Semangkuk Gabus Pucung

Oleh RULY R.
16 Mei 2021, 13:05:27 WIB

Mata Babe Kasan lekat menatap pohon jambu air di depan rumah kebayanya. Sudah beberapa hari ini dia menghabiskan waktu sore menjelang buka puasa di bale-balenya, terus melihat pohon itu, yang baginya menyimpan banyak kenangan tentang Roheti, putri semata wayangnya.

BEBERAPA tetangga yang kebetulan lewat menyapanya, namun dia tak sepenuhnya hirau, hanya menjawab sapaan itu dengan anggukan kecil.

Mula-mula, tidak ada yang benar-benar memperhatikan perilaku Babe Kasan, namun saat ini, di mana hari terakhir puasa, Nawi saksama memperhatikan lelaki tua berkumis tebal dan selalu mengenakan songkok lusuh itu. Ingin Nawi menyapa, syukur mengajak Babe Kasan ngobrol. Namun, peristiwa yang sudah berlalu lima tahun masih begitu membekas dalam hatinya. Semua berpangkal pada Roheti, yang akrab disapa Eti.

Nawi sebagai tetangga, juga teman sepermainan Roheti, tentu tak asing dengan pohon jambu di depan rumah Babe Kasan. Masa kecilnya kerap dihabiskan di sana. Entah petak umpet atau main ayunan bersama kawan.

Sampai saat ini pohon jambu di sana masih tegak berdiri. Daunnya terus rimbun mengenai beberapa kabel listrik yang melintang. Ayunan itu juga masih ada meski tidak bisa digunakan lagi karena kayu alasnya sudah lapuk.

Editor : Ilham Safutra

Saksikan video menarik berikut ini:


Close Ads