alexametrics

Farida Sudah Pulang

Oleh: KIKI SULISTYO
23 Januari 2022, 11:26:09 WIB

Dulu Amrozi sering melihat Farida berdiri di belakang meja sebuah warung kecil, melayani orang-orang yang datang memesan kopi dan camilan dan menghabiskan waktu dengan berbincang membahas persoalan-persoalan di sekitar mereka. Farida selalu mengenakan kain untuk menutupi rambutnya. Pipinya kemerahan seperti cabai setengah matang. Bulu-bulu matanya tebal seolah bukan bulu, melainkan kawat-kawat logam. Sepasang anting tergantung di telinganya, bergoyang-goyang setiap kali kepalanya bergerak.

FARIDA sudah menarik perhatian Amrozi sejak Amrozi masih berseragam sekolah dasar. Setiap hari Amrozi menantikan saat-saat dirinya berbelanja di warung Farida; membeli kembang gula atau dipang kacang. Kadang dia sengaja meminta kembang gula dengan warna-warna tertentu hanya agar punya alasan berlama-lama di warung itu. Farida akan selalu memenuhi permintaannya, dan dia bisa mengamati wajah Farida sampai puas.

Amrozi tahu Farida itu istri Tuan Kasdut, laki-laki yang jumlah istrinya seperti bersaing dengan jumlah bercak panu di tubuhnya. Meski Amrozi menyukai Farida, dia sama sekali tak menyukai Tuan Kasdut. Pikiran bocahnya bahkan bisa menangkap suatu ketidakadilan; bagaimana mungkin Farida bisa tahan dalam waktu lama di dekat Tuan Kasdut jika tiap saat laki-laki itu selalu marah-marah? Tuan Kasdut bahkan pernah memarahi Amrozi hanya karena Amrozi memetik daun-daun banten di pagar halaman rumahnya. Padahal, dalam pikiran Amrozi, daun-daun itu sama sekali tak ada gunanya.

Rasa tak sukanya pada Tuan Kasdut menumbuhkan juga rasa tak sukanya pada Tuan Kusni. Keduanya dipanggil ”Tuan” karena konon sama-sama keturunan bangsawan. Keduanya juga akrab satu sama lain seakan-akan gelar ”Tuan” itu telah menyatukan mereka. Pernah kedua Tuan ini memarahi Amrozi pada waktu bersamaan. Saat itu Amrozi datang ke warung untuk membeli kembang gula. Dia sedikit kecewa karena tak melihat Farida. Yang ada cuma Tuan Kasdut dan Tuan Kusni sedang bersenda gurau di bangku panjang. Melihat Amrozi, Tuan Kasdut merasa kesal. Dia bilang, ”Ganggu orang aja. Mana belanjanya cuma sedikit begini!” Amrozi merasa kecut. Sempat diperhatikannya bercak-bercak panu di badan Tuan Kasdut yang cuma mengenakan kaus singlet. Ketika Amrozi beranjak dari warung, giliran Tuan Kusni yang memarahinya. Tuan Kusni bilang, ”Kalau datang ucap salam! Ndak pernah diajari mamaknya ya. Kenapa rambutmu merah begitu?” Amrozi makin kecut. Diusap-usapnya rambutnya yang memang kemerahan. Rambutnya merah bukan karena disemir, melainkan karena sering terbakar matahari. Timbul suatu bayangan dalam pikiran Amrozi; seandainya dia punya bom, dia akan meledakkan kedua orang itu.

Amrozi tak begitu ingat sejak kapan Farida menghilang. Warung Farida sepertinya juga ditutup bersamaan dengan itu.

Editor : Ilham Safutra

Saksikan video menarik berikut ini:



Close Ads