alexametrics

Penyair Harus Ditendang

Oleh Budi Darma
4 April 2021, 18:41:15 WIB

Pendapat bahwa manusia mampu melihat realitas sebagaimana adanya diobrak-abrik Plato (428 SM). Dalam teorinya mengenai mimesis, yaitu menirukan, atau, kata modernnya, mengopi realitas.

KALAU ada orang mengaku bisa melihat sebuah realitas apa adanya, dan kemudian menuangkannya ke dalam puisi atau lukisan, itu hanyalah realitas berdasar persepsi penyair atau pelukisnya. Dan persepsi mencakup banyak aspek, misalnya kedewasaan, pengalaman, dan kecerdasan. Ada orang yang peka terhadap lingkungan, ada pula yang tidak.

Karena itu, sebuah objek yang sama, kalau dihadapi banyak pelukis, hasilnya bisa beda-beda. Dan kalau banyak pelukis dibebaskan untuk mencari sendiri objeknya dalam sebuah padang luas terbuka, hasilnya juga bisa berbeda-beda karena seleranya juga berbeda-beda. Katakanlah, seorang pelukis memilih pohon sebagai objeknya, pelukis lain memilih pemandangan gunung yang berada jauh di sana, dan pelukis lain memilih berbagai binatang di padang luas terbuka itu. Perbedaan ini terjadi mungkin karena selera pelukis-pelukis itu berbeda-beda.

Kalau hanya beda karena pengalaman dan kecerdasan, demikian pula karena selera, mungkin tidak menimbulkan bahaya. Tapi, kalau perbedaan itu sudah menyangkut ideologi, kekacauan bisa timbul. Berbagai ideologi yang berbeda bisa menghasilkan objek yang sama tapi berbeda-beda karena orientasi ideologi mereka berbeda-beda. Begitu sebuah ideologi mencengkeram seorang seniman, mau tidak mau seniman itu berpihak dan mengutuk seniman lain yang orientasi ideologinya berseberangan.

Tengoklah, misalnya, peristiwa ketika Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) milik PKI mendominasi kehidupan di Indonesia, konflik keras terjadi, dan semuanya mengerikan. Mereka yang tidak mau mengikuti ideologi PKI digilas, dipecat dari pekerjaannya, dan dikucilkan. Seniman yang tidak sejalan dengan ideologi PKI terpaksa berkarya dengan nama samaran, antara lain Goenawan Mohammad.

Editor : Ilham Safutra




Close Ads