alexametrics

Tubuh yang Elusif

Oleh SARAS DEWI
5 Juni 2022, 06:41:44 WIB

Tubuh itu menari dengan segala lekukan, liukan, cekungan, yang membuat mata tak ingin berkedip. Tembang yang mengiringi setiap gerakan, menyelubungi tubuh itu, seperti halimun yang membuat setiap orang terpana. Tubuh yang bergulir penuh akan kekuatan, kelentikan, dan kemolekan. Dengan selendang berwarna merah, tubuh menari menempuh waktu, dari ingatan masa lalu hingga apa yang mungkin ada di masa depan.

PENARI lengger hidup di ambang, sukmanya ada bersama leluhurnya, tetapi sekaligus berada di masa ini, di panggung. Penari itu bergerak lincah dan gemulai dengan kemben yang mendekap tubuhnya dan kembang ditisik ke dalam sanggul.

Tubuh penari lengger lanang memantik keingintahuan sebab ada keganjilan yang membuat penikmatnya tidak sepenuhnya dapat mengategorikan maupun mengidentifikasi tubuh tersebut. Para penari adalah laki-laki yang berdandan feminin, gerak-gerik mereka memicu keriangan, jemari mereka gemulai memikat penonton yang bersorak-sorai. Saya merasa itulah keunikan dari tari lengger lanang, tari sebagai rangkaian pengetahuan menampilkan tubuh yang elusif, tubuh yang tidak mengendapkan identitas yang tetap dan tertutup, namun tubuh yang lentur, bermain-main, mengundang imajinasi penontonnya.

Lengger adalah tari tradisional yang melekat pada seni rakyat di Banyumas, Jawa Tengah. Tari ini juga terkait dengan budaya pertanian yang dihidupi oleh masyarakat sekitar. Tari lengger dalam hal ini bukan saja pertunjukan yang menghibur masyarakat, namun juga diyakini bernuansa magis. Ada kepercayaan bahwa roh yang merasuk ke dalam tubuh penari kemudian dapat mengakibatkan ilusi yang menyihir kesadaran para penonton. Selain itu, saya mencermati pula bagaimana tari lengger lanang itu menyangga kehidupan sosial setempat, yang menghubungkan masyarakat dengan sejarah masa lalunya.

Melalui penelusuran filosofis, tubuh acap kali dipinggirkan jika dibandingkan dengan pandangan tentang jiwa atau pikiran. Baik perspektif filsafati maupun agama memberikan keutamaan pada jiwa, seolah-olah esensi jiwa itu sebagai yang berbeda dari tubuh. Tubuh dianggap sebagai yang liar, yang rentan terhadap pencobaan, dan yang mengikat manusia ke dalam kehidupan yang sementara. Namun, tentunya, tubuh tidak terpilah dari kesadaran. Justru, kesadaran kita dimungkinkan karena beragam dan bermaknanya pengalaman ketubuhan itu.

Pembongkaran inilah yang terjadi dalam benak saya kala menyaksikan tari lengger lanang. Selama ini, pikiran kita telah terbingkai bahwa dengan akal murni kita dapat meletakkan benda-benda ke dalam kedudukan, lalu mengklasifikasikannya dengan jernih dan distingtif. Begitu pula deskripsi tentang tubuh, yang sering kali amat dangkal, dan hanya melihatnya sebatas oposisi biner, antara laki-laki dan perempuan, maskulin dan feminin. Sistem berpikir ini tentu menelantarkan keragaman pengalaman tubuh lainnya yang tidak dapat disederhanakan ke dalam pandangan dualistik tersebut.

Saya berkesempatan berdiskusi dengan seorang penari lengger dan juga koreografer brilian bernama Otniel Tasman (33 tahun) tentang pengalaman tubuhnya. Sebagai seorang penari lengger, ia mengatakan bahwa lengger tersebut sedemikian erat pada dirinya diandaikan seperti bahasa ibu. Ia merasa tari lengger adalah cara ia terhubung dan mengerti tentang dunia. Menari, bagi Otniel Tasman, melebihi dari kesenangan saja, menari untuknya adalah jalan untuk menjadi jujur. Ia selalu merasa kesulitan menjabarkan ekstase yang ia alami ketika tubuhnya menari. Tubuh, menurutnya, lebih jujur dari susunan kata-kata.

Saya bertanya pada Otniel Tasman, apakah makna tari lengger baginya? Kemudian ia menjawab bahwa lengger selalu berbeda-beda setiap kali ia mementaskannya. Tarian itu muncul dari perasaan yang berbeda-beda setiap detiknya. Saya merenungkan ucapan ini bahwa tubuh beserta kesadarannya sedemikian luwes. Apa yang selama ini saya pelajari dalam teori filsafat pascastrukturalisme, seperti kemustahilan identitas yang utuh, juga diskontinuitas tubuh, mulai saya pahami. Bahwa tarian itu adalah tindakan performatif, kejadian yang selalu memunculkan pengalaman dan pengetahuan diri yang baru.

Otniel Tasman menyadari bahwa sebagai penari lengger lanang ia terus bernegosiasi dengan publik menggunakan tubuhnya. Tubuhnya selalu mencari dan terus mengupayakan kebebasan. Tari lengger dalam konteks ini adalah kisah personal pergolakan batin serta perjuangan bagi para penari untuk menyampaikan kesungguhan ekspresi diri. Berkarya adalah penawar dari menghunjamnya sindiran, bahkan kebencian sebagian orang terhadap tubuh yang beragam. Otniel Tasman merasa bahwa dengan menari, ia juga sejatinya menyampaikan pernyataan politis. Politik lengger, demikian ia nyatakan dengan serius, bukanlah politik identitas. Menurutnya, lengger adalah pernyataan politik solidaritas lintas tubuh.

Dalam karyanya yang berjudul Nyawiji (dipentaskan 2021), Otniel Tasman menggunakan pengetahuan tubuhnya sebagai penari lengger untuk merenungkan masa-masa tergelap pandemi yang mencekam dengan kematian. Tarian itu spiritualis dan erotis, dua tubuh yang disambungkan sebilah keris, yang saling memikul, penuh kesabaran dalam benturan, persinggungan menemukan dan menjaga ritme hingga titik kekosongan. Saya memaknainya, hidup adalah kesempatan yang langka, meski pada akhirnya setiap manusia akan menghadap kematian, tetapi saat ini tubuh disyukuri serta dirayakan dengan menari. (*)


SARAS DEWI, Dosen Filsafat Universitas Indonesia

Editor : Ilham Safutra

Saksikan video menarik berikut ini:

Close Ads