alexametrics

Rumah Itu, Rumah Opium

Oleh INDAH DARMASTUTI
22 Mei 2022, 07:42:07 WIB

Aku sedang berada di depan gerbang rumah besar, mencari-cari tombol bel pintu ketika sebuah mobil berbelok dan lampunya menyorot persis pada gerbang di depanku. Spontan aku berbalik, tanganku melindungi mata dari silau lampu. Seorang lelaki muda turun dari jok kemudi. Ia kurus, tetapi terlihat kuat dan liat. Bergegas ia mendekat padaku.

Anda mencari siapa?” ia bertanya.

”Saya mencari pemilik rumah ini, Pak,” kataku sedikit membungkuk.

”Ada perlu apa?”

”Hanya berkunjung, Pak.”

”Maaf, rumah ini tidak menerima tamu tidak penting,” katanya kemudian kembali masuk mobil dan tak lama berselang gerbang dibuka dari dalam. Aku menepi. Tanpa hirau padaku mobil hilang di balik gerbang yang kembali tertutup. Senyap.

Aku meninggalkan rumah itu tanpa tergesa. Berjalan menyusur gang-gang yang nyaris kuhafal dan tahu siapa pemilik rumah-rumah berpintu kayu kukuh di wilayah ini. Hampir semua rumah itu pernah aku sambangi karena memang sedang disiapkan menjadi destinasi wisata bagi pencinta bangunan tua dan aku adalah salah satu konsultannya di bagian narasi sejarah.

Beberapa di antara rumah itu hanya dihuni pegawainya, orang-orang kepercayaan, tukang kebun, atau siapa pun yang hanya dikunjungi pemiliknya sekian bulan sekali. Dari semua pemilik rumah tua itu, ada yang kukenal cukup dekat, salah satunya rumah peninggalan Nio Am yang dibangun oleh beberapa generasi sebelumnya. Dia kawan dekat A ma –nenekku. Mereka sama-sama merintis usaha batik di Lasem ini. Memang kebanyakan warga peranakan di sini membuka usaha batik pada masa itu. Beberapa di antara mereka masih berlanjut. Selebihnya rumah-rumah pembatikan dibiarkan mangkrak seperti milik A ma-ku.

Usaha batik Nio Am dilanjutkan keturunannya hingga sekarang, tetapi usaha batik A ma terkapar. Bagi keturunan Nio Am, aku adalah anak yang mendurhakai impian keluarga. Berkali-kali mereka membujukku agar mau membangkitkan usaha batik dari kematian, tetapi aku menolak. Aku merasa tak punya bakat menjalankan produksi batik. Aku cukup senang usaha batik yang dijalankan keturunan Nio Am tetap mampu bersaing di zaman crypto dan bitcoin ini.

Aku lebih memilih mencari sebab mengapa di masa lalu beberapa penduduk kota kecilku ini keluarganya mudah diporak-porandakan. Hidup di bawah bayang-bayang ketakutan dan tekanan dari penguasa waktu itu karena kami China.

Aku ingin tahu apa sebab A kong –kakekku– sering dijemput orang lalu dikembalikan dalam keadaan linglung, aku ingin tahu apa sebab papaku sering ketakutan setelah membaca surat kabar, dan aku ingin tahu mengapa mama bunuh diri. Terlalu muda usiaku waktu itu untuk memahami apa yang sedang terjadi dalam keluargaku, di sini di kota kecil ini.

Aku memutuskan pergi meninggalkan kota ini dan bertekad menjadi orang yang mengamati dari jauh. Karena membutuhkan jarak dan menjadi yang dilupakan untuk mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi waktu itu.

Aku pindah sekolah lalu kuliah di beda-beda kota sambil terus mengamati kotaku, baik dari perkembangannya maupun sejarahnya. Termasuk sejarah keluargaku. Rupanya waktu itu A kong menjadi sapi perah penguasa.

Butuh waktu lebih dari tiga dekade untuk berani kembali menginjakkan kaki ke Lasem ini dan kedatanganku ke rumah tadi untuk meluruskan silsilah masalah. Aku tak berniat membalas dendam dan sepertinya aku tak mampu. Tidak mungkin aku bisa membuatnya bangkrut, tetapi setidaknya aku bisa membuat tidurnya terganggu hanya dengan mengembalikan ingatan-ingatannya.

Entahlah, apakah nanti aku bisa menahan diri untuk tidak menunjukkan kejahatan yang mereka lakukan pada A kong dan A ma, pada papa dan mamaku, aku tak yakin. Meskipun sebenarnya aku sudah menganggap itu bagian dari sejarah persaingan bisnis dan adu panjang lidah untuk menjilat penguasa.

Rupanya zaman tak menggeser posisi rumah yang berusia dua ratus tahun itu. Tentu saja bukan hanya karena di pintu gerbangnya tertulis huruf China yang bermakna panjang umur dan makmur kaya raya, tetapi karena hingga sekarang penghuni rumah itu masih menempel pada penguasa.

Di abad lalu, di permukaan mereka menjadi abdi, tetapi di dalam rumah mereka menyimpan dan mengoperasikan bisnis opium di pasar dunia. Hanya keluarga A kong yang tahu bagaimana mereka mengurus dan mendistribusikan opium lewat jalur-jalur rahasia yang hanya bisa dipahami oleh orang yang tahu batas antara hidup dan mati, langit dan bumi.

Usaha batik mereka hanya tudung untuk menyembunyikan usaha yang lebih besar lagi di lorong-lorong dunia.

Sebenarnya keluarga A kong tak peduli soal itu, tetapi mereka takut pada bayangan sendiri sehingga mengarang-ngarang cerita bahwa A kong terlibat organisasi terlarang, mendanai pemberontakan yang tak bisa dibuktikan setelah menginterogasi A kong berjam-jam di banyak malam sehingga A kong kelelahan dan tertekan setelah mendekam beberapa malam di sel. Untuk menghindari penjemputan yang akan terus berulang itu, A kong memilih membayar, menyogok agar keluarganya tak diganggu.

Masalah tak juga berakhir meskipun keluarga besar membatasi sebanyak mungkin keluar rumah dan bertemu banyak orang. Masih juga dituduh melakukan pelanggaran-pelanggaran yang dianggap membahayakan negara sehingga berimbas pada produksi batik yang ditekuni A ma.

Bahkan adik A kong sampai mengajak pakar bangunan untuk mengevaluasi bentuk rumah, arah pintu, dan ornamen-ornamen di dalam rumah, tidak ada yang keliru, semua sudah ditimbang dengan perhitungan matang agar selaras dengan alam. Mereka juga tak lalai ziarah ke rumah abu para leluhur.

Tekanan tak berhenti hingga A ma mati sengsara batin lalu menyusul A kong. Papa dan mama yang masih belum paham betul letak permasalahan terus-menerus digempur dan dijadikan mainan penguasa dengan alasan yang itu-itu juga. Akhirnya mama bunuh diri. Papa? Dijemput adik A kong dan dirawat di sana sementara aku menolak ikut, tetapi aku juga tak mau tinggal di rumah itu.

Kami meninggalkan rumah begitu saja dan menitipkan pada sepasang suami istri yang telah bekerja bertahun di keluarga kami dan adik A kong yang membereskan semuanya. Para tetangga dan teman-teman dekat papa tak ada yang berani menolong karena takut akan terseret pada persoalan sinting itu. Masuk akal dan kami tak menyalahkan mereka.

Kini rumahku mati suri. Hanya berisi kenangan, selebihnya sisa-sisa ketakutan. Ketika aku membuka pintunya, Pak Muh menyambutku. Di rumah peninggalan leluhurku ini, Pak Muh dan istrinya lebih paham seluk-beluk daripada aku si pemilik sah karena hanya namaku yang ada di surat sakti kepemilikan.

Aku duduk di beranda memandang jauh keluar pagar, menimbang apakah perlu aku menelepon si pemilik rumah besar itu kalau menolak kutemui. Mudah bagiku mencari nomor teleponnya. Dengan menunjukkan kartu himpunan sejarawan, aku mudah mencari akses.

Dengan bukti-bukti yang aku temukan, dengan data-data yang aku kumpulkan selama bertahun-tahun, aku bisa berbalik memerasnya. Tetapi untuk apa? Aku tak butuh uang sebanyak yang ia butuhkan untuk menghidupi centeng-centeng pelat merah.

Aku tersenyum. Ingin rasanya mengirim godaan kecil untuk mengusiknya dan cukup aku katakan: ”Saya tahu berapa banyak Anda mengemplang pajak.” Aku tertawa membayangkan seperti apa reaksinya.

Tetapi pertemuan yang tak sengaja rupanya menjadi keberuntunganku. Tanggal 8 bulan 8 pukul delapan malam aku memenuhi undangan penandatanganan prasasti. Rumah kawan bermainku semasa kecil telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya.

Aku melihatnya duduk di antara tamu-tamu penting, bahkan beberapa aku lihat ada orang partai di sana. Pengecut. Berada di antara mereka, ia seperti seorang yang ramah, hangat, dan baik bak malaikat, sementara saat di rumah ia berlaku seperti bos dengan kekuasaan tanpa batas.

Melalui kenalan anggota komunitas sejarah, aku berhasil mendekat padanya dan ia tersenyum ramah. Aku baku tatap dengan mata sipit itu. Jika papaku masih hidup, mungkin juga setua dia. Kepalanya separo botak nyaris sama licin dengan seluruh kulit wajahnya. Caranya berdiri dan posturnya mengingatkan aku pada artis wushu bangkotan.

Tampak ia tak mengenali aku dan itu wajar karena ia bertemu aku hanya beberapa kali ketika aku masih sangat kecil sebelum papaku pergi dari rumah. Kami sempat berbasa-basi dan seperti yang aku harapkan, kawanku meninggalkan kami berdua saja di sudut ruangan penuh makanan sajian. Ia sangat bersemangat berbicara tentang perlunya mempertahankan bangunan bersejarah, cukup dibenahi saja.

”Jangan mengubah apa pun karena itu akan merusak nilai historis,” katanya penuh semangat.

”Saya setuju. Termasuk, em… tentang.. eem… sekotak opium yang masih tersimpan,” kataku tenang. Dia terperanjat. Menatapku lekat. Lalu terkekeh.

”Ya… banyak orang yang tahu kalau rumah tempat tinggal kami dulunya pemilik bandar opium,” katanya tanpa curiga dengan pancinganku.

”Sampai sekarang,” potongku cepat.

”Ah, tentu tidak. Itu tak mungkin. Karena opium pasti sudah hancur setelah lebih dari setengah abad disimpan.”

”Saya membaca catatan terakhir pemilik rumah itu, yaitu ayah Anda, bahwa ia pernah menyembunyikan puluhan kilo opium di ruang rahasia rumahnya. Mungkin untuk cadangan atau stok. Karena memang usaha opium papa Anda luar biasa pesat waktu itu. Dan hebatnya, itu tidak tampak oleh penguasa karena papa Anda sudah mengalihkan perhatian atau lebih tepatnya mencarikan tumbal untuk bersenang-senang. Yaitu A kong saya,” lanjutku pelan, tetapi jelas. Benar dugaanku, aku tak mampu menahan diri. Memang terlalu cepat aku menyerangnya, tetapi apa boleh buat karena ini mungkin satu-satunya kesempatanku bertemu dengannya.

”Siapa Anda? Saya bisa laporkan Anda atas tuduhan pencemaran nama baik.”

”Saya hanya bicara sejarah. Saya bisa menyodorkan data-data yang berhasil saya kumpulkan. Saya hanya ingin mengatakan bahwa saya tahu, mengapa dulu keluarga A kong, keluarga papa saya, selalu hidup dalam ketakutan. Itu bukan semata karena persaingan bisnis kain putihan dan batik. Tetapi papa Anda menyebarkan cerita-cerita bohong sehingga keluarga A kong menjadi korban pemerasan penguasa. Belum lagi soal 65 yang dituduhkan keluarga Anda kepada keluarga kami hingga membuat keluarga kami pergi meninggalkan tempat ini, bisnis keluarga yang susah payah dibangun dan terutama nama baik, hancur luluh lantak. Hanya karena A kong saya mengetahui papa Anda pengedar opium.”

”Kau?”

”Iya, saya cucu tunggalnya. Tetapi lupakanlah. Itu masa lalu. Kita kembali soal opium tadi. Mungkin cucu Anda mengetahui kalau di dalam rumah itu tersimpan opium, lalu menjualnya,” bisikku sambil mendekat padanya. Orang itu terperanjat, matanya menghunus tepat di jantungku.

”Apa maksudmu? Kalaupun barang itu masih ada, pasti sudah hancur.” Aku tersenyum sambil mengisap cangklong.

”Anda menuduh cucu saya penjual barang setan? Hati-hati Anda punya mulut.”

”Tahun ini tahun macan air. Saya rasa Anda tahu bahwa shio Anda termasuk salah satu shio ciong tahun ini.”

”Sekarang saya benar-benar bisa mengingat siapa Anda,” katanya sedikit bergetar. Aku tersenyum.

”Terima kasih sudah bisa mengingat saya.”

”Sekarang menjauhlah dari saya. Dan jangan bicara-bicara lagi,” perintahnya.

”Tentu. Karena saya sudah mengatakan apa yang ingin saya katakan sejak lama. Dan yang terakhir, saya ingin memberi tahu Anda bahwa cucu Anda telah melanjutkan bisnis leluhurnya: mengedarkan opium.”

”Jangan berbicara dusta! Sudah tak ada opium di rumah kami.” Aku balas memandangnya lalu mengelebat wajah papa, wajah mama, lalu A kong dan A ma.

”Keluarga besar Anda selalu terlibat bisnis berbahaya sejak dari leluhur,” tandasku.

”Anda harus menunjukkan bukti kalau cucu saya penjual barang setan itu!” dia berkilah.

”Tentu saja.”

”Di mana?” desaknya.

”Di metaverse.”

”Daerah mana itu?” dia bertanya agak kaget atau bingung, entahlah tak terlalu jelas batasnya.

”Anda tak akan pernah tahu, Anda tak akan pernah pergi ke sana,” balasku tersenyum, lalu pergi meninggalkannya. Ada bongkah terlepas dari dalam dada. Yah! Pertarungan sesungguhnya ada di zaman ini. Bukan pada zaman papa dan mama mengelola pabrik batik, bisik hatiku. (*)

INDAH DARMASTUTI

Tinggal di Solo. Menulis prosa dan cerita anak. Buku terakhirnya kumpulan cerita pendek Pengukur Bobot Dosa (Marjin Kiri, 2021). Pendiri Difalitera –sastra suara untuk difabel netra– dan merintis Teras Baca, komunitas baca yang beranggota difabel netra.

Editor : Ilham Safutra

Saksikan video menarik berikut ini:

Close Ads