alexametrics

Hanya Cinta Yang Kita Punya untuk Mengatasi Segalanya

Cerpen oleh:
17 November 2019, 19:48:41 WIB

Yang berduka dalam tralala

Akan bersuka dalam trilili

(Joko Pinurbo)

PROF Mun’im Sirry benar. Begitu kesimpulanku sejak masuknya Rabiulawal 1441 H ini.

Ia bertanya kepadaku dengan mata menyipit, ”Kapan sebenarnya beliau dilahirkan?”

Pada 12 Rabiulawal, bertepatan dengan tahun 570 M. Pada tahun gajah. ”Orang-orang berkisah kepada kakekku, lalu kepada abahku, lalu kepadaku, begitulah silsilahnya.”

Mereka bilang, Raja Abrahah membangun katedral mewah di Sanna. Megah. Dahsyat. Menakjubkan setiap mata yang memandangnya.

”Inilah pusat peribadatan kalian sekarang!” pekiknya dengan bangga.

Malam demi malam, raja Persia ini kesal, gerah, gemas, dan jengkel. Amat jengkel sekali. Orang-orang bodoh itu, ujarnya, sungguh bodoh sekali, bodohnya bodoh; bagaimana bisa mereka tetap lebih tertarik kepada Kakbah yang terpencil, jelek, kusam, kumal, kalah telak dari katedralku ini? Sungguh orang-orang bodoh yang bodoh sekali!

Keputusan menghancurkan Kakbah yang jelek, kusam, dan memuakkan itu telah diambil. Ratusan gajah perang disiapkan. Ribuan prajurit disiagakan. Kuda-kuda berbaris gagah perkasa. Pada jalan-jalan berdebu yang dilintasi laskar jemawa itu, siapa pun yang menyaksikan seketika meyakini bahwa kabar kehancuran Kakbah di lembah terpencil sana akan segera melindapi telinga mereka.

Abdul Muthalib mereguk minumannya, tersenyum kecil, menyimak laporan orang-orangnya perihal kedatangan rombongan pasukan gajah dari tanah jauh itu. Biarkan saja, biarkan saja, siapalah kita ini hendak menghentikan mereka; siapalah kita ini hendak bergagah-gagah membela Rumah-Nya? Biarkan saja, biarkan saja. Begitu ia menjawab enteng sambil kembali mereguk minumannya dengan mata menerawang jauh.

Tetapi, ia benar-benar tak lagi bertenang diri didera gusar ketika mendengar unta-untanya telah dirampas pasukan asing itu. Ini bukan perihal Kakbah. Kakbah sudah ada yang mengurusi. Ini soal unta, dan ini urusanku!

Kepada Raja Abrahah ia berkata, ”Kembalikanlah unta-unta saya, Tuan.”

Raja terbahak, ”Kau malah mengurusi unta-unta, bukan Kakbah yang kau jaga yang sebentar lagi akan lantakberantak.”

Abdul Muthalib tersenyum, ”Kakbah bukan urusan saya, Tuan. Kakbah sudah ada yang mengurus.”

”Siapa?”

”Pemiliknya, tentu saja.”

”Siapa?”

”Allah.”

Debu-debu padang pasir pun mulai berempasan seiring lengking trompet perang yang mencabik langit-langit. Angin-angin kerontang menghantam ke segenap penjuru. Rombongan yang dipimpin lelaki tua itu telah sampai di atas bukit tanpa sehelai pun daun, apalagi pohon, untuk berlindung dari terik yang menyengat.

”Lihatlah ke bawah sana, sebentar lagi Sang Pemilik Kakbah akan mengurusi Rumah-Nya,” ujarnya dengan napas agak tersengal.

Ribuan prajurit perang itu terus bergerak maju, berderak-derak di atas perut dan dada bumi, menggeletarkan pekik-pekik ke angkasa, lengking trompet-trompet yang pongah, kibaran panji-panji kegagahan, dan gemuruh yang menimbulkan gempa di hati semua orang yang berdiri gamang di atas bukit itu. Sang raja terlihat tegak di barisan paling depan, ditandai tudung lebar menyerupai kemah kecil yang beraneka warna di atas punggung gajah yang paling besar. Sebuah tongkat yang terbuat dari emas digerak-gerakkannya ke arah depan, memukul-mukul udara Makkah. Berkilauan menyambar wajah langit-langit.

Lalu, burung-burung yang bertakbir itu bertunjaman dari langit, melalui sebuah pintu gerbang mahabesar yang dikuak hingga memungkinkan mereka berlesatan bagai anak-anak panah. Batu-batu kerikil yang membara, dan makin lama makin berkesiutan baranya, tercengkeram di setiap cakar kanan dan kiri mereka, juga paruh-paruh. Setiap ekor burung yang bertakbir itu membawa tiga batu membara.

”Mereka pun mati bagai ulat-ulat.”

”Tapi, itu mitos belaka, Pak, hanya legenda sejarah yang dikuat-kuatkan oleh ayat Alquran.” Ia tersenyum dengan mata menyipit lagi. Mata yang menghina.

Aku tahu betul cara menghentikan mata-mata yang memicing begitu rupa. Kataku, ”Jika begitu, silakan buktikan sekarang bahwa itu benar-benar mitos seperti yang kau katakan berkali-kali sejak tadi.”

Ia diam. Bungkam. Ia diam. Bungkam. Dan ia diam. Dan bungkam. Lazimnya para penghina.

”Yuk, makanlah,” kataku kemudian. ”Telah kusiapkan nasi Padang lengkap, plus es teh, untukmu. Makanlah, kau boleh tambah. Makanlah yang kenyang, ya. Hati-hati dengan rasa lapar, lho. Rasa lapar kerap membuat orang berpikir pendek dan mau menang sendiri seperti orang-orang yang berteriak ini itu di luar sana, begitu gaduhnya, heee…..”

Ia terbahak, lalu menyantap suguhanku. Lahap sekali ia makan. ”Tapi, tak semua orang di luar sana yang berteriak-teriak itu orang lapar, Pak. Sebagiannya telah mapan, mana mungkin orang mapan kok lapar, kan?”

”Lapar kan tak mesti sebab kekurangan, tapi bisa sebab keserakahan, bukan?”

Aku pun pamit dulu kepadanya, istirahat siang.

Prof Mun’im Sirry benar, begitu pikirku lagi, siang jelang sore ini, bahwa betapa pun catatan-catatan sejarah yang mainstream itu tak benar-benar bisa dipastikan kebenarannya secara sains empiris oleh siapa pun, ya siapa pun, termasuk Prof Mun’im Sirry sendiri.Itu semua takkan mengurangi sedikit pun keagungan sosok yang berjuluk Ahmad itu, Mushthafa itu, ya Muhammad itu.

Malamnya, kusuguhkan kopi hitam, kopi luwak Excelso, di taman belakang rumahku. Kebulan panasnya dari cangkir menebarkan aroma yang khas menenangkan. Selain nasi Padang, kopi adalah karunia-Nya yang mengagumkan.

”Ini kopi mahal, mahal sekali, hati-hatilah menyeruputnya. Jika tak biasa, ususmu bisa biduren.” Aku terbahak. Ia turut terbahak. Ada-ada aja, sahutnya kecil. ”Kuajari dulu cara minum kopi mahal, ya.”

Ia mengikuti saja, termasuk ketika kubacakan bismillah dan madah pendek: maulaya sahlli wa sallim daiman abada ‘ala habibika khairil khalqi kullihimi….

”Bapak benar!” serunya kemudian. ”Ternyata, minum kopi mahal begini bila diawali dengan basmalah dan salawatan dulu, rasanya begitu mewah, ya.”

Aku terbahak. Ia bicara perihal rasa yang mewah saat pertama kali menyeruput kopi mewah. Khas SJW.

Kami berbincang panjang hingga nyaris pukul 00.00, sebelum kemudian aku pamit. Aku lalu masuk kamar. Setengah jam kemudian aku keluar lagi dari kamar, sebagaimana biasa, masuk ke musala yang berdampingan dengan sebagian koleksi bukuku di rak-rak panjang, berdiri di atas sajadah, salat malam. Lalu duduk diam, menekur, berzikir, dengan imajinasi terbang jauh ke nyaris 1.500 tahun silam. Ini malam jelang kelahiranmu, wahai Ahmad-ku.

Aku tahu kamu mengintipku diam-diam di belakang sana. Tak mengapa, lakukanlah apa yang ingin kau lakukan. Itu pasti atas izin-Nya.

Mataku memejam saat menyaksikan keduanya telah tiba di pelataran rumah megah itu dengan napas memburu didera panas yang menggada ubun-ubun. Lalu duduk di sebuah ruangan yang sangat mentereng. Beberapa orang yang tak lagi punya senyum di bibirnya berdiri mematung, dengan tangan-tangan mencengkeram pedang dan tombak.

”Katakan keperluan kalian,” ujar lelaki bertubuh besar yang duduk di kursi tinggi dengan sekujur tubuh berlumur kain panjang itu. Berewoknya amat lebat. Juga cambangnya. Hidungnya mancung benar. Ia pun tampak tak lagi ingat cara untuk mengulas senyum.

Sang Ahmad yang duduk bersebelahan dengan Zaid bin Haritsah berkata bahwa maksud dan tujuan mereka datang ke wilayah Thaif ini untuk bekerja sama dalam keamanan.

”Aku telah mendengar tentang ajaranmu,” ujar lelaki tambun yang lupa cara tersenyum itu. ”Ketahuilah, suku Thaif ini telah memiliki keyakinannya sendiri. Jadi, ajaranmu tak mungkin bisa kami terima. Dan, ketahuilah lagi, kami tak butuh jaminan keamanan dan kerja sama apa pun denganmu. Pergilah, sekarang.”

Ilustrasi. (Budiono/Jawa Pos)

Udara yang sangat panas di sepanjang jalan berbatu dan berkerikil itu menyambut kembali laju kulai kaki-kaki mereka. Keduanya terus berjalan di antara debu-debu. Mendadak dari balik gundukan-gundukan tanah tandus di kanan-kiri jalan sempit itu berlesatan batu-batu ke arah mereka.

Tepat di luar batas Thaif, tubuh keduanya direbahkan di tepi jalan yang senyap. Langit mulai merunduk dibelai senja yang perawan. Beberapa goresan menghiasi tubuh Sang Ahmad. Parah lagi tubuh Zaid bin Haritsah yang babak belur.

Langit membuka pintunya, Jibril berkata kepada Sang Ahmad. ”Akan kuangkat bukit-bukit itu, kutimbunkan ke sekujur Thaif untuk membalas kejahatan mereka kepada kekasihku.”

Sang Ahmad menggeleng. ”Janganlah, Jibril. Jika kau musnahkan mereka, lalu siapa yang akan beriman kepadaku? Boleh jadi, dari darah daging mereka kelak akan lahir orang-orang yang mengikuti ajaranku dan mencintaiku.”

Aku mengisak. Isakanku keras. Mataku terkuak. Dan kau, kutahu, masih mengintipku dari belakang sana.

Ahmad ya habibi….

Ahmad ya habibi….

Kubisikkan dendang-dendang itu untuk didengarkan oleh telingaku sendiri –tentu kau yang berada di belakang sana juga mendengarnya, bukan?

Prof Mun’im Sirry benar, betapa siapa pun yang mempertanyakan kebenaran tanggal kelahiran Rasul SAW di hari ini, 12 Rabiulawal, takkan pernah menemukan jawaban yang paling mantap tanpa keraguan secuil pun, kecuali bila percaya saja. Ya, percaya saja. Percaya saja memang kerap menjadi pemecah terbaik bagi kegundahan-kegundahan yang sedari awal tepercik diyakini takkan pernah menghadiahkan jawaban yang meyakinkan.

”Begitulah manusia,” kataku, ”selalu punya kecenderungan skeptis dengan bertanya dan bertanya lagi walau ia tahu takkan pernah ada jawaban yang mampu meyakinkan dirinya sendiri yang bertanya. Skeptis adalah pertanyaan yang tak memerlukan jawaban. Semakin skeptis tanda diri semakin diperbudak pertanyaan ilmu.”

Ia menyantap pecel paginya dengan sangat lahap. Ia selalu lahap makan apa saja–begitu cirinya– tetapi sekaligus selalu penuh skeptisisme.

”Pecel ini enak sekali,” katanya kemudian sembari meletakkan piring kosong di atas meja, menyeruput segelas air putih dingin, dan membakar sebatang rokok. Rokokku, tepatnya. ”Semalam kulihat Bapak menangis di musala, seperti orang sakau,” lanjutnya.

”Aku tahu kamu memandangiku. Aku sakau karena didera rindu kepada kekasihku yang entah bisa atau tidak kujumpai.”

”Muhammad?”

”Ya, Nabiku, Rasulku, kekasihku.”

”Mengapa Bapak sebegitunya sama orang yang disebut oleh sejarah begitu luhungnya padahal Bapak tak pernah berjumpa dengannya?”

”Begitulah cinta. Cinta melampaui segalanya, mengatasi segalanya, entah itu jarak, waktu, dan perasaan di dalam hati. Maka, tidak tepat sama sekali cinta itu dibatas-batasi definisi dan ekspresinya. Cinta ya cinta saja, bebas saja. Begitu pulalah ceritanya sehabis subuh tadi, saat kamu masih lelap, aku keluar dari rumah untuk membelikan pecel lezat ini buatmu.”

”Wah, maaf, saya jadi merepotkan Bapak.”

”Haaa, mana ada kerepotan buat cinta? Sudah kubilang, cinta melampaui segalanya. Dan hanya itulah yang kita punya. Jika kita tak lagi bisa mempertahankannya, jadilah serupamu ini.” Aku terbahak kali ini. Ia, kulihat, tersenyum kecil, tipis, tak lagi dengan mata memicing.

Dua cangkir kopi telah berpindah ke perut kami ketika azan Magrib menggema. Aku pamit kepadanya untuk salat Magrib dulu. Ia mengangguk, dan diam saja di tempatnya. Ya tentulah kudiamkan saja. Toh, bukan urusanku. Aku salat berjamaah bersama sejumlah orang yang tak kukenal. Semuanya terjadi begitu saja: Ada yang maju jadi imam, ada yang jadi makmum, dan begitu terus bergiliran dengan orang-orang yang berdiri antre di belakang karena luas musala ini tak kuasa menampung jamaah besar sekaligus.

Aku kembali duduk di hadapannya dengan wajah masih menyimpan beberapa tetes air wudu. Kupejamkan mata, menyelesaikan beberapa zikir yang biasa kubaca, 10 kali salawatan ijazah, plus AlMulk.

Begitu kubuka mata, ia menatapku dalam-dalam.

”Kenapa?” tanyaku.

”Apa Bapak mengamalkan semua bacaan tadi sudah sejak lama?”

”Ya, lama sekali, tahunan.”

”Terus, karenanya, Bapak menjadi kaya begini?”

Aku terbahak, keras sekali. Beberapa mata di sekitar meja kami menyeret wajah ke arahku. Sekilas-kilas.

”Kau tahu aku tadi membaca AlMulk?”

”Ya, saya tahu, bacaan Bapak tadi tak asing di telinga saya.”

”Begini, ya,tentu wajarlah bila aku ingin diselamatkan dari azab kubur dan neraka. Manusiawi. Tetapi, aku tak ingin menghalangi Tuhan untuk menterjadikan apa saja yang dikehendaki-Nya gara-gara amalku. Boleh jadi Tuhan memutuskan untuk menyelamatkanmu kelak, lho, bukan aku, atau kita semua diselamatkan-Nya. Siapa tahu? Tuhan itu selalu Tuhan Yang Maha Semau Gue.”

”Ah, saya mana mungkinlah, Pak, salat saja tidak kok.” Matanya dibuang jauh, jauh sekali, membelah riak lampu-lampu kota yang bertebaran di segala penjuru. Cakrawala bagai berisi pijar lampu semua. Seluruh cakrawala.

”Hei, janganlah mengecilkan karepe Gusti Allah. Dia Mahakuasa. Dia tak bisa kita kekang-kekang dengan paham dan amal kita. Begitulah semestinya Dia kita yakini.”

Ia diam.

”Aku kasih tahu kamu satu hal, ya. Cukup dengarkan. Kamu tak perlu memahami, apalagi meyakininya, sekarang. Cukup dengarkan, oke?”

Ia diam saja, tapi dengan mata mencermatiku, tanda ia berkenan untuk menyimak ucapanku.

Abu Bakar Ash-Shiddiq bertanya kepada putrinya, Sayyidah Aisyah, seusai kepergian Rasul SAW. ”Amal Rasul apakah lagi kiranya yang belum kuamalkan, Aisyah?”

”Semuanya telah kamu amalkan, Ayah, kecuali satu.”

”Apa itu?”

”Beliau punya kebiasaan pergi ke sebuah sudut pasar Madinah, menemui seorang pengemis Yahudi yang buta, menyuapinya makanan.”

Besoknya, Abu Bakar pun menirunya. Dilihatnya seorang pengemis buta yang duduk di sebuah sudut pasar. Tubuhnya kumal dan dekil. Kedua tangannya ditengadahkan ke atas, ke arah siapa pun yang melintas. Mulutnya yang reyot dan lapuk tak henti-hentinya mencemooh Rasul.

”Muhammad itu hanya orang gila, tukang sihir, sakit jiwa, jangan kalian ikut ajarannya. Itu ajaran sesat, rusak, jangan kalian dengarkan apa pun yang diajarkan Muhammad.”

Dada Abu Bakar berdegup keras. Kurma di tangannya tergenggam lebih erat. Bagaimana bisa Sang Rasul sanggup menyuapkan makanan setiap hari kepada mulut yang menganga menelan makanan-makanannya tetapi sekaligus menghinanya tanpa henti setiap hari?

Langkahnya tercekat di hadapan pengemis buta itu. Dengan tengan gemetar diangsurkan makanan di tangannya ke mulut pengemis buta itu. Mulutnya menganga menerima asupan kurma itu.

”Siapa kamu?!” suaranya terdengar keras tiba-tiba.

”Orang biasanya,” sahut Abu Bakar sekenanya.

”Tidak, kau bohong! Orang yang biasa menyuapiku kukenal betul lembut makanan yang disuapkannya, juga cara lembutnya menyuapkannya ke mulutku. Kau pasti bukan orang itu!”

Dada Abu Bakar berderak gempa. Sangat hebat. Air matanya bocor dari pelupuknya. Begitu deras. Hingga pipinya yang padat berisi basah benar, sebagiannya merembes ke jenggotnya yang tak begitu lebat.

Wajah putihnya memerah. Bulu matanya yang lebat masih saja basah ketika ia berkata pelan dengan gemetar, ”Aku khalifah, penerus orang yang biasa menyuapimu dengan makanan lembut dengan cara lembut itu. Orang yang menyuapimu itu telah tiada. Orang tersebut adalah Muhammad yang kau cacimaki setiap saat, setiap hari, dan setiap hari pula dia menyuapkan makanan lembut kepadamu dengan cara yang sangat lembut.”

Aku pun lindap ke ruang tamu, lalu ke dalam kamar. Ozer sedang bermain bersama mamanya di atas kasur. Suaranya yang kecil dan lucu langsung menyambutku dengan sebutan, ”Ayah, Ayah, Ayah.”

Ah, anak-anak selalu lucu, selalu lucu dan menyenangkan, makanya hidupnya selalu gembira. Kuciumi ia berkali-kali sembari kugumamkan sejumlah salawat ke kepalanya. Lalu, aku ke kamar mandi, berwudu, ganti sarung, kaus, dan beranjak ke belakang, ke taman yang hijau dan bila malam diterangi cahaya-cahaya lampu yang temaram-temaram saja.

Ia ndepis di suatu malam yang telah sangat lama itu, kedinginan, kumal, dan lapar. Kujamah satu tangannya, masuk, kataku. Matanya menatapku menyipit. Tubuhnya gemetar, penuh takut, dan entah ia sangka aku apa. Kuberi ia makan, minum, dan kursi untuk duduk. Kemudian, kuberi nama ia Daruz. Agar lebih percaya diri kepada indahnya kehidupan ini, kutambahkan satu kata lagi kepadanya: Armedian.

Daruz Armedian, sang kucing kesayanganku; dia lelaki, aku menyebutnya begitu, dan sering kubawa ke mana-mana aku pergi, juga menemaniku di taman ini, di belakang rumah, yang lampunya temaram-temaram saja.

Ia telah duduk di sebelahku, di kursi biasanya, yang semalam pun ia duduki. Dan ia masih diam, membisu. Entah apa yang dipikirkannya. (*)

Jakarta, 8-9 November 2019


Edi Ah Iyubenu, Adalah cerpenis dan esais, tinggal di Jogja. Bisa ditemui di jagat Twitter lewat akun @edi_akhiles.

Editor : Dhimas Ginanjar



Close Ads