Menguak Femisida

Oleh SARAS DEWI
4 Desember 2022, 07:42:49 WIB

Seorang pelaku pembunuhan di Bogor ditanya dalam proses interogasi, mengapa ia melakukan kekejian itu. Dengan mata yang dingin, pria itu menjawab, ”saya benci perempuan.”

MELALUI interogasi itu pula terungkap bahwa pelaku tidak menyesali dan bahkan menikmati tindakan kekerasan tersebut. Pelaku berkenalan dengan dua korban perempuan melalui media sosial. Setelah itu, pelaku membunuh dengan cara mencekik korban, lalu membungkus dan membuang jasad mereka di jalanan.

Femisida adalah tindakan paling ekstrem dari kekerasan terhadap perempuan. Femisida sebagai pengertian bukanlah pembunuhan dalam pemahaman umum saja. Femisida adalah pembunuhan yang menyasar pada tubuh perempuan. Pembunuhan terhadap perempuan ini didasari pandangan misogini atau kebencian terhadap perempuan, menganggap bahwa perempuan sebagai objek yang pantas dilecehkan, dihina, disiksa, dan dibunuh. Itulah mengapa, dalam kasus femisida pembunuhan tersebut melibatkan pula perbuatan penyiksaan, yang terhubung dengan rasa benci yang ingin mendegradasi martabat korban.

Femisida istilah yang disebutkan oleh Diana Russell kali pertama dalam Tribunal Internasional tentang Kejahatan terhadap Perempuan di Brussel pada Maret 1976, dimaksudkan sebagai upaya untuk menggarisbawahi bentuk kekerasan dan pembunuhan yang menimpa perempuan. Penekanan kata femisida, dibandingkan ”homicida” pembunuhan yang cenderung netral gender, memiliki maksud politis demi membangun kesadaran bahwa kerap terjadi pembunuhan terhadap perempuan karena identitas keperempuanannya.

Lebih lanjut, Diana Russell menguraikan dalam buku Femicide, The Politics of Women Killing bahwa femisida adalah bentuk paling ekstrem terorisme seksis. Artinya, tindakan teror yang didasari prasangka ataupun bias terhadap perempuan. Teror ini tidak saja dilakukan oleh orang yang tak dikenal oleh korban, tetapi juga oleh suami, pacar, ayah, saudara, orang-orang yang berada di dalam hidup personal korban. Pembunuhan atas akar misogini melibatkan mutilasi, pemukulan, pemerkosaan, yang mana pelaku sering kali merasakan kebencian sekaligus kepuasan menyiksa, juga menganggap bahwa perempuan adalah benda miliknya.

Diana Russell mengatakan, ”Femisida adalah bentuk paling ekstrem dari serangkaian teror antiperempuan yang melibatkan berbagai jenis pelecehan verbal maupun fisik seperti pemerkosaan, penyiksaan, perbudakan seks (pemaksaan prostitusi), incest, pelecehan seksual… ketika kemudian perbuatan-perbuatan teror ini berujung pada kematian, itulah femisida.” Ia menegaskan aspek kultural yang menyamarkan tindakan-tindakan misoginis yang eskalasinya berujung pada pembunuhan perempuan. Melalui budaya dapat dilanggengkan dan diendapkan kebiasaan untuk mengendalikan, mengancam, hingga menganiaya perempuan atas dalih kehidupan pribadi, urusan privat, bahkan alasan-alasan yang terkait tonggak agama maupun adat.

Oleh karena itu, membahasakan kekerasan dan kekejian ini, menyebutkan kata femisida adalah aksi artikulatif untuk membongkar ketidaktahuan maupun pengabaian yang selama ini menyelubungi. Femisida diangkat menjadi isu utama oleh Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan melalui kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan yang berlangsung dari 25 November hingga 10 Desember 2022. Adapun maksud kampanye HAKTP adalah mempertautkan kesadaran bahwa kekerasan terhadap perempuan sejatinya adalah pelanggaran terhadap hak asasi manusia. Kampanye ini juga sebagai pengingat kematian Mirabal bersaudara, para perempuan aktivis pejuang demokrasi yang dibunuh karena membangkang terhadap kekuasaan diktator Republik Dominika.

Komnas Perempuan memublikasikan hasil penelitian yang berjudul ”Lenyap dalam Senyap, Korban Femisida dan Keluarganya Berhak atas Keadilan” yang berisi uraian serta analisis data terkait dengan femisida yang terjadi di Indonesia. Penelitian ini juga secara komparatif meneliti kasus-kasus femisida di Belanda, Guatemala, India, Inggris, Malaysia, Meksiko, Nikaragua, Nigeria, Spanyol, dan Turki. Melalui penelitian ini, Komnas Perempuan merumuskan definisi femisida sebagai ”Pembunuhan terhadap perempuan yang dilakukan secara langsung ataupun tidak langsung karena jenis kelamin atau gendernya, yang didorong superioritas, dominasi, hegemoni, agresi, maupun misogini terhadap perempuan serta rasa memiliki perempuan, ketimpangan relasi kuasa, dan kepuasan sadistis.”

Komnas Perempuan mendata kasus pembunuhan perempuan dari Juni 2021 sampai Juni 2022 sebanyak 307 kasus. Dari 307 kasus tersebut, dikelompokkan 84 kasus femisida pasangan intim yang pelaku kejahatannya adalah suami atau mantan pasangan. Dikerucutkan dari temuan ini, 73 kasus femisida terjadi di ranah privat. Fakta ini amat menyedihkan karena menguak rentannya posisi perempuan bahkan di rumahnya sendiri. Tempat yang sewajibnya menjadi ruang aman bagi perempuan.

Komnas Perempuan juga mencatat motif pembunuhan perempuan seperti cemburu, ketersinggungan maskulinitas, tidak menerima perpisahan dengan korban, kekesalan terhadap korban, faktor ekonomi, dan juga sikap posesif. Komnas Perempuan merekomendasikan integrasi motif kebencian terhadap perempuan ke dalam pasal pembunuhan. Begitu pula memasukkan motif femisida dalam mempertimbangkan sanksi pemberatan pidana karena sifat sadistis yang menyasar pada gender perempuan.

Selain membenahi pengertian substansi hukum, diperlukan penelusuran kritis terhadap budaya dan sosial kita, khususnya kesadaran bahwa femisida adalah kejahatan yang berpokok pada dominasi dan ketimpangan gender. (*)

SARAS DEWI, Dosen Filsafat Universitas Indonesia

Editor : Ilham Safutra

Saksikan video menarik berikut ini:



Close Ads