alexametrics

Islam Nasida Ria, Islam Riang Gembira

3 Juli 2022, 11:49:59 WIB

Dalam diskusi novel Kambing dan Hujan karya Mahfud Ikhwan sekian tahun lalu, saya memberikan komentar bahwa akhir novel lebih baik cukup sampai pada keputusan Mif yang Muhammadiyah dan Fauzia yang NU ”untuk menikah”, karena hal itu sudah menunjukkan happy ending. Tidak perlu ada lagi satu bagian penutup yang menggambarkan acara perkawinan kedua pasangan beda organisasi keagamaan tersebut.

MAHFUD menanggapi dengan sebuah penjelasan yang, menurut saya, bisa menerima pendapat saya itu, tapi pada saat yang sama juga menolaknya dengan alasan yang menarik. Saya, kata Mahfud, menambahkan bagian penutup itu karena ingin menunjukkan bagaimana acara pernikahan di daerah saya –sebuah daerah di kawasan pantai utara– tidak bisa dipisahkan dari kasidah dan dangdut.

Dalam bagian penutup novel, Mahfud memang melukiskan dengan cukup lengkap acara perkawinan itu, termasuk bagaimana dan bilamana lagu-lagu kasidah dan dangdut diperdengarkan, dengan pelantang yang keras sekali selama tiga malam dua hari dan keterlibatan para undangan, tuan rumah, tetangga, dan pasangan pengantin sendiri. Bahkan Mahfud menuliskan judul-judul lagu yang seolah wajib diperdengarkan. Pesta perkawinan menjadi pesta warga kampung. Meriah dan gayeng.

Beberapa judul lagu disebut dengan eksplisit: Palestina, Dunia dalam Berita, Perdamaian, Jilbab Putih, Kota Santri, dan Pengantin Baru. Yang terakhir ini disertai liriknya. Meski tak disebutkan siapa pelantun lagu-lagu ini, para pembaca yang kenal tradisi masyarakat pantura akan tahu ini adalah lagu-lagu dari grup kasidah Nasida Ria asal Semarang.

Benar Saudara, saya ingat lagi Nasida Ria ini karena pertengahan bulan lalu mereka tampil di pertunjukan musik pembuka pameran seni rupa Documenta Fifteen di Kassel, Jerman. Documenta Fifteen sebenarnya merupakan ajang pameran seni rupa lima tahunan yang bergengsi, yang menghadirkan seabrek karya seni rupa dari berbagai belahan dunia. Di dalam pembukaannya, mereka biasa menggelar pertunjukan musik yang juga selalu menarik perhatian. Di ajang pembuka itulah Nasida Ria tampil.

Jika di Gentong, daerah yang menjadi latar belakang novel Kambing dan Hujan dan kawasan pantura umumnya, jelas sekali kedudukan musik ini, dan secara khusus Nasida Ria ini sebagai pengajaran agama via musik, sebagai hiburan, dan juga sebagai identitas budaya, apa artinya Nasida Ria bagi masyarakat Jerman dan Eropa umumnya? Pertanyaan ini mengemuka karena selera musik masyarakat Jerman seperti tidak nyambung dengan Nasida Ria. Bagaimana meletakkan Nasida Ria dalam konteks masyarakat Jerman dan Eropa sekarang ini?

Jerman, sebagaimana banyak negara Eropa Barat sekarang ini, di dalam hal keagamaan diwarnai oleh dua perkembangan yang tampak bersimpangan. Satu sisi kehadiran masyarakat muslim –baik dari imigran maupun hasil konversi– yang membuatnya sekarang menjadi agama kedua terbesar di Jerman dan Eropa Barat umumnya. Di dalam masyarakat Eropa, masyarakat muslim bergumul dengan persoalan-persoalan identitas keagamaan sekaligus identitas budaya. Sebagian mencari jalan keluar dengan masuk ke dalam, menutup diri, dan membangun markah yang bukan hanya berbeda, tapi juga kerap berseberangan dengan budaya Eropa, termasuk dan terutama misal dalam pandangan terhadap kesenian dan kedudukan perempuan.

Di sisi lain, perkembangan Islam dan masyarakat muslim yang pesat ini menimbulkan kekhawatiran di sebagian masyarakat Jerman dan Eropa umumnya. Islam, terutama dalam wajahnya yang eksklusif, dan lebih-lebih yang militan-radikal, dipandang sebagai ancaman. Hal ini di antaranya yang kerap menimbulkan sikap fobia.

Akhirnya sering kali sulit dideteksi mana fobia yang merupakan reaksi terhadap eksklusivisme muslim dan mana eksklusivisme yang merupakan reaksi terhadap fobia. Keduanya sama masuk dalam terowongan yang gelap, buntu, dan saling menghancurkan. Berbagai upaya dialog telah dilakukan untuk mencairkan situasi ini, termasuk menghadirkan rujukan dan pengalaman dari kawasan lain.

Dalam hal ini, saya kira, tim ruangrupa yang menjadi kurator Documenta Fifteen jeli dan cerdas. Mereka mendatangkan Nasida Ria sebagai salah satu grup musik yang tampil dalam ajang pembuka pameran seni rupa tersebut. Diam-diam, tanpa proklamasi, mereka turut memberikan pandangan yang mencoba menjembatani dan mencairkan situasi ini.

Nasida Ria mengaku sebagai grup musik Islam. Setuju atau tidak, itulah yang mereka usung dan itu juga citra yang terbangun selama hampir setengah abad usianya. Ada grup musik yang mengatasnamakan Islam adalah hal yang penting. Tapi yang lebih penting lagi, grup ini digawangi sembilan perempuan. Mereka memainkan instrumen musik Barat: gitar, biola, dan kibor, serta instrumen –jika kita boleh menyebutnya– musik lokal: suling dan gendang. Musiknya adalah musik kasidah, sebuah musik hybrid yang asal usulnya bisa dilacak dari perkembangan musik Melayu. Dengan selalu mengenakan jilbab yang cukup fashionable, mereka mendendangkan lagu dengan lirik berbahasa Indonesia, yang temanya universal seperti soal perdamaian dan/atau bahaya bom nuklir, juga kadang lokal seperti soal indahnya menjadi penganten dan suasana kehidupan pesantren. Dan tentu saja mereka bergoyang.

Nasida Ria, dengan demikian, sebuah pemandangan yang bisa jadi mengguncangkan, mengundang tanda tanya, dan mendorong renungan. Ia menjadi interupsi bagi pandangan kalangan muslim Barat yang eksklusif, emoh kesenian, dan bersemangat mendomestifikasi perempuan. Pada saat yang sama, ia juga menjadi semacam suara protes terhadap sikap fobia Barat terhadap Islam.

Nasida Ria, karena itu, juga bukan semata nama. Ia juga menjadi sebuah perlambang. Kelahiran dan keberadaannya yang panjang dan mengakar di masyarakatnya hanya dimungkinkan oleh sebuah masyarakat Islam yang cair dan terbuka, termasuk terhadap seni dan kedudukan perempuan. Ia sejenis cermin masyarakat Islam Indonesia. Saya sebut ”sejenis” karena ada banyak semacam Nasida Ria di Indonesia.

Dalam hal inilah saya menyebut kurator yang mengundang Nasida Ria ini jeli. Ia mencoba sedikit keluar dari lubang yang banyak menjebak kalangan yang bekerja dalam diplomasi kebudayaan selama ini yang senantiasa menghadirkan ”Indonesia” dengan tradisi masa lalu yang adiluhung. Juga tidak melulu mendesakkan ”Indonesia” yang sangat modern dan sejajar Barat. Ia mencoba menghadirkan Indonesia dengan Islam dan muslimnya sehari-hari. Itulah Islam Nasida Ria.

Di Gentong dan di pesisir utara umumnya, sesuatu semacam Nasida Ria membuat Islam menjadi cair, lembut, dan menyenangkan. Mungkin semacam itu juga yang kita harapkan dari penampilannya di Kassel, Jerman, tengah bulan lalu. (*)

HAIRUS SALIM HS, Direktur Gading Publisher dan pengelola Lumbung Informasi Kebudayaan Indonesia (LIKE Indonenesia)

Editor : Ilham Safutra

Saksikan video menarik berikut ini: