alexametrics

Suara-Suara yang Mestinya Tak Kaudengar

Oleh FARIZAL SIKUMBANG
17 Juli 2022, 10:06:14 WIB

Seratus tujuh puluh dua tahun setelah Hulubalang Ampon Raja Lamkuta dan pasukannya membangun rumah panggung besar itu sebagai markas pengatur siasat melawan kolonial Belanda pada tahun 1818 di Pidie, segerombolan pasukan berbaju loreng dari neraka kemudian datang. Mereka lalu menempati rumah itu sebagai markas pemburu pemberontak negara.

DAN di suatu hari yang suram, setelah bala tentara itu gagal membunuh suamimu, kamu kemudian ditangkap dan tubuhmu dilemparkan ke rumah itu. Di dalam kamar yang kosong, dengan beberapa bekas bercak darah di dinding dan di lantai papan yang sudah menghitam, dua orang bertubuh tegap dan berambut cepak menarik kain sarungmu yang bermotif kupu-kupu itu.

Baca juga:
Abang Tentara

***

Rumah panggung besar yang berwujud rumah adat dengan bangunan dari kayu yang di depannya terdapat empat tangga dari beton itu, beberapa tahun yang lalu, selalu menjadi cerita-cerita yang menakutkanmu. Sepulang, atau sewaktu berangkat ke sekolah, kamu sering mendengar bunyi benda dipukulkan ke tubuh manusia yang diiringi lengking kesakitan ketika melintas tidak jauh dari rumah itu. Beberapa kali kamu pernah bertanya padaku perihal suara-suara itu ketika kita berpapasan di jalan. Namun aku menyuruhmu untuk tidak memedulikan siapa yang dipukul. Aku juga menyuruhmu segera pulang dan menutup pintu rapat-rapat. Aku pun melarangmu menoleh ke arah rumah itu karena beberapa tentara dari neraka itu terlihat berdiri dan seperti selalu siap menembakkan senjatanya dari atas rumah panggung besar itu.

Mutia, itu namamu. Aku mengenalmu karena semasa kanak-kanak kamu teman sepengajianku. Usiamu lebih muda tiga tahun dariku. Rumahmu berjarak beberapa meter dari rumahku. Tapi rumahmu menjorok ke dalam. Melintasi jalan setapak. Kamu yatim, ayahmu raib setelah diculik tiga tentara dua tahun yang lalu. Kamu memiliki wajah yang manis, tapi sayang, kamu telah bertunangan dengan seseorang. Setelah menamatkan bangku sekolah menengah atas, kamu menikah. Pernikahanmu hanya dihadiri dan diketahui oleh saudara dekatmu. Ini tak lain karena suamimu adalah seorang pemberontak. Ini juga demi rahasia dan keselamatanmu. Kamu memberi tahu hal ini padaku suatu hari. Entah mengapa kamu percaya padaku. Apakah karena aku cadel dan yatim piatu? Tapi, sungguh, aku tidak paham mengapa kamu mau menikah dengan seorang pemberontak. Kamu tidak memikirkan nasibmu. Jabir nama lelaki itu, telah bergabung dengan pasukan pemberontak pimpinan Pawang Him. Mungkin kamu terpesona pada sosok Jabir yang tampan sehingga kamu mau menikah dengannya. Tubuhnya tinggi dan memiliki misai. Meski berkulit gelap, Jabir memang gagah. Aku kenal Jabir karena kami satu kampung dan dulu pernah satu kelas di sekolah tingkat menengah atas. Jabir meninggalkan bangku sekolah pada kelas tiga SMA. Ia bergabung dengan Pawang Him.

Baca juga:
Pemanjat Kelapa

Jika Jabir memilih bergabung dengan Pawang Him, aku kemudian lebih terpaksa menjadi cuak. Sebuah pilihan yang lebih aman dan terlindungi dari pasukan neraka itu. Aku tidak mau dituduh sebagai pemberontak. Nanti aku pasti akan ditembak. Aku tidak mau mati ditembak tentara. Jika ditembak, bagian tubuhku pasti akan membentuk lubang besar dengan daging menyembur ke luar serta darah yang berceceran. Aku sangat takut. Dan itu sangat menyakitkan. Sudah banyak orang mati ditembak. Ada jasadnya dibiarkan tergeletak di jalan kampung dan di sawah, atau di tambak. Ada juga yang hilang tidak diketahui jejak.

Ketika rumah besar peninggalan Hulubalang Ampon Raja Lamkuta itu dijadikan markas tentara dari neraka, begitu kami menyebutnya, hampir tiap malam kudengar lengkingan kesakitan manusia. Ada bunyi gedebum tubuh, dan sesekali bunyi salak senjata. Ada bunyi raungan wanita, tapi lebih banyak kesakitan kaum pria, yang tubuhnya mungkin dicolok ujung rokok, atau kukunya dicabut dengan menggunakan tang atau obeng. Makanya, bila ada tentara dari neraka membawa seseorang yang dicurigai ke rumah itu, nasibnya tidak akan pernah diketahui. Termasuk Husaini, teman sepengajianku semasa kecil. Ia dituduh membantu pemberontak Pawang Him. Sejak Husaini ditangkap dan dibawa ke rumah panggung besar itu, sampai sekarang keberadaannya tidak diketahui lagi.

Rumahku dengan rumah kayu panggung besar peninggalan Hulubalang Ampon Raja Lamkuta itu mungkin jaraknya sekitar dua ratus meter. Jadi, hampir setiap hari pula aku melihat tentara dari neraka lalu-lalang menenteng senjata. Hampir setiap hari juga aku melihat tentara itu menangkap orang kampung yang dicurigai. Tapi entah mengapa, beberapa tahun lamanya, tidak sekali pun aku menjadi daya tarik untuk dicurigai. Mungkin karena badanku terlalu kurus untuk laki-laki seusiaku. Atau karena lidahku yang cadel.

Namun pada suatu hari yang panas, ketenangan hidupku serasa punah. Ini adalah kisah sakit yang membuatku terpaksa menjadi seorang cuak. Saat itu tiga tentara mendatangi rumahku dengan cara mendobrak pintu hingga jebol. Seorang tentara melayangkan sebuah tinju ke mulutku sampai satu gigi depanku patah. Lalu seorang lagi mengikat tanganku ke belakang dengan potongan kain berwarna hitam. Mereka tidak bicara sedikit pun padaku. Mereka begitu tergesa membawaku dengan mobil pikap yang bagian belakangnya dilapisi potongan pohon kelapa yang cukup tebal. Dalam perjalanan itu, tidak satu pun yang mau bicara padaku. Hanya ada seorang tentara usil berkumis tebal yang suka sekali menyemprotkan asap rokok commodore-nya yang bau ke wajahku dengan senyum menyeringai, yang membuatku terbatuk-batuk. Ia duduk di sebelah kiriku. Persis di samping pintu mobil pikap itu. Saat itu aku berpikir bahwa sebentar lagi aku akan mati.

Aku yakin jika akan dibawa ke rumah panggung besar peninggalan almarhum Hulubalang Ampun Raja Lamkuta yang dikuasai mereka tanpa seizin ahli warisnya. Telah kubayangkan jika aku akan mati di rumah itu setelah mengalami penyiksaan yang berat. Dan denyut nadiku bergetar serta jantung berdetak semakin kencang ketika aku diturunkan di halaman rumah panggung besar itu. Tubuhku lalu diseret ke atas tangga. Didorong ke dalam dan ditendang ke sebuah kamar.

”Hai si cadel, baru kutahu jika kau dulu dekat dengan si Jabir,” ujar seorang tentara dari neraka yang telah duluan berada di rumah itu sembari menginjak pahaku dengan sepatu larsnya yang keras. Aku merasakan kesakitan yang luar biasa. Mataku tertekuk, mulut menganga, dan refleks keluar kata dari mulutku, ”aaaaakkk…”

”Kau akan mati di sini,” serapahnya kembali. ”Karena kau kawan si Jabir, tamatlah kau di sini!” Suara tentara itu sangat keras sambil mengentakkan sepatu larsnya ke lantai papan rumah itu.

”Pantengong! Kau tahu? Semua kawan Jabir sudah mati. Kini tinggal kau!” kali ini sepatu lars itu menghantam mukaku. Rasanya remuk. Bibirku berdarah. Gigi depan rasanya banyak yang goyah.

Di saat setetes darah dari bibirku jatuh ke lantai, kulihat muncul lagi seorang tentara dari neraka memegang balok kayu. Tidak lama setelah ia memelototiku, ia lalu berbisik entah apa kepada tentara yang tadi menendang mukaku. Aku berpikir bahwa aku akan benar-benar mati dengan cara yang sangat menyakitkan ini. Dan tiba-tiba saja aku telah ingat ibu, yang dua tahun lalu meninggal karena sakit dan kekurangan makanan. Aku juga ingat bapak yang tewas karena peluru nyasar saat tentara dan pemberontak terlibat kontak senjata di ladang kami.

”Hanya ada satu pilihan agar kau tak mati seperti yang lain,” kata tentara yang tadi menendangku. ”Kau harus jadi cuak. Kau mau?” kali ini kedua tentara itu masing-masing menginjak pahaku dengan sepatu larsnya. Bukan hanya menginjak, tapi mereka menekannya kuat-kuat. Aku menjerit kesakitan. Suaraku keras. Menerobos celah-celah dinding papan rumah itu, ”aaauuww, aaaauuww…”

”Kau mau!”

Sungguh, aku tak sanggup menahan kesakitan yang begitu pilu, dan refleks, kuanggukkan kepala, ”ya, yaaa.”

”Bagus, bagus.”

Sejak itu aku jadi cuak. Informan tentara dari neraka. Tugasku adalah mencari tahu keberadaan pemberontak dan simpatisannya. Hanya dua bulan sebagai cuak, aku dapat membuktikan kepada mereka loyalitasku yang sebenarnya. Ini tak lain karena informasi yang kuberikan sangat valid dan terbukti. Misalnya, aku memberikan keberadaan kelompok Pawang Him di sebuah hutan. Meski akhirnya, ia dan pasukannya dapat meloloskan diri. Aku juga pernah memberikan informasi ketika seorang anak buah Pawang Him pulang ke rumahnya, dan akhirnya bisa ditembak mati.

Kini aku sangat dekat dengan tentara dari neraka itu. Mereka memercayai kesetiaanku sebagai mata-mata mereka. Dan ini tentu membuatku bebas datang dan pergi ke rumah panggung besar itu. Sejak itu aku tidak pernah mengalami ketakutan akan siksaan tentara dari neraka. Bahkan tidak jarang aku bercengkerama dengan mereka, tertawa lepas, main batu domino, minum kopi sampai pagi. Aku tak ingin menyia-nyiakan kepercayaan mereka. Aku tak ingin mati di tangan tentara dari neraka seperti yang kusaksikan sendiri di rumah jagal itu.

Bahkan, untuk itu, untuk membuktikan kesetiaanku, aku benar-benar rela memberi tahu pada mereka jika Jabir suatu malam pulang ke rumah istrinya. Tidak kurang lima belas tentara kemudian dipersiapkan mengepung rumah Jabir. Jabir adalah anak buah Pawang Him paling dicari karena sangat tangkas berperang hingga banyak tentara dari neraka tewas.

Sebelum penyergapan dilakukan, sebuah rencana telah disusun. Malam itu sebagian tentara itu bersembunyi di semak-semak dan di balik pohon dekat rumah tinggal Jabir dan istrinya. Sebagian lagi mencoba mendekati rumah kayu yang diawasi itu. Tapi kurang lebih lima meter di saat tentara dari neraka mendekati rumah yang gelap itu, tiba-tiba terdengar salak senjata yang dilepaskan Jabir. Tentara dari neraka yang tadi berdiri menyasak ke arah rumah dengan tangkas tiarap ke tanah. Dan sebuah bayangan, kuyakin itu Jabir, seperti melayang cepat ke arah semak-semak, lalu hilang dalam kegelapan. Malam itu pengepungan terhadap Jabir gagal. Tentara dari neraka marah. Rumah itu diobrak-abrik. Dan, mereka menemukan Mutia. Ah, Mutia.

***

Di ruangan depan rumah panggung tempat penyiksaan yang terbuka itu, Mutia menatapku dengan jijik dan tajam. Sebuah pandangan yang tidak pernah kudapatkan sebelumnya dari Mutia. Aku kasihan padanya, tapi apa daya, aku tidak mau mati disiksa tentara dari neraka. Maka, kubiarkan kamu diikatnya. Kurelakan dirimu dijambak. Dipukul…

”Istri pemberontak, semestinya kita habisi…”

Dua tentara menarikmu ke kamar. Menyasakmu ke dinding papan dengan berahi. Merenggut kain panjang kupu-kupumu.

”Biaaadab dasar cuaak,” kudengar kamu terus berteriak, seperti memakiku. Tapi lenguhan tentara itu semakin keras terdengar. Kudengar kau menggelepar. Menggelepar dengan rintihan-rintihan tertahan.

Aku menutup kupingku. Mutia, sungguh, aku tidak ingin mendengar suara-suara yang keluar dari mulutmu. Tapi telah jauh kutinggalkan rumah panggung besar itu, suara rintihanmu tetap menyusup ke dalam telingaku. (*)

 

Banda Aceh, 2020

 

Catatan

1. cuak= mata-mata

2. pantengoeng = ungkapan memaki/bodoh

3. Hulubalang Ampun Lamkuta = seorang hulubalang pada masa penjajajan Belanda yang hidup di daerah Pidie


FARIZAL SIKUMBANG

Lahir di Padang. Tinggal di Banda Aceh. Perajin prosa cerita pendek. Kumcernya yang sudah terbit ”Kupu-Kupu Orang Mati” (Basabasi, 2017). ”Mata Kuning Muda” adalah kumcernya yang akan terbit tahun ini.

Editor : Ilham Safutra

Saksikan video menarik berikut ini: