alexametrics

Ziarah ke Toko Mainan

Oleh EKA KURNIAWAN
8 November 2020, 15:04:01 WIB

Karena khawatir mengajaknya jalan-jalan ke mal di masa pandemi ini, sekali waktu saya mengajak anak saya ke toko mainan tak jauh dari rumah.

JENIS jualannya tak jauh berbeda dengan mainan yang sering dibawa abang penjual mainan bersepeda.

Di luar dugaan, ia menyebut tempat itu seperti gua harta karun. Di sana ia menemukan pensil, bolpoin, buku, komik, gantungan kunci, foto, tempat pensil, sticky notes, dan beberapa pernik lainnya. Saya juga senang, semua yang ia ambil hanya perlu ditebus tak lebih dari enam puluh ribu rupiah di kasir.

Memang bukan sembarang pernik-pernik. Semua benda itu bergambar BTS, grup pop Korea yang sedang digandrungi anak-anak, remaja, bahkan hingga dewasa.

Pernik-pernik itu hanyalah suvenir kaleng-kaleng sebetulnya, dan anak saya juga tahu. Ia masih terlalu kecil untuk masuk ke level lain, seperti menuntut barang orisinal, merchandise resmi, barang limited edition, dan sejenisnya.

Saya pernah punya ’’kegilaan’’ serupa. Saya pernah punya masa di mana dinding kamar dipenuhi oleh poster Guns N’ Roses. Kaus bergambar The Rolling Stones. Celana jins sengaja sobek-sobek, ditambal dengan gambar Sebastian Bach, vokalis Skid Row.

Dulu tentu saya sering merasa kesal kenapa orang tua saya tak bisa memahami hal sederhana seperti itu. Iya, mereka suka mengomel tentang poster-poster wajah sangar itu. Tentang musik yang saya dengar (yang memang berisik), juga tentang rambut yang tak kunjung dipotong meskipun sudah melewati bahu.

Tunggu. Kalau dipikir-pikir, sebetulnya pernah ada masa-masa ketika saya juga tak mengerti dengan ’’kegandrungan’’ orang lain terhadap sesuatu. Pernah, misalnya, saya pergi ke rumah tetangga atau kerabat dan terheran-heran mengapa mereka memajang foto Wali Sanga, juga lukisan buraq yang begitu besar di dinding rumah.

Saya tahu mereka religius. Orang tua saya juga religius, tapi mereka tak doyan memajang gambar-gambar serupa itu. Apakah mereka merasa lebih religius dengan memajang dan tiap hari memandang wajah-wajah para wali yang bersih dan menyejukkan hati?

Entahlah. Saya cuma bisa bereflektif terhadap masa remaja saya dan mengajukan pertanyaan sejenis: apakah saya merasa jadi rocker atau anak pemberontak dengan memajang dan memandangi wajah W. Axl Rose?

Semua hal itu membayang kembali di kepala saya saat membaca buku Bandit Saints of Java karya akademisi Australia yang banyak menulis dan menerjemahkan hal ihwal sastra dan kebudayaan Indonesia, George Quinn.

Buku ini sejenis campur aduk: catatan perjalanan, sedikit etnografis, memoar, sekaligus komentar tentang tradisi berziarah dan bagaimana agama Islam serta adat istiadat Jawa berbaur, bersitegang, hidup berdampingan di masyarakat Jawa. Sebuah pulau yang juga memiliki akar pengaruh Hindu serta Buddha yang kuat.

Membaca buku ini, di mana Quinn bertemu orang-orang dan mendengarkan kisah-kisah para peziarah dan tokoh-tokoh orang suci yang mereka ziarahi, tak terelakkan, mengingatkan saya pada antusiasme anak saya mengisahkan personel BTS dengan kehebatan sekaligus keganjilan mereka.

Satu orang berkisah tentang Nyai Ageng Bagelen yang memiliki payudara begitu besar sehingga untuk menyusui anaknya ia menyampirkan payudaranya ke bahu dan anaknya menyusu dari belakang. Ada kisah kesaktian Sunan Kalijaga yang bisa menentukan arah kiblat.

Baca juga:

Untuk sebagian orang, pengultusan semacam itu mungkin dianggap perilaku beragama yang tidak tepat. Meskipun tak pernah menanyakan, ketidaksukaan orang tua saya memajang gambar-gambar bersifat religius (gambar para wali, Kakbah, buraq, kaligrafi, tasbih yang menggantung di mobil) mungkin saja lahir dari pandangan sejenis.

Saya tak akan berbicara lebih lanjut mengenai ziarah, orang-orang suci, dalam hubungannya dengan perilaku beragama. Buku setebal lebih dari 400 halaman ini sudah panjang lebar mengajak kita menjelajahi itu semua. Saya justru ingin melihat hal sejenis justru di dunia ’’sekuler’’.

Ketika saya pergi ke London lima tahun lalu, hal yang ingin saya lakukan adalah mengunjungi Museum Charles Dickens. Sungguh senang hati melihat ruangan tempat ia membacakan karya-karyanya kepada teman-temannya di waktu perjamuan makan malam. Senang juga menengok ruang bawah tanah, tempat ia menyimpan persediaan anggur. Serasa saya ikut bersamanya merasakan energi kreatif yang timbul dari ruangan-ruangan tersebut.

Tiba-tiba saya berpikir bahwa kunjungan tersebut bukankah bisa disebut juga sebagai ziarah? Seperti para peziarah ke makam-makam para wali, bukankah saya juga mengingat tentang kehidupan dan karya-karya Charles Dickens dalam kunjungan tersebut, lalu mengharapkan sejenis energi baru untuk kehidupan saya sendiri?

Begitulah. Saya mengajak anak saya berziarah ke toko mainan. Ia bisa menganggapnya sebagai gua harta karun, tapi bagi saya menjadi gua pertapaan. Gua yang ketika keluar dari sana memberi saya energi untuk melihat hubungan ayah dan anak dengan cara baru.

Saya bisa menjadi temannya untuk mengobrol, sekadar bergosip, bahkan sesekali masuk ke pembicaraan serius yang tepercik dari sana. (*)


EKA KURNIAWAN, penulis dan novelis, nomine The Man Booker International Prize 2016

 

Saksikan video menarik berikut ini:

 

Editor : Ilham Safutra



Close Ads