alexametrics

Rendang

Oleh: MURAM BATU
16 Januari 2022, 10:01:51 WIB

Kota itu –bukan berarti daerah tingkat dua, disebut begitu karena menjadi ibu kota kabupaten, secara administrasi sebetulnya hanya kecamatan– mendadak berdenyut. Bukan karena pembangunan melejit atau sebaliknya, bukan pula karena jadi perbincangan sebab bencana, ini hanya karena makanan.

TEPATNYA, karena bupati baru begitu mengidamkan makanan yang berbahan daging dengan selimut rempah ruah. Spesial rendang Minang; hitam dan kering berminyak.

Sejatinya, bupati ini bukan orang Minang. Dia Melayu asli walau ada campuran darah Aceh pada kakeknya. Sang kakek adalah anak seorang saudagar yang menikahi dara Aceh. Tapi setelah itu, sang kakek menikah dengan gadis Melayu tulen. Pun bapaknya mempersunting putri Melayu asli. Istri bupati juga bukan Minang. Dia malah Jawa. Si istri adalah generasi ketiga dari keluarga Jawa yang dipaksa Belanda untuk menjadi buruh kebun tembakau. Ibu si istri juga demikian. Bedanya, bapak si istri bukan dari kebun tembakau, melainkan buruh kelapa sawit di perkebunan milik orang Belgia. Keduanya bertemu di pasar saat belanja, tepatnya di hari pasar alias pekan.

Dan, kota itu –seperti kebanyakan kecamatan di wilayah itu– hanya memiliki dua baris pertokoan. Ada yang menjual emas. Ada yang menjual barang bangunan. Ada yang menjual pakaian. Ada yang menjual buku dan perlengkapan kantor serta fotokopi sekaligus studio foto. Ada yang jual barang pecah belah. Ada yang menjual sepatu. Tak ada warung makan. Kedai tempat orang makan atau sekadar membeli lauk-pauk letaknya di luar pertokoan itu. Warung pertama di samping Kantor Pos. Warung kedua –sekira 500 meter dari Kantor Pos– di seberang kantor Telkom. Warung ketiga letaknya tak jauh dari SMA yang hanya ada satu di kota itu. Dan, warung keempat mengambil tempat dekat pasar. Memang, ada beberapa warung lain, tapi kelasnya rumahan; tempat makannya hanya terdiri atas dua meja dan empat kursi di masing-masing meja; menunya pun terbatas. Begitu pun empat rumah makan tadi, meski menunya lebih banyak dan beragam, tapi tak ada yang menjual rendang seperti yang diinginkan bupati.

Dulu, dua puluhan tahun lalu, ketika barisan toko hanya satu dan wilayah itu belum menjadi ibu kota kebupaten, ada sebuah warung makanan yang menjadi langganan keluarga si bupati. Kini, lokasi warung itu telah berubah menjadi toko penjual buku dan perlengkapan kantor serta fotokopi sekaligus studio foto. Tapi, pemiliknya sama, yakni Uni Tin. Nama tokonya pun tak berubah, tetap Uni Tin. Di warung makan inilah si bupati muda termanjakan oleh nikmat rendang.

Editor : Ilham Safutra

Saksikan video menarik berikut ini:

Close Ads