alexametrics

Gir

Cerpen S. Jai
18 Agustus 2019, 19:29:24 WIB

SIANG, jelang pulang dari rumahmu. Di halaman berdebu itu, antara berbagi menghirup udara terik dan aroma bangkai tikus yang tengik, kita sama-sama menjadi telik. Kita menelisik bau daging busuk menusuk yang barangkali telah cukup lama ngendon di tepian kali kecil depan terasmu itu.

Lantas kita berkelakar, bicara lelucon kelahiran, kehidupan, dan sudah barang tentu kematian. Meski hanya dalam hitungan menit sekian detik; kematian tikus, kematian manusia, dan kematian pengarang.

’’Cak, kita sama-sama gendeng dalam menempuh jalan kematian,” katamu.

Dan memang kita telah berkali-kali mati. Mati berkali-kali.

Begitu pendek waktu, demikian sempit ruang, sementara begitu mahaluas samudra kata, hingga kita sama-sama lupa kapan dan apa yang sebenarnya telah kita bicarakan. Mungkin pula saat itu kita sebetulnya tidak sedang bicara apa-apa. Ataukah barangkali sesungguhnya kita bicara dari hati ke hati melalui bahasa yang sulit dieja, namun kita telah sama-sama mengerti kedalaman maknanya.

Ya, sebagaimana siang itu aku geret sederet kalimat; betapa engkau tak pernah urus halaman rumahmu dari bau busuk binatang sial itu, yang barangkali tak hanya sekali pada hari itu. Anehnya, betapa kamu rawat dengan teliti, tekun, sabar, penuh kasih pada latar, taman, rerumputan, semak belukar, aroma kembang, bahkan butir kerikil atau selembar daun yang jatuh bergulir di halaman-halaman buku teman, handai tolan, sahabat, kerabat, murid, guru, sejawat yang mungkin tanpa bayaran itu.

’’Buku adalah jendela dunia,” katamu.

’’Jadi kau merawat jendela dan pintu rumah mereka juga?” sergahku.

Lalu, adakah bunyi, sunyi, atau frasa lain untuk ungkapan ini selain kegendengan atau lelucon? Ngedan dan ngeden sebagai perawi dan perawat altar pemujaan orang waras atas nama ungkapan paling klise di dunia; cinta kesenian?

Seperti biasa kita sama-sama menikmati kegilaan atau lelucon ini dengan gelak tawa. Karena aku meyakini leluconlah mahkotamu dan gelak tawalah rumbai-rumbai perhiasannya. Dan semoga benar adanya bahwa inilah lelucon kita, jikapun tak banyak orang yang bisa menerima bahwa segala lelaku kita adalah doa. Sebagaimana engkau tak pernah memberi jawaban padaku saat kutanya, ’’Sebenarnya engkau itu dalang, sutradara, pengarang, perupa, penyair ataukah perawi halaman buku?” Rupanya sebagaimana tak pentingnya pertanyaanku, kau pun tak memberiku jawab tersebab engkau meyakini aku telah tahu jawabmu.

Ilustrasi. (Budiono/Jawa Pos)

Baiklah, kita bersepakat sampai di sini tentang doa dan kesepakatan-kesepakatan perihal mati. Sebuah tabungan hidup yang kata Kiai Tardji segobang-segobang serta seturut Almukarom Barthes ihwal kematian yang memperbanyak kelahiran pembaca. Begitulah kita jadi tahu dan senantiasa saling bertukar doa. Betapa pada suatu waktu sebagaimana seorang ibu kita melahirkan sederet teks, bahasa, tanda sebagai anak-anakmu yang menyebabkan engkau mati berkali-kali di mana roh kematianmu menjadi bidan yang melahirkan puluhan, ratusan, mungkin jutaan pembaca, pencipta teks baru antar tanda sebagai cucu cicitmu di hari ini dan kelak di hari kemudian.

’’Cak, kau mengingatkanku…,’’ tedasku… ”Pada sajak Gibran; anakmu bukanlah milikmu, mereka adalah putra putri Sang Hidup, yang rindu akan dirinya sendiri.

Meski demikian, entah oleh suatu musabab, aku tak mengatakan padamu perihal ingatanku yang lain: bahwa pada suatu hari engkau menyodorkan sebuah koran tempat sajakmu bertebaran di salah satu halamannya, anak-anak tertawa, lidahnya dijulur-julurkan, seperti mengejekku yang terpaku di hadapan istriku.

Kubayangkan betapa hidupmu berada di tengah sebuah taman fantasi yang eksotis bersama anak-anak badung yang bermain dengan keliaran mahadahsyat dan mengingatkanku pada sebuah bab novel Kundera, Kitab Lupa dan Gelak Tawa –sebuah novel yang konon mengajarkan kepada kita bahwa jika kita mati, yang akan hilang dari kita bukanlah masa depan, tetapi masa lalu.

Lantas, adakah bunyi, sunyi, atau frasa lain untuk ungkapan ini selain kegendengan atau lelucon? Ngedan dan ngeden sebagai perawi dan perawat altar pemujaan orang waras atas nama ungkapan paling klise di dunia; cinta kesenian? Cinta yang hampir menyebabkan kita nyaris terpelanting dalam adagium ’’tak ada yang salah dalam berkesenian’’, akan tetapi beruntung terselamatkan sebagaimana pepatah lain ’’tiada yang benar dalam agama’’.

Cak, tersebab itulah pada hari ini aku bertanya lagi padamu; sesungguhnya kamu dalang, sutradara, pengarang, perupa, penyair, perawi buku, atau bidankah? Akan tetapi setelah kamu mati sungguh –dan semuanya akan menyusulmu kelak– entah mengapa aku jadi sibuk merangkai jawaban dari pertanyaan tak penting itu, kendati aku sudah pastikan jawaban sebenarnya darimu: gelak tawamu itu.

Cak, tentu engkau masih mengingatnya bagaimana meski aku belajar di Jalan Airlangga, namun aku memilih berdiam di Gang Jetis Ketintang. Entah apa yang menggerakkanku demikian. Pada kenyataannya, itulah jalanku, jalan satu-satunya yang telah kulakoni, dan diberikan-Nya padaku. Tak lain, semata-mata, agar lebih cepat mengenalmu. Maka, jadilah aku sering bertandang ke komunitasmu di institut. Menonton pertunjukan-pertunjukanmu, menjadi saksi pergulatan dan kiprahmu.

Oiya, aku masih ingat kita pernah membaca cerita bersama bukan? Waktu itu kita masih benar-benar merasa muda, membaca cerita dengan teriakan membahana di kelas sastra yang diampu sahabat dan guru kita, Tengsoe Tjahjono. Mungkin tak sepertimu dengan berpuluh-puluh cerita, kurasa itulah cerita, itulah kisah yang kubuat dan masih bisa kuhitung dengan jemari sebelah tanganku saja.

Cak, aku juga masih mengingatnya tak berselang lama dari waktu itu, kita pernah sepanggung bersama sebagai sesama aktor, meski dalam lakon yang berbeda dalam festival naskah-naskah Jepang di Malang. Sebuah festival yang penuh bebunyian dawai dan seruling yang memanjakan telinga.

’’Cak, aku mengenalmu, mengenangmu saat itu, ucapan leluconmu tentang sebuah pertunjukan yang tak tahu beda antara kebudayaan Tiongkok dan Jepang,” ungkapku.

Lelucon sekaligus lukisan dari cakrawala atas sebuah panorama pengetahuan. Hai! Itu ketakjuban pertamaku padamu saat kita masih merasa benar-benar muda. Namun, sekaligus gambaran demikian tajam mata pisau penglihatanmu, pendengaranmu, indramu.

Sejak itu aku tak pernah kehilanganmu. Sampai kemudian, andai kamu masih hidup, tentu masih mengenangnya: Ketika gerakan reformasi bergulir. Kita pernah bersama kawan-kawan menggelar pertunjukan wayang kampung Semar Nesu, yang mana engkau salah satu dalangnya dan akulah salah seorang wayangnya. Tentang penguasa yang serakah. Orang kampung yang marah. Tentara yang pongah. Mahasiswa yang gerah. Juga awak pertunjukan serta penonton yang sama-sama lelah pada keadaan zaman. Ketika itu, sama sekali tak pernah kuduga bahwa kelak di kemudian hari peristiwa itu adalah salah satu lelatu dari ketekunanmu selain menatah kata dan menatah kulit wayang pula.

’’Oh iya Cak, sebaiknya tak perlu ya kukisahkan bahwa di kesempatan lain, kita pernah berpelukan setelah merayakan sebuah pertunjukan yang berlangsung selama lebih dari tiga jam itu. Ya, tak perlulah,” pikirku.

Baiklah, rupanya memang banyak pula yang tak perlu kukisahkan. Terlebih seiring waktu berjalan, meski aku merasa tak pernah kehilanganmu, pada kenyataannya bukan saja aku kerap kau tinggalkan dari jejak pencapaianmu, keindahan hidupmu, gebalau hibuk ria duniamu –mimpi, nyata– melainkan pula engkau sering lenyap dalam kesibukanmu bertungkus lumus dengan anak-anak fantasimu.

Sementara aku memilih jalan sunyi, menyepi, menepi sebagai takdirku berharap tafakur, yang sama sekali jauh dari segala takdir majenunmu itu.

Ya, terus terang aku belum sanggup menemukan jawaban, mencapai, menggapai, apalagi menapaki dari segala takdir majenunmu itu karena terus diserobot gambaran-gambaranmu bagaikan layar film sejak puluhan tahun lalu. Main teater bersama, kau menjadi dalang dan aku wayangnya, membaca cerita, bertukar pandangan, berbagi rezeki, semeja makan bersama, aku berutang padamu dan kau berutang padaku, juga kerap memanggul tumpukan buku-buku sampai punggung kita sama-sama seperti batu.

Seandainya engkau masih hidup, akan kubisikkan sesuatu padamu: bahwa ternyata aku masih takut pada hantu, mungkin juga seperti katamu, karena aku belum benar-benar menjadi hantu atau Tuhan –sebagaimana pepatah lama; manusia berpikir Tuhan tertawa.

Begitulah ketika kian banyak gambaranmu yang berhumbalang datang, makin tak kumengerti; bolehkah mengirim doa buatmu sambil memuja gelak tawa serupa mahkotamu itu?

Sepeninggalmu, jikapun pada hari ini dan kelak di waktu kemudian, kusaksikan begitu banyak mereka yang terbahak, maka tak kusangsikan lagi di antaranya pastilah anak-anakmu. Aku bersaksi. (*)

Ngimbang, 20 Juli 2019

Untuk Mendiang Rakhmat Giryadi

S. Jai lahir di Kediri pada 4 Februari 1973. Novel terbarunya berjudul NGRONG (2019). Penerima anugerah penghargaan seni dari gubernur Jawa Timur pada 2015. Kini tinggal di Dusun Tanjungwetan, Kecamatan Ngimbang, Lamongan.

Editor : Dhimas Ginanjar



Close Ads