alexametrics

PARANG PATAH

Cerpen BENNY ARNAS
19 Juli 2020, 15:02:24 WIB

TAHUN 1997, ketika Jakarta sedang berkecamuk sehingga perbincangan tentang demonstrasi, penjarahan, dan desakan mundurnya Suharto menjadi tren di warung-warung kopi, Desa Panggung masih berkutat dengan harga getah karet yang jatuh dan tamat SMA yang masih menjadi cita-cita.

Perihal yang terakhir juga diimani Jailani Hasan, laki-laki 36 tahun yang baru saja mengembuskan napas terakhir dalam sebuah kecelakaan. Sepeda motor Vega R bututnya menabrak pohon sawit yang sejak 1986 banyak ditanam di tepi jalan desa yang berjarak 3 kilometer dari Rupit, pusat keramaian di utara Musirawas itu.

Musibah itu menerbitkan kesedihan dan kegeraman bagi Patah. Pelajar kelas 3 SMP itu menyesal, kenapa hari itu dia lebih mendengarkan saran ayahnya untuk menjaga Atika, kakak perempuannya yang sudah dua kali mencoba terjun dari jendela rumah panggung, ketimbang menemaninya menyadap karet sebagaimana biasa. Ibunya memang tak bisa diharapkan sejak penyakit darah rendah akut membuatnya lebih banyak di tempat tidur.

”Aku tahu kau bisa pegang rahasia, Tah,” suara Anjung terdengar memohon.

Sesungguhnya, ketimbang kabar bahwa Darah Api bermarkas di Hutan Maor –20 kilometer dari Panggung, keterlibatan teman sekelasnya itu di komplotan begal tersebut sejak dua bulan lalu lebih membuat Patah terperangah.

”Kudengar kau sudah menjual Vega R…”

”Bukan urusanmu!”

Nyali Anjung sedikit ciut sebelum memberanikan diri untuk melanjutkan, ”Bagiku, bisa makan saja, syukur. Kakak-kakakku cuma penyadap getah upahan. Buat menghidupi keluarga mereka saja belum tentu cukup. Tamat bulan depan, aku tidak berencana mendaftar SMA. Tidak sepertimu, otakku tak mampu. Mungkin terlalu banyak makan udang di bawah batu,” Anjung menertawakan diri sendiri. Patah ikut tertawa, tapi sebentar saja. ”Lagi pula… kehebatanmu berkelahi dengan parang…”

”Parangku dihilangkan bak!” balas Patah cepat, antara membantah dan mengadu.

”Bos Badrul akan membelikanmu yang baru.”

Mata Patah menyapu lengan Anjung yang legam mengilap terbakar matahari.

”Aku sudah bilang kalau kamu sedang butuh…”

”Njung, kau…”

”Tapi, aku juga bilang,” tikung Anjung, ”Kalau kebutuhan keluargamu tercukupi dari begal, kamu bisa sekolah sampai tamat SMA. Kamu ingin bakmu tenang di kuburnya, kan, Tah?”

***

Kemasyhuran menggunakan parang mulanya tak pernah disadari Patah sebelum dia berhasil melumpuhkan para preman bersenjata yang hendak mengeroyok Anjung dua bulan lalu hanya dengan sebilah parang di tangannya. Memang, sejak dia berusia 5 tahun, ayahnya kerap mengajaknya membuka ladang. Laki-laki itu menebang pokok pohon, Patah menebas semak. Memasuki 9 tahun, dia kebagian membelah batang untuk dijadikan kayu bakar, seakan-akan keahlian itu menjadi syarat baginya untuk masuk SD. Usia belasan, Patah lihai berburu babi, napo, bahkan mengikat pencuri getah karet.

Patah sangat bersemangat bersekolah. Aroma kapur tulis dan soal-soal di kertas selalu membuatnya bergairah. Ah, semua juga demi ayahnya. Tiap sedekahan dan keramaian dari maulidan di masjid hingga organ tunggal di balai desa, laki-laki kebanggaannya itu selalu menyebutnya sebagai putra daerah terbaik yang dimiliki Panggung!

”Di Lubuklinggau, Tah,” kata ayahnya suatu hari, ”Tamat SMA sudah bisa jadi juru ketik di kelurahan atau kantor pemerintahan. Seragammu sama dengan PNS!” Oh, masih jelas dalam ingatannya, kebanggaan di wajah sang ayah ketika mengatakan itu. ”Ayukmu tak bisa bak harapkan. Dia ’gatal’ sekali. Beberapa kali kedapatan berduaan di tepi Sungai Panggung!” Lalu, seperti melempar kutukan, ayahnya mengatakan bahwa tinggal menunggu waktu Atika akan hamil, lalu kawin.

Tentang hamil, ayahnya benar. Tentang kawin, dia keliru. Pemerkosaan itu membuat Atika stres. Dia tak mau bicara dan susah disuruh makan.

”Tugas pertamamu di Lawang Agung!” perintah Badrul. ”Beberapa tauke yang baru pulang menjual getah di Linggau biasa naik motor. Mereka tidak bisa mengelabui Darah Api!”

Patah tak menjawab, tapi mengangguk.

”Satu lagi!” Badrul meliriknya. ”Kalau korban bawa senjata, rampas!”

Meski mengaku tak pandai bertarung, tiap kali bicara, tak seorang pun berani membantah laki-laki yang Patah taksir sebaya almarhum ayahnya itu.

***

Operasi pertama itu melambungkan nama Patah. Tak mau sekadar makan pujian, Patah selalu mengamankan bagiannya –tiga puluh persen dari nilai rampokan. Setahun di Darah Api, Patah hanya diturunkan untuk operasi kakap. Di akhir tahun kedua, dia ditanggungjawabi melatih anggota Darah Api menggunakan parang. Di tangan Patah, parang bisa menjelma pedang, tombak, peluru, hingga berputar-putar seperti bumerang yang bisa menyapu nyawa calon korban.

Hingga Patah diundang Badrul ke kediamannya suatu siang. ”Kalau tidak naik jabatan, kau akan dapat hadiah besar, Tah,” tebak Anjung ketika Patah menceritakan hal itu.

”Kau sudah tahu kalau besok hari terakhir ebtanas, kan?”

”Mau kerja apa?” tantang Anjung. ”Lubuklinggau dulu beda dengan zaman bakmu, Tah,” celotehnya, sok tahu. ”Mana bisa kerja kantoran kalau gak punya dekeng! Lagi pula, memangnya bos mengizinkanmu keluar?”

Sedetik kemudian bogem mentah sudah mendarat di wajah Anjung. ”Kau sendiri yang dulu mengatakan kalau Bos Badrul sudah tahu ini, kan?”

”Siapa yang rela melepas begal yang tak pernah gagal, Tah?!” Anjung mengelap mulutnya yang berdarah.

Patah meninjunya sekali lagi.

***

Kediaman Badrul di balik Hutan Maor memang megah: tiga lantai, berpilar-pilar, dan betonnya berelief-relief. Jalan masuk yang dihalangi akar gantung pohon beringin raksasa membuat orang awam takkan mengira ada istana di sebaliknya. Meskipun begitu, Patah tak menunjukkan ketakjuban. Pikirannya kacau. Kata-kata Anjung –”Siapa yang rela melepas begal yang tak pernah gagal?!”– meneror-nerornya.

Di ruang tamu, Badrul menyalakan rokok. Setelah mengisapnya sebentar, dia menyodorkan sebungkus Dji Sam Soe yang terbuka dengan beberapa batang yang sengaja diarahkan kepada Patah.

Patah menggeleng sopan.

”Benar-benar berdarah dingin!” Badrul terkekeh kecil. ”Tak merokok, tak minum, tak main perempuan, tak pernah gagal dalam operasi!”

Patah menunduk. Sungguh, dia ingin segera mengakhiri semuanya.

Lalu, Badrul mengajaknya bicara –lebih tepatnya menjadikannya pendengar yang dungu– tentang Gus Dur yang dia anggap tak becus jadi presiden, Wiranto yang jadi musuh dalam selimut, hingga negosiasi pemerintah dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang dianggapnya sia-sia. ”Peganglah kata-kataku ini,” dia mendekatkan wajahnya ke wajah Patah. ”Darah Api bisa ambil bagian dalam urusan daerah otonomi. Tidak perlu seperti GAM. Kalau Lubuklinggau bisa memisahkan diri, kenapa kita tidak? Muara Rupit Raya? Atau nama yang lucu itu –Musirawas Utara?” Badrul tertawa lepas, tapi Patah tidak. ”Bayangkan, di tahun 2000, di tahun yang cantik ini, kau jadi penerusku!” Badrul tertawa lepas.

Patah menghela napas.

”Pikirkan lagi rencanamu itu,” kalimat itu datar saja, namun terdengar mengancam bagi Patah. ”Aku tinggal berak dulu di belakang!” Badrul menekan-nekan rokoknya yang tinggal setengah batang ke asbak.

Patah bangkit, melihat-lihat ruang tamu yang dipenuhi barang-barang antik itu. Dia harap bergerak bisa mencairkan ketegangan. Tapi, setelah berpuluh menit, pikirannya masih buntu. Dia masih tak tahu harus mengatakan apa sampai sebuah lemari sudut mencuri perhatiannya.

”Aku berubah pikiran, Bos,” ujar Patah begitu laki-laki yang selalu menyisir klimis rambutnya itu kembali ke kursinya.

Wajah Badrul semringah, tapi dia tahu bahwa Patah belum selesai.

”Aku ingin sekali Bos bertemu mak dan ayukku. Sebuah kehormatan dan kebanggaan bagi kami…”

”Aku akan minta Anjung membawaku ke Panggung sebelum subuh.”

Patah tersenyum, gembira.

”Aku akan tiba pukul lima supaya kau tidak telat ikut ebtanas!”

***

Bagi Badrul, Patah adalah aset. Bukan sekadar tentang masa depan Darah Api, tapi juga impiannya menjadi raja di daerahnya. Hitung-hitungannya, massa yang tak mendukung tuntutan memisahkan diri dari Musirawas kelak menjadi urusan Darah Api di bawah kendali Patah.

Subuh itu, setelah memerintahkan Anjung pergi, Badrul tak pernah menduga bahwa amukan seorang gadis akan menyambutnya begitu kakinya menginjak anak tangga paling atas rumah panggung itu. ”Maafkan ayukku, Bos,” ujar Patah setelah mengunci Atika di kamarnya. ”Dia memang agak…” Patah tak melanjutkan. ”Aku harap Bos masih mau masuk. Makku sakit, ingin sekali bertemu.”

Meski wajahnya pucat, Badrul mencoba tenang. Keringat yang merimbuni kening membuat aktingnya kelihatan buruk. Ragu-ragu dia melangkah masuk ke sebuah bilik. Di dalam, Badrul tak menemukan (sia)apa pun, selain foto laki-laki yang terbingkai di dinding, dua meter di hadapannya.

”Itu foto Jailani Hasan.”

Badrul memutar kepala. Patah sudah berdiri membelakangi pintu kamar yang tertutup.

”Oh,” Patah seperti baru menyadari sesuatu. ”Tentu saja belum tentu Bos kenal. Korban Darah Api tak terhitung,” Patah terkekeh-kekeh.

Kerongkongan Badrul mendadak kering.

”Aku menemukan ini di rumah Bos malam tadi.” Patah mengeluarkan sebuah benda tajam dari balik pinggangnya. ”Meskipun ujungnya patah, parang yang sering dibawa Bak ini adalah ’pakaianku’. Bos tahu juga barang bagus!”

Badrul ingin menjelaskan sesuatu, tapi lidahnya kaku.

”Aku mengundang Bos untuk memastikan sesuatu yang baru saja kutemukan jawabannya. Ayuk Tika tak pernah sehisteris tadi.”

Badrul melangkah mundur.

”Sinar kehidupan mak padam sejak suami dan kehormatan anak gadisnya direnggut dalam waktu berdekatan!”

Badrul ingin lari, tapi dia lupa kalau di tangan Patah, parang bisa menjadi apa saja.

Gila! Selama ini aku mengabdi kepada pembegal bak dan pemerkosa ayuk!

Tubuh Badrul menempel di dinding, dengan parang patah sebagai pakunya.

****

Empat hari ebtanas, Patah tak pernah mengerjakan soal segembira pagi itu. Meskipun masuk kelas agak telat, tentu mengumpulkan jawaban paling awal bukan hal yang aneh bagi seorang juara kelas sepertinya. ***

Puncak Kemuning, 31 Maret–14 Mei 2020

BENNY ARNAS

Lahir dan berdikari d(ar)i Ulaksurung. Novel mutakhirnya, Bulan Madu Matahari, sedang tayang secara bersambung dalam format suara.

Lebih dekat dengannya di Instagram @bennyarnas.

 

Saksikan video menarik berikut ini:

 

 

 

Editor : Ilham Safutra



Close Ads