alexametrics

Puasa Adalah Pesta, Betul?

Oleh MAHFUD IKHWAN*
10 April 2022, 09:15:15 WIB

”Intinya, pengendalian diri!” Begitu penegasan KH Zainuddin MZ tentang puasa di ceramah-ceramahnya yang melegenda, yang pernah menjadi sangat terkenal karena dipinjam sebagai tagline sebuah iklan minuman berenergi di tahun ’90-an. Dan saya rasa tak ada yang tak menyepakatinya, entah yang alim maupun yang awam.

KARENA itu, puasa berasosiasi dengan ”sabar”, dihubungkan dengan ”kesetiakawanan sosial”, dan disebut dalam satu tarikan napas dengan ”muhasabah/introspeksi”. Di sebagian besar masyarakat Jawa, kata ”pasa” dipertukarkan secara longgar dengan ”tarak/tirakat”, yang artinya berpantang. Sementara, seingat saya, pengertian saum (puasa) yang diajarkan guru fikih kami di madrasah ibtidaiyah juga kurang lebih demikian.

Tapi, kita juga tahu, pengertian dan asosiasi tersebut adalah –meminjam tagline iklan legendaris yang lain– ”teori”. Penjelasan tersebut, entah dari ceramah Zainuddin MZ atau dari dai lain, atau dari buku ajar di madrasah, atau bahkan dari kitab suci, adalah sesuatu yang diidealkan, sesuatu yang ”seharusnya” dilakukan, hal yang ”semestinya” dicapai. Apakah ia ”telah” dilakukan dan ”sudah” dicapai, itu adalah persoalan berbeda.

Dan kenapa ia terus diceramahkan? Sebab, pada kenyataannya, sebagaimana semua hal yang diidealkan, lebih-lebih berkait agama, ia sulit dicapai. Ia sama sulitnya dengan salat khusyuk, sedekah ikhlas, haji mabrur, dst.

Dalam kepala penulis fiksi macam saya, puasa adalah sejenis karakter yang oleh pengarang ingin dibentuk sebagai A sebelum ditulis, namun berakhir menjadi B atau E atau bahkan Z ketika cerita itu selesai; bukan hanya tidak sama dengan yang pada awalnya diinginkan, tapi boleh jadi malah memunggunginya sama sekali.

Editor : Ilham Safutra

Saksikan video menarik berikut ini: