alexametrics

Lebaran, Iklan, Ingatan

Oleh BANDUNG MAWARDI
1 Mei 2022, 05:28:20 WIB

Pada abad XXI, mata kita pernah tersiksa dengan spanduk dan baliho. Di situ, dimuat foto kaum politik dan logo partai politik. Kata-kata dicetak memang terbaca bermisi kebaikan. Mereka mengaku minta maaf. Permintaan berlagak sempurna: lahir dan batin. Lebaran berdekatan dengan hajatan demokrasi pernah menjadikan pemandangan di pinggir jalan tampak berantakan. Kita mengingat dengan malu, berharap tak berulang.

PENGALAMAN berbeda membuat publik ”wajib” mengingat permintaan maaf di spanduk dan baliho dilakukan oleh perusahaan atau toko. Mereka bernalar komersial dalam keseharian, tapi jeda demi Lebaran. Maaf menjadi diksi mengeratkan bisnis dan pembuktian turut meramaikan Lebaran. Mereka terus saja membuat pemandangan jalan sesak dan ruwet tanpa harus berkaitan dengan hajatan politik.

Kita mengenang masa lalu saat Lebaran memicu perusahaan-perusahaan penerbitan majalah bermain siasat dengan relasi dan pembaca. Siasat menggunakan halaman-halaman dalam majalah, tak seperti pihak-pihak yang menjadikan jalan dan ruang publik amburadul.

Di majalah Panjebar Semangat edisi 5 Maret 1960, ada pengumuman penting dan menguntungkan. Pengumuman disertai gambar lelaki memukul beduk. Gambar mengabarkan menjelang Lebaran. Isi pengumuman berbahasa Jawa: ”Sarana matjak iklan (pariwara) alal-bihalal, ing kalawarti kita – ateges nindakake silahturachmi marang tetepungan 75.000, lan asma pandjenengan bakal ditepungi dening apese 200.000 para maose Panjebar Semangat.”

Para pembaca dibujuk membuat iklan untuk ucapan Lebaran. Pihak redaksi menjanjikan nama pembuat ucapan Lebaran bakal terbaca ribuan orang berdasar jumlah pembaca rutin Panjebar Semangat. Nama dan ucapan menjadikan pelbagai pihak terhubung dalam kebahagiaan Lebaran. Pembuat ucapan wajib mengeluarkan anggaran demi termuat dalam Panjebar Semangat. Kita anggap itu kerja sama saling menguntungkan.

Pada masa 1950-an, penerbitan majalah-majalah sadar akan pengistimewaan edisi berkaitan dengan hari suci agama, hari nasional, atau peristiwa akbar. Kita membuka majalah Minggu Pagi edisi 22 Juni 1952. Terbitan istimewa: ”… dimuat beberapa karangan dan tulisan mengenai dan jang ada hubungannja dengan Idul Fitri. Sekedar untuk memeriahkan Lebaran kita.”

Iklan-iklan dan ucapan Lebaran di puluhan halaman makin memastikan nomor istimewa. Kita menemukan ucapan Lebaran dan iklan dari toko kue, toko batik, pabrik tegel, bank, rumah makan, toko buku, bengkel, perusahaan angkutan, orkes keroncong, hotel, toko bunga, dan lain-lain. Iklan agak mengejutkan bagi kita diajukan oleh Persatuan NV. Orang-orang perbukuan mengetahui persatuan itu percetakan beralamat di Jogjakarta. Kita membaca keterangan singkat: ”Berdirinja sedjak tahun 1925.” Percetakan turut membentuk sejarah kepustakaan di Indonesia. Percetakan mau berusia seabad. Di majalah Minggu Pagi, terbaca sesumbar: ”Satu-satunja pertjetakan Indonesia jang tjepat, murah, rapih.” Kita kadang teringatkan hal-hal ”bersejarah” bila tekun mengikuti majalah-majalah edisi Lebaran.

Siasat berbeda pernah dilakukan oleh Jajasan Dharma dalam menerbitkan majalah Mimbar Indonesia. Iklan-iklan bertema Lebaran dimuat dibarengi tulisan-tulisan menjadikan Lebaran makin bermakna bagi pembaca. Di majalah Mimbar Indonesia edisi 29 Mei 1954, redaksi memuat salinan ucapan resmi dari Presiden Republik Indonesia Soekarno: ”Marilah kita sebagai ummat jang tak luput dari dosa dan kealpaan saling maaf-memaafkan lahir-batin, dan marilah bersama-sama berdoa untuk kebahagiaan bangsa dan kesedjahteraan seluruh negara kita.” Ucapan mengandung pesan politik. Orang-orang masa lalu maklum membaca pesan dalam lembaran majalah, tak perlu mata tersiksa saat melintasi jalan berlatar abad XXI disesaki poster dan spanduk mengandung hasrat politis.

Sejak masa 1950-an, kita bisa mengumpulkan ratusan atau ribuan edisi beragam majalah dalam tema Lebaran. Majalah-majalah biasa tampil berbeda dan memberi pengistimewaan. Lebaran diartikan menguatkan jalinan penerbit bersama relasi, menguatkan kesetiaan pelanggan, dan pemerolehan untung dari iklan-iklan. Kita sulit menduga penjualan majalah meningkat atau stabil berkaitan dengan Lebaran.

Kita mengandaikan Lebaran dialami orang-orang masa lalu itu bacaan. Mereka membaca majalah. Sekian jenis majalah memiliki pembaca berhak mengartikan Lebaran dan segala hal melalui berita, artikel, cerita pendek, foto, puisi, dan lain-lain. Di rumah dan pelbagai tempat, orang-orang membuka halaman-halaman majalah. Mereka duduk tenang untuk membaca diselingi minum dan makan camilan. Adegan tampak terhormat. Dulu para pembaca majalah bertema Lebaran mungkin orang-orang berkecukupan. Pada masa 1950-an dan 1960-an, anggaran untuk berlangganan atau membeli majalah tak sedikit.

Indonesia menjadi negara ramai majalah. Iklan-iklan dimuat dalam majalah memungkinkan berdampak dalam membujuk dan membentuk selera konsumen. Lebaran tak luput dari pembuatan iklan memadukan pesan-pesan religius, komersial, politik, sosial-kultural, dan lain-lain. Kini kita bisa membaca ulang beragam iklan dalam majalah-majalah bersuasana Lebaran untuk mengetahui situasi zaman, penggunaan bahasa, dan selera rupa. Kita membandingkan dengan tata pergaulan baru di zaman bergawai. Bentuk ucapan dan iklan berkaitan dengan Lebaran makin ramai, bersaing dalam klise dan duplikasi.

Majalah-majalah lawas dengan keberlimpahan iklan membuat kita penasaran masa lalu. Orang-orang bermajalah dan mengalami Lebaran. Mereka sebagai pembaca, menghadapi beragam menu dalam Lebaran, tak melupa sajian iklan-iklan mungkin menggoda atau menjenuhkan. Masa lalu itu bacaan-bacaan berwujud cetak. Kita mungkin bakal makin kesulitan bergerak ke masa lalu saat majalah-majalah itu punah atau ”terkubur” di babak-babak petaka. Kemauan membaca bentuk ucapan dan iklan bertema Lebaran kadang membuat kita bisa berjarak dari dilema dan klise zaman bergawai. Begitu. (*)

BANDUNG MAWARDI, Penulis Nostalgia Bahasa Indonesia: Pelajaran dan Bacaan (2022)

Editor : Ilham Safutra

Saksikan video menarik berikut ini:



Close Ads