alexametrics

DokumenTARI: Membaca Tari dari Dalam

Oleh GALUH PANGESTRI, Penari dan Pembaca
3 Januari 2021, 15:30:49 WIB

Inilah hal-hal pertama yang saya alami pada hari pertama 2021:

MASAKAN pertama yang saya masak adalah nasi goreng. Pertanyaan pertama yang saya dengar (dari anak sendiri) adalah ’’politik itu apa?’’. Berita kematian pertama datang dari Surabaya, seorang teman kehilangan ibunya yang mengalami pendarahan otak. Buku pertama yang saya baca adalah Petualangan Tintin: Penerbangan 714 ke Sydney.

Terbatasnya gerak fisik, diam di tempat yang sama selama berhari-hari pada masa pandemi, mengaktifkan kepekaan hingga level yang kadang mengejutkan: kita menjadi peka atas benda-benda sepele, remah, dan hal-hal yang sebelumnya tak berarti. Bersamaan dengan itu, ingatan terhadap masa-masa normal, termasuk hal yang dulu ringan saja dilakukan di luar ruangan bersama kerabat, teman, atau orang-orang asing, malah menjadi terasa berharga.

DokumenTARI pada dasarnya program yang lahir karena, sekaligus untuk, mengaktifkan kepekaan atas dampak pandemi pada/dalam kehidupan para penari. Inisiatornya, Keni Soeriaatmadja, penari yang menggagas Sasikirana Dance Camp, membayangkan kehidupan para penari tanpa panggung seperti sekarang. Bukan hanya panggung yang raib bagi para penari, mungkin juga sebagian hidupnya.

Namun, benarkah penari tak lagi menjadi penari karena ketiadaan panggung?

DokumenTARI, dibayangkan oleh Keni, sebagai usaha membuktikan bahwa penari tetaplah penari dengan atau tanpa panggung secara harfiah. DokumenTARI hendak membuktikan tubuh kepenarian pada dasarnya lahir dari laku hidup sehari-hari, yang rutin, yang mungkin banal, juga jauh dari tatap penonton atau sorot lampu. Pendeknya: DokumenTARI ingin meneropong kehidupan seniman (tari) sebagai manusia biasa dalam hidupnya yang rutin.

Ia lalu mengundang beberapa penari muda (open call) untuk mengirimkan esai foto yang bersifat personal. Mereka yang terpilih kemudian mengikuti workshop yang mengajari para penari keterampilan menulis, berpikir, mengurasi, dan memahami gambar serta foto. Tujuan akhirnya: para peserta menciptakan foto esai yang bisa menjelaskan dirinya sendiri.

Program ini berangkat dari kesadaran pentingnya mengenal individualitas penari sebagai persona. Dari kehidupan penari sebagai individu itulah kesenian (seniman) dan publik (penonton) dapat makin dekat dan berdiri sama rapat. Bahwa panggung penari tidak harus disorot terang, tidak selalu riuh dengan tepuk tangan, bahkan kerap kali sepi.

Pendekatan ini diharapkan dapat menjembatani kesenjangan yang lebar sekali antara seniman tari dan publik umum. Bagi seniman tari, hal itu memungkinkan mereka menemukan posisi dirinya sebagai individu di dalam masyarakat, misalnya di lingkungan rumahnya sendiri.

Untuk bisa memenuhi rencana itu, DokumenTARI terutama menjalankan workshop dengan agenda melatih para peserta untuk berpikir kritis (critical thinking), terutama atas riwayatnya sendiri. Critical thinking akan menggiring kepada proses reflektif dan memulai untuk berpikir kritis ini tidaklah mudah. Sistem pendidikan di negara kita kurang mengapresiasi kebutuhan ini dan peserta didik di Indonesia tidak mengasahnya sebagai kemampuan dasar.

Ada beberapa metode berpikir kritis, DokumenTARI memulainya melalui metode life-narratives dengan melempar umpan pertanyaan: Siapa saya? Di mana posisi saya dalam kelompok? Apa peran saya?

Baca juga: Cerita di Balik Panggung Festival Gandrung Sewu Banyuwangi

Pertanyaan itu dilemparkan kepada sepuluh kontributor dari tujuh provinsi yang mengikuti program ini selama kurang lebih dua bulan untuk berefleksi dan menggali berbagai isu (masalah) dan interest (kepentingan). Kalau penari biasanya lelah karena kegiatan fisik dan beban mental untuk tampil optimal di atas panggung, kali ini para penari mengalami proses yang cukup melelahkan karena mereka menggali ke dalam diri masing-masing. Melelahkan, menantang, dan menghadirkan revelation (pengungkapan).

Apa perlunya sih melakukan penggalian ke dalam bagi para penari?

Pada tulisan saya lima tahun lalu di Jawa Pos, Menjaring Bulan lewat Sebuah Dance Camp, yang mengulas program rintisan Sasikirana Dance Camp, saya menyoroti kesibukan pegiat tari dalam mencari bentuk hingga sering lupa untuk memperkuat konsep dan gagasan. DokumenTARI sebagai platform turunan dari Sasikirana Dance Camp tanpa sengaja, tapi tetap dengan penuh kesadaran, mencoba mengisi kebutuhan itu. Karya yang berkualitas memiliki kemampuan untuk mengajak kita bersama-sama melemparkan pertanyaan. Sebab, jawaban tidak dapat kita peroleh apabila pertanyaannya salah.

Jadi, sudahkah para penari mengajukan pertanyaan yang tepat saat menyiapkan sebuah nomor pertunjukan?

Setelah dua bulan, para kontributor seri I DokumenTARI mengeluarkan output dalam bentuk foto esai. Foto yang mereka olah sendiri, esai yang mereka tulis sendiri, dengan dibimbing para mentor, yaitu Aquarini Priyatna, F.X. Widaryanto, Zen R.S., Sari Asih, dan Henrycus Napit Sunargo. Foto esai para kontributor dapat disimak di www.DokumenTARI.org dengan mengeklik dot-dot merah dalam peta Indonesia di halaman muka website.

Ada Zulfikar yang membahas isu toleransi dengan menyorot ketubuhan seorang Aceh. Ada Siska Aprisia dari Pariaman yang menilik-nilik perantauannya ke Jogjakarta sebagai petualangan atau ekskavasi. Dari Jawa Barat ada Ariel Mulyanegara yang menyorot kondisi aktual penari di masa pandemi, juga Arbi Nuralamsyah yang bolak-balik mengecek stigma dan sikap yang dia alami dengan menelusuri masa lalu.

Dari Jawa Timur ada Ayu Ridho dan Patry Eka Prasetya. Ayu mengamini metode pendidikan aliran Ki Hajar Dewantara yang memberikan tempat pada kesenian dalam tumbuh kembang anak didik. Patry, seorang lulusan sarjana seni universitas di Surabaya, menyelidiki pilihan-pilihannya dalam berelasi antarmanusia. Trina Acacia di Bali, penari dengan gelar sarjana filsafat, menjabarkan pemaknaannya tentang perjumpaan yang mengandung kerentanan karena sifat paradoks: keniscayaan akan perpisahan.

Yezyuruni Forinti, penari dari Maluku yang merasa kehidupannya tenang, aman, damai, dan baik-baik saja, kemudian harus beradaptasi dengan perpindahan dan lingkungan baru yang tak serbastabil. Tamara Hurulean juga dari Maluku, seorang calon pendeta yang ingin berkhotbah tak melulu dengan retorika, tapi dengan menari.

Dari karya foto esai para kontributor, kita dapat melihat bahwa kehidupan seorang seniman (tari) yang seolah gemerlap sesungguhnya memiliki sifat rentan seperti manusia pada umumnya. Inilah yang ingin disampaikan DokumenTARI, mengomunikasikan kesenian.

Pasca penayangan karya foto esai, DokumenTARI menyelenggarakan temu wicara pada 22 Desember 2020 dengan tajuk Ruang Aman Penari, Perlukah?. Diskusi dilakukan secara online melalui Zoom, dipandu Kennya Rinonce dan Adhika Annisa. Temu wicara dihadiri banyak tokoh kesenian, antara lain Maria Darmaningsih, Nungki Kusumastuti, Amna Kusumo, Eko Supriyanto, Rianto, Tommy F. Awuy, Tony Prabowo, F.X. Widaryanto, Renee Sariwulan, Putu Fajar Arcana, dan lainnya. Hadir pula sebuah perusahaan branding dari Bandung, Pot Branding.

Temu lintas bidang kesenian ini sangat berarti dan membawa kesegaran. Mempertanyakan ruang aman penari selain ruang pentas sangat berarti bagi pegiat tari, DokumenTARI diharapkan dapat menjadi tempat untuk seniman tari dapat saling menguatkan. (*)

 

Saksikan video menarik berikut ini:

 

Editor : Ilham Safutra


Close Ads