alexametrics
In Memoriam Bondan Nusantara (1952–2022)

Perginya Guru Ketoprak ”Rakyat”

Oleh MUHIDIN M. DAHLAN
1 Mei 2022, 05:39:30 WIB

Bondan Nusantara lahir dan mati di dunia ketoprak. Baca saja curriculum vitae penciptaannya yang membuat Anda tercengang: menulis 150-an lebih naskah lakon dan menyutradarai pentas lebih dari 500 kali.

IA adalah bangsawan ketoprak rakyat dalam pengertian sesungguhnya. Maksudnya, tak ada dunia lain darinya selain ketoprak. Saat jelang pecah ketuban pada Oktober 1952, ibunya yang menjadi primadona ketoprak masih menari di atas panggung. Saat pergi untuk selamanya pun pada 20 April 2022, ia masih bertungkus lumus dengan ketoprak. Terutama memastikan ketoprak tidak tumbuh sungsang, melainkan beregenerasi dan hidup adaptif dengan perkembangan zaman; sejak era tobong, radio, televisi, sinema, hingga terkini kanal-kanal video digital.

Beruntung, sebuah buku penting terbit belum genap setahun saat ia mangkat dengan tenang di tanah liat Kasongan, Bantul, Jogja. Ditulis Purwadmadi dari dekat sekali, buku biografi Bondan Nusantara: Mewajah Kethoprak Indonesia, merentangkan sebuah proses panjang anak manusia budaya. Bukan hanya sebagai pelestari seni pertunjukan rakyat, melainkan juga segenap ironinya.

Bahwa, ya, Bondan Nusantara tidak ingin ketoprak sungsang bersama menuanya ia dan rekan-rekan seangkatannya yang merasakan gemuruh ketoprak pada dekade ’80-an dan ’90-an. Karena itu, ia bersedia menjadi guru bagi warga, bagi remaja. Dari kampung ke kampung, dari kecamatan ke kecamatan di seantero Jogjakarta, Klaten, Semarang.

Ia tak memedulikan berapa upah. Yang ada di benak Bondan hanya agar nyala api ketoprak tetap ada. Sekaligus ini semacam perjanjian gaib bahwa ia mesti menjadi manusia berbagi dengan keistimewaan yang ia punyai.

Bondan sungguh sadar bahwa ia sebatang kara dalam perkara jenjang akademis dan memikul hingga tua kutukan ”dudu wong sekolahan”. Kedua orang tuanya ingin Bondan tidak perlu hidup dari tobong ke tobong seperti mereka. Mereka ingin Bondan belajar yang keras hingga sarjana agar ”dadi wong”, jadi orang.

Tapi, sejarah bekerja dengan raison d’etre-nya. Balon politik ’65 meletus. Bondan yang baru saja masuk SMP Negeri 3 Pajeksan terdepak dan menerima ibu terkasihnya, Kadariyah, dikerangkeng bersama aktor-aktor ketoprak Kridho Mardi di Kamp Plantungan, Ambarawa. Terluka, tersingkir, terlunta.

Nama yang disandangnya, ”Bondan Nusantara”, seperti luruh begitu saja. Bondan berasal dari nama tari yang dipanggungkan ibunya di depan warga Kampung Ngasem, Keraton, Jogjakarta, saat usia janin 9 bulan. Tari Bondan adalah tari seorang gadis menggendong bayi. Sementara, Nusantara disematkan karena kedua orang tuanya adalah barisan pendukung Soekarno yang mengobarkan semangat persatuan bangsa. Karena gak asyik bayi dinamai Indonesia, dipilihlah ”Nusantara”.

Ia mengarungi dunia remaja tanpa ibu. Seperti layangan kasih yang putus. Satu-satunya cara melihat wajah ibunya dari kejauhan, Bondan mesti menaiki bus DAMRI jurusan Jogjakarta–Semarang. Tak jauh dari dinding belakang penjara, dikereknya layangan kertas sebagai panggilan kepada ibunya bahwa ia tiba, ia menunggu, ia rindu.

Yang menarik adalah justru Bondan tidak menarik jarak dengan ”ketoprak” yang mendorong ibunya ke dalam kegawatan hebat karena kelompok ketopraknya dituding terafiliasi dengan Lekra.

Saat nasib ”dudu wong sekolahan” mencekau batang alam sadarnya, ia justru menghubungi seorang wanita sahabat ibunya yang dipanggilnya bude, yakni Sujilah. Sujilah adalah pegiat ketoprak Wargo Utomo. Jika Anda tidak kenal, Sujilah adalah ibunda Marwoto Kawer dan nenek dari MC beken Alit Jabang Bayi.

Di Wargo Utomo, Bondan remaja merasakan kali pertama atmosfer panggung yang justru oleh kesialan dan sekaligus mendapatkan ”wow” dari penonton saat celananya melorot sempurna. Ledakan tawa penonton tobong pun tak tepermanai.

Pilihan Bonda terjun total ke ketoprak searah dengan kebijakan politik baru. Kodim 0734/Jogja yang menyita aset Kridho Mardi pada 1966 rupanya berusaha menghidupkan ketoprak dengan langgam Orde Baru. Atmonadi dan ayah Bondan, Suyatin, dipanggil sebagai tenaga pelaksana. Lahirlah Dahono Mataram. Suyatin ditunjuk sebagai dalang, Atmonadi sebagai direktur, sementara kodim sebagai pelindung.

Di tingkat yang lebih luas, Kodam IV/Diponegoro juga menghidupkan kembali ketoprak. Kakak beradik, Bagong Kussudiardja dan Handung Kussudyarsana, ditunjuk menangani ketoprak Sapta Mandala.

Pada ketoprak Sapta Mandala inilah, terutama setelah perjumpaannya dengan Handung Kussudyarsana, titik balik kesadaran Bondan Nusantara terjadi. Pak Ndung, sepengakuannya, bukan saja sebagai gurunya melakoni ketoprak secara total, tetapi juga menyelamatkan hidupnya yang mewakafkan diri secara total untuk dunia panggung pertunjukan.

Jurnalis Budaya dan Penulis Lakon

Menjadi jurnalis dan penulis lakon sekaligus adalah dua matra yang didapatkan Bondan dari Handung dan juga S.H. Mintardja. Nama terakhir adalah penulis lakon yang kuat dan sekaligus novelis silat yang kemudian jejaknya coba diikuti Bondan saat ia kali pertama menerbitkan novelnya pada 2011 berjudul Rembulan Ungu: Tragedi Cinta Gadis Tionghoa di Bumi Mataram.

Dulu, ketoprak, sebagaimana laku di tobong-tobong, proses belajar lewat metode niteni, niroke, nambahi. Lewat mentornya yang juga paman dari Butet Kertaradjasa itu, Bondan perlahan mulai mengubahnya. Ketoprak sebagaimana teater modern adalah ilmu pengetahuan. Bisa dipelajari. Ada teorinya, ada praktiknya. Talentanya sebagai jurnalis di Kedaulatan Rakyat dan Bernas membuatnya cepat beradaptasi. Di Padepokan Seni Bagong Kussudiardja, saat ditunjuk sebagai staf pengajar, Bondan dipaksa paham teori.

Maka, jalan menulis naskah lakon sesungguhnya adalah metode Bondan untuk belajar banyak hal, termasuk membaca esai-esai politik. Dengan menulis lakon, ia harus punya sangu pengetahuan yang luas. Salah satunya memamah sebanyak-banyaknya buku. Dari mana Bondan mendapatkan aliran pengetahuan menyusun lakon dan adegan kalau bukan dari membaca tumpukan buku sejarah, pahlawan, cerita dan dongeng, sastra, maupun ekonomi politik.

Sekolah tinggi boleh tidak punya, tetapi lewat Handung, ia diajak bersekolah budaya membangun koneksitas yang disebut Bondan sebagai mara sanja, sapa aruh. Saat Handung berkunjung dan ngobrol dengan tokoh budaya, saat itulah Bondan menjadi menjadi spons; pembelajar yang menyimak dan meresapi.

Yang menarik adalah Handung selalu memakai kunci pas pembuka perkenalan dengan menyebut ”Kadariyah” untuk menunjuk Bondan Nusantara. ”Putra dari Kadariyah” adalah kartu truf. Semacam tiket belajar yang ironis. Memang, Bondan dinaungi cahaya kasih dari seorang ibu. Sukma Kadariyah merasuk dalam jiwanya. Menjadi karakternya. Disayangi semua orang, walau menjadi seorang tapol. Sebagaimana Kadariyah, Bondan juga diterima di mana saja karena ia tahu cara bergaul; dengan senior, dengan yang lebih muda.

Coba simak komentarnya atas sosok sutradara Hanung Bramantyo. Ia kerap diajak Hanung untuk main di film yang disutradarainya, seperti Sang Pencerah dan Kartini.

”Saya ini sering berkata dalam hati. Hanung mengajak saya main film pasti bukan karena saya aktor, sepertinya ingin memberi sesuatu kepada teman lama yang sama-sama mencintai panggung kesenian karena dulu Hanung pemain teater,” ucap Bondan.

Dengan kerendahan hati seperti itu, ia menggotong ketoprak. Ragam jenis ketoprak sudah ditanganinya, mulai ketoprak kampus hingga ketoprak karyawan, seperti PJKA, Batan, Intan Pariwara, Amigo Group. Termasuk ketoprak multimedia sebagaimana pementasan teater modern.

Ketoprak ”Rakyat”

Tapi, tidak ada yang membuatnya sangat bersemangat adalah ketika bersentuhan dengan ketoprak warga maupun ketoprak pelajar. Ketoprak ”warga” atau ketoprak rakyat adalah usahanya menjaga api ketoprak yang dinyalakan ibunya tidak padam dan menghilang dari muasalnya. Ketoprak rakyat membuatnya belajar bahwa hidup haruslah punya daya juang, lentur, adaptif.

Sementara, pada ketoprak pelajar ia menemukan jalan regenerasi. Maka, betapa gembiranya Bondan Nusantara menyambut tawaran Edy Sulistyanto untuk jadi guru ekstrakurikuler ketoprak di salah satu sekolah swasta di Klaten.

Tawaran dari pemilik usaha Amigo Group itu menjadi jalan awal lahirnya Festival Ketoprak Pelajar (FKP) di mana Bondan terlibat sebagai pelatih. Itulah festival di mana ratusan siswa antusias menjadi pemain dan terlibat dalam ketoprak.

Pada akhirnya, Bondan memang ”dudu wong sekolahan”, tapi tradisi belajarnya yang gigih membuatnya menjadi guru besar kebudayaan, sebagaimana mentornya, Handung Kussudyarsana. Talenta yang dipunyainya sebagai pemain, sutradara, penulis, manajer, pelatih sudah cukup menjadikannya sebagai seniman budaya paripurna. (*)


*) MUHIDIN M. DAHLAN, Penulis, tinggal di Jogjakarta

Editor : Ilham Safutra

Saksikan video menarik berikut ini:



Close Ads