alexametrics

Hak Warga Indonesia untuk Mengenal Sejarahnya

Oleh LEILA S. CHUDORI
6 Juni 2021, 19:00:36 WIB

Setiap bulan Mei dan Juni, jadwal saya lebih penuh dibandingkan bulan-bulan lainnya. Ini disebabkan banyak institusi, kampus, dan lembaga kebudayaan yang mengundang untuk berbincang mengenai reformasi dengan mengambil latar belakang novel Laut Bercerita.

NOVEL ini terbit Desember 2017 dan dari tahun ke tahun selalu saja ada ”pembaca baru” –yang ternyata generasi yang lahir setelah tahun 2000– memberi komentar bahwa mereka sangat terkejut dengan berbagai ”fakta” yang tercantum dalam novel tersebut. Antara lain bagaimana di masa Orde Baru mereka yang mendiskusikan buku Pramoedya Ananta Toer atau betapa Kejaksaan Agung mempunyai wewenang melarang peredaran buku. Dan yang paling mengejutkan mereka adalah bagaimana aparat di masa lalu, para mahasiswa, dan aktivis yang kritis terhadap pemerintah Orde Baru mengalami kekerasan.

Salah satu hal yang membuat generasi milenial dan generasi Z masih terkejut-kejut saat membaca karya fiksi sejarah, demikianlah sebutan dari pembaca, tentu saja karena pelajaran sejarah di sekolah sampai saat ini belum mengurai secara lengkap dengan analisis apa yang sesungguhnya terjadi di bulan Mei 1998. Di dalam diskusi Reformasi: Pemutaran Film dan Diskusi yang diselenggarakan RumataArtSpace akhir Mei lalu, Prof Melani Budianta, guru besar Universitas Indonesia yang menjadi salah satu pembahas novel (dan film pendek) Laut Bercerita, menyampaikan bahwa soal penculikan dan penghilangan paksa adalah satu dari begitu banyak kekerasan yang terjadi pada bulan Mei: penembakan mahasiswa Trisakti, kerusuhan tiga hari yang terasa tak sekadar sebagai ”akibat sporadis” belaka, dan memakan begitu banyak korban nyawa dan harta akibat pembakaran. Di samping itu, peristiwa yang selama ini ”terbungkam” adalah perkosaan terhadap perempuan keturunan Tionghoa yang selama ini masih dianggap ”tak terbukti” yang kemudian kelak dilanjutkan lagi dengan Tragedi Semanggi.

Penyelesaian dan pertanggungjawaban atas peristiwa Mei 1998 yang menggantung di udara seperti halnya kekerasan yang terjadi di Indonesia di tahun 1965–1966 adalah hal-hal yang hanya bisa dibaca dari buku-buku penelitian para akademikus, karya jurnalistik yang secara berkala menerbitkan edisi khusus sebagai peringatan. Cara lain untuk ”mencari” atau mengulik sejarah masa lalu tampaknya dilakukan dengan menikmati karya seni seperti berbagai karya fiksi Pramoedya Ananta Toer, Seno Gumira Ajidarma, Iksaka Banu, Ratna Indraswari Ibrahim, hingga karya panggung (salah satunya adalah Clara: Sebuah Opera Penggalan Kisah Tragedi Mei 1998 yang diadaptasi musikus Ananda Sukarlan dari cerita pendek Seno Gumira Ajidarma). Harus diingat, para siswa SD, SMP, dan SMA masih menerima versi ringkas dari apa yang terjadi pada tahun 1998 yang kurang lebih isinya hanya pernyataan pengunduran diri Presiden Soeharto.

Pemerintah dan sejarawan sudah pasti mempunyai alasan tersendiri –yang tidak sekadar akademis, tetapi politis– untuk tak kunjung melakukan revisi atau bahkan mengisi sejarah Indonesia kontemporer. Apa pun alasan mereka, pada akhirnya generasi muda Indonesia akan tetap bernasib seperti generasi saya (yang lahir di tahun 1960-an) yang dicabut haknya untuk memperoleh akses sejarah yang lengkap, jujur, terbuka, dan objektif.

Editor : Ilham Safutra

Saksikan video menarik berikut ini:




Close Ads