alexametrics

Tiga Laki-Laki Lumpuh

Oleh KIKI SULISTYO
24 Juli 2022, 10:22:03 WIB

Apa yang diceritakan Rampek kepada Astabib Saleh memang betul. Namun, tidak semuanya. Rumah itu tak menyeramkan. Tak ada hawa dingin ganjil yang katanya bisa menyusup sampai ke tulang tengkuk dan membuatmu membeku. Tak ada benda-benda aneh, atau suara-suara asing yang bisa membuatmu merasa berada di dunia lain. Akan tetapi, penghuni rumah itu memang tiga orang laki-laki. Semuanya bertampang serupa, seperti kembar tiga. Semuanya duduk di lantai dengan kaki tertekuk ke belakang. Semuanya lumpuh.

KABAR tentang tiga laki-laki lumpuh itu diperoleh Astabib Saleh dari Nancy van Lingsar, seorang pekerja sosial yang mengabdi di lembaga swadaya masyarakat untuk persoalan lingkungan. Nancy punya pengalaman panjang. Sebelum ke urusan lingkungan, ia pernah bekerja untuk lembaga yang mengurus advokasi anak dan isu-isu agraria. Ia bahkan pernah bergabung dengan komunitas bawah tanah yang meneliti hubungan antara situasi politik dengan kemunculan UFO. Di komunitas itu ia mengenal Astabib Saleh.

Kepada Astabib Saleh, Nancy berkata: ”Menurutku kamu perlu mencari mereka. Aku punya keyakinan, kelumpuhan mereka ada hubungannya dengan penampakan piring terbang yang pernah kamu ceritakan.” Astabib Saleh langsung bertanya panjang lebar soal alamat, nama para lelaki itu, serta cerita-cerita yang sudah Nancy dapatkan. Namun, Nancy cuma bisa menjawab soal alamat. Tiga laki-laki lumpuh itu tinggal di Pulau Sombara; pulau kecil yang, dari ibu kota provinsi, harus ditempuh dengan dua kali menyeberang selat.

Sebelum memutuskan berangkat ke Sombara, Astabib Saleh bertanya kepada beberapa kawan yang dikenalnya. Termasuk ke beberapa orang yang dulu bergabung bersamanya dalam komunitas UFO. Tak ada satu pun yang pernah mendengar cerita tentang tiga laki-laki lumpuh itu. Jannah Jahana, atasan Nancy, yang juga dikenal dan mengenal Astabib Saleh, juga mengaku tak tahu-menahu soal itu. Ia malah berkata: ”Hei, kami kekurangan peneliti. Bagaimana kalau kau bergabung dengan kami?” Astabib Saleh tak hirau, baginya info tentang penampakan piring terbang lebih penting dari segalanya.

Di atas kapal yang menyeberang ke Pulau Nantaga, dari mana ia nanti akan menuju Pulau Sombara, Astabib Saleh bertemu dan berbincang-bincang dengan Rampek, seorang juragan sapi yang berkain sarung, bersandal karet, dan berkaus iklan baterai. Sosok Rampek membuat Astabib Saleh teringat Semar, setidaknya Semar dalam versi ”Ria Jenaka” yang disiarkan TVRI dan sering ditontonnya di masa kecil. Rampek tahu soal tiga laki-laki lumpuh itu. Ia juga tahu rumah mereka, lengkap dengan gambarannya. Soal kelumpuhan tiga laki-laki itu, Rampek berkata: ”Mereka sudah tebang pohon. Bukan pohon biasa. Pohon simbit di dekat mata air. Itu tidak boleh. Makanya mereka lumpuh. Kasihan. Mereka yatim piatu. Tapi tidak ada yang berani bantu mereka. Takut ikut kena kutuk…”

Keterangan itu agak mengecewakan Astabib Saleh. Ia berharap Rampek akan bercerita bahwa kelumpuhan tiga laki-laki itu terjadi setelah mereka melihat benda besar melayang-layang di langit malam. Perasaan kecewa membuat Astabib Saleh bertanya: ”Apakah mereka melihat ada sesuatu di langit setelah mereka menebang pohon itu?”

”Ada sesuatu bagaimana? Helikopter polisi maksudnya? Tidak. Tidak ada. Polisi tidak masuk kawasan itu. Polisi cuma diam di gardu.”

”Bukan. Maksud saya, mungkin mereka melihat sinar yang terang, misalnya?”

”Sinar terang? Ada-ada saja. Tidak ada apa-apa di hutan. Kecuali Bakebera. Itu yang bikin mereka lumpuh. Tahu Bakebera? Penunggu mata air. Jangan main-main sama Bakebera. Masih untung mereka cuma lumpuh, ada yang sampai gila.”

Astabib Saleh makin kecewa. Ia tak lagi berminat bicara panjang lebar dengan Rampek. Setelah bertanya jalan terbaik menuju Sombara, ia pindah tempat duduk.

Setengah jam terakhir menuju Pelabuhan Potano di Pulau Nantaga, Astabib Saleh tertidur. Dalam tidurnya ia bermimpi berada di kapal bersama Nancy van Lingsar dan Jannah Jahana. Nancy dan Jannah menunjuk-nunjuk langit dengan paras takjub. Ketika Astabib Saleh hendak menengok, kuduknya terasa kaku, tak bisa digerakkan. Ia berusaha melangkah, tapi kakinya juga tak bisa digerakkan. Ia menjerit, tapi tak ada suara yang keluar. Ia baru sadar ketika tubuhnya terguncang-guncang, dan ketika membuka mata dilihatnya Rampek sudah duduk di dekatnya. Semar itu berkata: ”Nah. Kamu bermimpi. Sebaiknya batalkan rencana kamu ke Sombara. Bakebera tidak suka kamu datang ke sana.” Astabib Saleh jengkel dengan peringatan itu. Ketika kapal bersandar, ia segera menuju tangga turun tanpa mengucapkan apa-apa.

Berdasar petunjuk Rampek, Astabib Saleh tidak menumpang perahu di pelabuhan resmi. Ia berjalan agak ke utara, memasuki kawasan pantai yang sepi, lalu menemukan rumah-rumah kecil dan beberapa perahu berderet-deret. Ia menyewa sebuah perahu. Perjalanan memang lebih jauh ketimbang kalau menggunakan perahu resmi, tapi ia bisa tiba di bagian tepi yang lebih dekat dengan kediaman tiga laki-laki lumpuh itu. Jadi ia tak perlu lagi berjalan memutari pulau, hal yang harus dilakukannya apabila menumpang kapal resmi.

Hari sudah malam ketika perahu kecil yang ditumpanginya sampai di tepi Pulau Sombara. Begitu menginjak pasir pantai Sombara, Astabib Saleh langsung mendongak ke langit. Lengkung kubah angkasa kelihatan agung dengan bintik-bintik sinar berserakan disebabkan oleh cahaya bulan yang melimpah-limpah. Ia berharap melihat piring terbang. Namun, seperti biasa, tak ada pengulangan untuk hal semacam itu. Di antara semua anggota komunitas UFO, cuma ia yang masih punya obsesi dengan kemunculan objek-objek tak dikenal. Obsesi yang terus dijaganya, meski komunitas itu sudah lama bubar, dan ia sendiri sering disibukkan pekerjaan sebagai peneliti lepas.

Cuma sekali saja ia betul-betul pernah melihat piring terbang. Itu terjadi pada 27 Januari 2008. Ia sedang merenungkan sebuah peristiwa besar yang terjadi pada hari itu sambil berjalan ke lapangan dekat alun-alun di seberang kantor dewan tempat ia bersama kawan-kawannya, sepuluh tahun sebelumnya, pernah melaksanakan demonstrasi besar-besaran. Dalam penglihatannya, piring terbang itu bukan hendak turun, melainkan naik. Seolah-olah piring terbang itu kendaraan rahasia yang juga mengangkut rahasia-rahasia ke suatu tempat yang tak bisa dikira-kira tingginya.

Setelah berjalan beberapa lama, Astabib Saleh segera bisa menemukan rumah tiga laki-laki lumpuh. Di sana ia menyimpulkan apa yang diceritakan Rampek kepadanya memang betul. Namun, tidak semuanya. Rumah itu biasa saja, sebagaimana kebanyakan rumah di kawasan itu. Astabib Saleh mengatakan terus terang tujuannya datang; bahwa ia ingin memastikan apakah kelumpuhan tiga laki-laki itu ada hubungannya dengan penampakan piring terbang. Tiga laki-laki lumpuh bersimpuh di lantai dan saling menatap. Mereka betul-betul serupa. Bahkan pakaian mereka sama: kemeja kuning kumal dengan kantong di bagian kiri dada. Hanya, di masing-masing kantong tercetak huruf-huruf yang berbeda. Ada E, P, dan K.

E bertanya kepada yang lainnya: ”Pigimana?” Dua laki-laki yang lain serempak mengangguk. Mata mereka yang tipis berkedip-kedip. E bertumpu pada kedua tangan, menyeret kakinya ke ruang dalam. Beberapa saat kemudian ia kembali sembari membawa selembar amplop. Ia menatap dua laki-laki yang lain seakan belum yakin dengan persetujuan mereka. Dua laki-laki yang lain kembali serempak mengangguk, dan mata mereka kembali berkedip-kedip.

Astabib Saleh menerima amplop itu. Sebelum E melepas amplop dari tangannya, ia berkata: ”Semua yang kamu dengar tentang kamini tidak benar. Kamini tidak pernah menebang pohon di dekat mata air. Tak ada seorang pun yang punya kuasa membuat kamini seperti ini. Kamini sendiri yang menginginkannya. Begitu kamu melihat isi amplop ini, kamu akan lebih mengerti. Tapi jangan buka di sini. Kamini tak sanggup melihatnya lagi. Pergilah dari sini terlebih dahulu. Kalau mungkin pulanglah. Masih ada perahu yang tersedia untuk menyeberang kembali.”

Begitu E melepas pegangannya pada amplop, Astabib Saleh menimang-nimang lembaran itu. Ringan, seperti sesuatu yang tak punya nilai guna.

Merasa tak ada yang bisa didapatkannya lagi, Astabib Saleh pamit. Ia berjalan menjauh dan baru memutuskan apa yang harus dilakukan ketika ia melihat di pantai ada sebuah perahu dengan tali penahan terikat pada tonggak kayu. Tanpa berkata apa-apa, tanpa tawar-menawar harga, pemilik perahu segera melepas tali penahan. Astabib Saleh memutuskan kembali menyeberang. Pulang.

Di atas perahu yang melaju pelan, Astabib Saleh membuka ponselnya. Cuma ada sedikit sinyal, tapi ia masih bisa melihat sejumlah pesan masuk. Dari Nancy van Lingsar ia membaca: ”Mbak Jannah bilang ia sudah dapat informasi!” Dari Jannah Jahana ia membaca pesan: ”Aku sudah dapat informasi. Mereka itu lumpuh karena wabah cikungunya. Orang tua mereka meninggal juga karena itu. Bagaimana tawaranku?”

Astabib Saleh menutup ponselnya. Diambilnya amplop tadi, lantas mengeluarkan isinya. Selembar kertas terlipat. Di bagian depan, ia melihat gambar. Ia mengenali figur dalam gambar itu. Figur Semar. Namun, Semar yang ini mengenakan pakaian loreng dan jubah yang menjuntai di punggungnya. Di bagian belakang tak ada gambar atau tulisan apa pun.

”Sudah saya bilang kamu akan ikut kena kutuk. Sekarang kamu harus ikut saya. Kalau tidak, semua orang bisa celaka!” Astabib Saleh mengangkat kepalanya. Ia seperti kenal suara itu. Betul. Di tengah selat kecil yang sepi, di atas perahu, persis di hadapannya, Rampek berdiri dengan dayung kayu di pundak. Ia mirip seorang tentara yang sedang memanggul senapan. (*)

 

Kekalik, April–Juni 2022

KIKI SULISTYO, Lahir di Kota Ampenan, Lombok. Kumpulan cerpennya yang terbaru, Musik Akhir Zaman, segera terbit. Selain mengurus Komunitas Akarpohon, ia mengajar di Perguruan Mawar Besi.

Editor : Ilham Safutra

Saksikan video menarik berikut ini: