelecehan seksual beroperasi dengan cara mengobjektifikasi tubuh perempuan. Tindakan tersebut memperlihatkan kekuasaan dan menyangkal tubuh perempuan sebagai ruang otonom bagi dirinya. Selain itu, McAllister menyampaikan bahwa siulan, komentar seksis, atau sentuhan adalah paksaan keintiman yang mereduksi perempuan sebagai objek yang selalu patuh, tunduk, dan pasrah.

Hampir semua perempuan memiliki kiat menghindari pelecehan seksual. Saya sendiri memiliki aturan-aturan yang saya terapkan kala melakukan perjalanan sendirian. Saya menghindari tertidur di bangku pesawat ataupun kereta api. Sesaat setelah duduk di kereta api, saya selalu mencatat nomor petugas yang berjaga. Atau jika ada yang bertanya apakah sedang dalam perjalanan sendirian, saya tidak pernah mengiyakan, selalu saya katakan anggota keluarga atau teman kerja duduk di bangku yang terpisah. Namun, alangkah tidak adilnya bahwa perempuan harus selalu dibebankan rasa takut dan waswas seperti ini. Semestinya para pelaku yang dikecam dan dihukum. Kini dengan keberadaan UU Tindak Pidana Kekerasan Seksual, PT KAI dapat memproses secara hukum para pelaku pelecehan seksual di dalam kereta sehingga tidak berhenti pada blacklist pelaku semata. Tindakan ini menjadi wujud nyata keberpihakan pada ruang publik yang aman, adil, dan setara. (*)

SARAS DEWI, Dosen Filsafat Universitas Indonesia

Editor : Ilham Safutra

Saksikan video menarik berikut ini: