alexametrics

Payung tanpa Hujan

Oleh EKA KURNIAWAN
9 Mei 2021, 15:17:59 WIB

Apa yang diharapkan seorang prajurit dalam hidupnya? Jawabannya: perang. Untuk orang-orang pada umumnya, jawaban tersebut tentu saja aneh. Tapi, tidak bagi Giovanni Drogo, tokoh di novel The Tartar Steppe karya penulis Italia Dino Buzzati

PREMIS novel ini memang terasa mengganggu sekaligus menantang. Itu seperti seorang dokter berharap ada orang sakit. Bukan semata-mata agar ia punya pasien dan (mungkin) memperoleh penghasilan, tapi terutama agar pengetahuan dan keterampilannya berguna, terasah. Ia bisa membuktikan dirinya sanggup menaklukkan musuh: penyakit.

Atau, seorang pendidik berharap menaklukkan kebodohan dan ketidakberadaban. Semakin ia menemukan jenis kebodohan dan ketidakberadaban yang sulit ditaklukkan, semakin ia mencari cara untuk membawa muridnya ke cahaya benderang.

Bagaimana jika perang tak juga terjadi dan musuh yang ditunggu-tunggu tidak muncul? Itulah memang yang dialami Drogo. Sebagai prajurit muda, ia ditempatkan di sebuah benteng terpencil, di daerah perbatasan, yang menghadap ke padang rumput luas berbatu yang ujungnya tak terlihat, tersamar oleh kabut.

Dahulu kala, pasukan Tartar datang menyerang melalui padang rumput tersebut. Kini tak ada tanda-tanda kehadiran mereka. Hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan, bahkan tahun demi tahun, benteng tersebut menjelma menjadi dunia yang membosankan. Buat apa benteng militer jika perang tak ada?

Editor : Ilham Safutra

Saksikan video menarik berikut ini:




Close Ads