Gereget Lima Gunung

Oleh: ANDY SRI WAHYUDI
4 Desember 2022, 07:51:34 WIB

Mendung tebal menggantung di langit pagi. Gerimis sudah mulai turun, tapi tak menyurutkan tekad kami untuk menghadiri perhelatan Festival Lima Gunung (FLG) XXI. Sebuah festival seni budaya yang dilakoni oleh masyarakat dari lima gunung di seputaran Magelang: Merapi, Merbabu, Sumbing, Andong, dan Menoreh.

SAYA dan seorang fotografer, Daniel La, berangkat dari Kota Surakarta naik motor, menerabas gerimis yang semakin lama berubah menjadi hujan. Kami berhenti sebentar untuk mengenakan mantel, lalu ngebut menuju lokasi acara FLG XXI yang diselenggarakan di Dusun Mantran Wetan, Desa Girirejo, Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang. Dua jam perjalanan di bawah hujan telah terlewati, akhirnya sampai di lokasi acara yang berada di kaki gunung Andong.

Saya melihat panggung pertunjukan berdiri di tengah jalan dusun. Panggung tampak begitu eksentrik. Latarnya berupa kepala raksasa yang terbuat dari materi alam seputar seperti bambu, daun jagung, reranting kering, dan blarak (daun kelapa kering). Sepanjang jalan menuju panggung berjajar pedagang kuliner, pakaian, dan wahana bermain anak-anak. Sementara itu, Gunung Andong yang terselimuti kabut tampak anggun melatari dusun. Jika dilihat dari kejauhan seperti sebuah negeri para kurcaci yang tengah merayakan pesta raya. Pesta yang menggembirakan semua penghuni negeri.

Ritus Kebudayaan

Selama mengikuti acara festival, kami mengapresiasi berbagai macam seni pertunjukan. Puluhan kelompok tari dari warga lima gunung maupun dari kota sekitarnya seperti Magelang, Temanggung, Salatiga, Semarang, Banyumas, Surakarta, dan Jogjakarta turut meramaikan FLG XXI.

Baca juga:
Sri Panggung

Bermacam jenis tarian dengan kostum beraneka rupa ala suku Dayak, warok, hingga jubah padang pasir hadir dengan indah, lincah, dan meriah. Diiringi dengan suara kerincing kaki, musik gamelan, dan terbangan. Para penari terdiri atas anak-anak, remaja, hingga dewasa, semuanya bergerak dan berkeringat di atas panggung. Gerakan tari-tarian itu menggambarkan jiwa-jiwa bebas dan merdeka dengan gaya koreografi gerak rampak.

Di antara puluhan pertunjukan tari yang mengguncang panggung, tampil Otniel Tasman, penari lengger dari Banyumas. Ia meramaikan panggung pertunjukan bersama tiga penari perempuan. Tari lengger yang dibawakan sangat interaktif dengan penonton. Para penari itu mengajak beberapa penonton turut tampil di atas panggung. Gerakan tarinya mengundang gelak tawa dan sorak-sorai. Berbeda dengan Nungki Nur Cahyani yang berkolaborasi dengan David, seniman dari Jerman, Nungki membawakan tariannya dengan gerak yang kontemplatif diiringi suara nyanyian David.

Pertunjukan kolaborasi lintas seni juga dilakukan oleh kelompok musik Tridatu yang direspons dengan gerak oleh Yuuka Kayoma, penari dari Jepang. Tampil juga penyanyi balada Doni Suwung, eksperimen musik oleh Jake Parker Scoot dari Kanada, serta musik kontemporer dari Senyawa yang dibawakan Wukir dan Rully. Masih banyak lagi para seniman yang tampil menyemarakkan festival tahunan ini.

Perhelatan FLG XXI diselenggarakan sejak 30 September sampai 2 Oktober 2022. Selama tiga hari telah digelar berbagai macam pentas seni seperti musik, teater, tari, pembacaan puisi, dan monolog. Selain seni pertunjukan, diselenggarakan kirab budaya dan pameran seni rupa yang menghadirkan lukisan, aneka rupa topeng, instalasi, dan patung. Kesenian telah menjadi sebuah ritus kebudayaan yang menyalakan api kreativitas masyarakat.

Ingatan dan Putaran

”Dulu saya masih kecil hanya berlari ke sana kemari ketika Festival Lima Gunung diselenggarakan di desa kami. Sekarang saya menjadi salah satu panitia acara.”

Begitulah kata Ari, salah seorang pemuda Dusun Mantran Wetan. Ia menjelaskan bahwa FLG telah berlangsung selama dua dekade yang diselenggarakan secara bergantian di berbagai desa seputar lima gunung. Festival ini dikerjakan oleh seniman petani lima gunung dengan semangat gotong royong dari generasi ke generasi.

Membaca perhelatan FLG tidak sebatas keramaian pentas seni, tetapi menjadi ingatan kolektif masyarakat dari anak-anak hingga orang tua. Sebab, peristiwa kebudayaan tersebut memuat banyak nilai yang menyertai tumbuh kembangnya masyarakat.

Tema FLG XXI adalah Wahyu Rumagang yang mengandung makna: diperlukan daya, kekuatan, dan kegigihan untuk bekerja mewujudkan cita-cita. FLG dari tahun ke tahun diselenggarakan secara mandiri tanpa sponsor. Seniman penampil mendapatkan fasilitas berupa penginapan dan konsumsi di rumah-rumah penduduk.

Para seniman tersebut ada yang diundang dan ada pula yang mendaftar untuk turut menyemarakkan festival. Fasilitas dari warga juga disiapkan untuk tamu atau penonton yang datang dari luar kota seperti saya dan Daniel La yang awalnya sempat bingung akan menginap di mana. Ternyata para panitia dengan antusias menyambut kami, kemudian menunjukkan ruang konsumsi dan penginapan.

Pada hari ketiga diadakan kirab budaya yang diikuti warga dan tokoh masyarakat. Hadir pula Yenny Wahid, putri Presiden Ke-4 Republik Indonesia KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Seusai kirab budaya, Yenny Wahid berpidato tentang pentingnya menjaga semangat gotong royong dan nasionalisme. Sementara Sutanto Mendut, pemrakarsa FLG, dengan gaya humor ironinya menertawakan dunia perpolitikan Indonesia yang disambut gelak tawa dan tepuk tangan meriah oleh masyarakat.

Demikianlah perhelatan FLG XXI yang telah membawa masyarakat lima gunung dalam putaran gereget kreativitas, keberanian, ketahanan, tanggung jawab, dan pengetahuan. FLG akan terus bergulir demi lahirnya nilai baru dan masa depan yang berharga. (*)

ANDY SRI WAHYUDI, Penulis dan pantomimer

Editor : Ilham Safutra

Saksikan video menarik berikut ini:



Close Ads