Selamat Hari Pahlawan, Mbah!

Oleh DUKUT IMAM WIDODO
13 November 2022, 09:27:56 WIB

Kasmuri, Sulkan, dan Waras adalah veteran dalam Perang 10 November 1945.

NAMUN, mereka baru diundang pada waktu peringatan Hari Pahlawan yang ke-50, atau tepatnya pada tanggal 10 November 1995. Ketika itu usia mereka telah mencapai 65 tahun. Dan sejak saat itu secara rutin, setiap tahun mereka diundang dalam acara tersebut.

Ketiga orang itu telah menjadi sahabat semenjak mereka masih remaja. Tatkala Perang 10 November 1945 meletus, usia mereka baru menginjak 15 tahun. Sewaktu mereka masih duduk di bangku ST (sekolah teknik) yang setingkat SMP, mereka telah dipaksa oleh Sendenbu (Departemen Propaganda Jepang) untuk dijadikan heiho.

Setelah penyerahan kedaulatan pada tanggal 27 Desember 1949, di mana perang benar-benar telah berakhir, ketiga orang sahabat itu sibuk mencari pekerjaan. Kala itu usia mereka menginjak 19 tahun.

Kebanyakan para mantan pejuang Perang 10 November 1945 itu melanjutkan karier mereka sebagai tentara. Karena sebelumnya mereka memang memiliki latar belakang militer, seperti bekas tentara Peta, heiho, bahkan KNIL.

Kasmuri, Sulkan, dan Waras juga pernah menjadi heiho. Akan tetapi, mereka bertiga telah memutuskan untuk tidak ingin menjadi tentara lagi. Alasan utama mereka, karena dalam Perang 10 November 1945, mereka sudah terlalu banyak membunuh manusia, yang dalam hal ini adalah tentara Sekutu yang diwakili oleh tentara Inggris.

Sebagai mantan heiho, ketiga orang pemuda itu juga memperoleh surat keterangan dari Sendenbu (Departemen Propaganda Jepang) yang dulu pernah memaksa mereka untuk dijadikan heiho (pembantu tentara Jepang). Dan sebagai mantan pejuang Perang 10 November 1945, mereka juga menerima surat keterangan dari penguasa militer setempat. Akan tetapi, ternyata kedua buah surat keterangan tersebut tidak bisa dipakai untuk mencari pekerjaan. Ijazah ST (sekolah teknik) yang telah mereka peroleh dengan susah payah karena situasi perang ternyata juga tidak laku. Padahal mereka butuh makan.

Akhirnya ketiga orang sahabat itu menempuh kehidupannya sendiri-sendiri. Sulkan menjadi tukang tambal ban sepeda. Waras menjadi penarik becak. Sedangkan Kasmuri, karena memiliki kemampuan bermain gitar sejak kecil, lebih suka menjadi pengamen. Ia juga bisa menciptakan lagu.

Di depan gubuk Kasmuri terdapat sebuah lapangan. Lapangan itu sebelumnya adalah tambak yang diuruk. Kabarnya di tempat itu akan dibangun sebuah rusun, namun ternyata urung dilaksanakan.

Sebulan sekali selama bertahun-tahun, ketiga orang sahabat itu selalu bertemu di tempat tambal ban sepeda milik Sulkan. Biasanya pada hari Kamis dari pagi sampai petang. Di tempat itu mereka bernostalgia-menceritakan tentang kehebatan masa lalu mereka dalam Perang 10 November 1945, di mana mereka banyak membantai tentara Sekutu.

Tahun demi tahun berlalu. Ketiga orang sahabat itu pun bertambah usianya. Sulkan dan Waras hidup bahagia dengan anak cucu mereka di rumah baru milik anak-anak mereka yang lebih layak huni. Sedangkan Kasmuri tetap tinggal seorang diri di gubuknya. Ia tidak mempunyai anak, sedangkan istrinya sudah lama meninggal dunia.

Sulkan sudah tidak lagi bekerja sebagai tukang tambal ban, anaknya yang melarang. Anaknya Waras juga melarang bapaknya bekerja sebagai penarik becak.

”Bapak-Ibu momong putu mawon,” kata anak-anak mereka.

Kalau Kasmuri sudah lama berhenti sebagai pengamen.

Ada seorang tukang becak bernama Tarno dan Surti, istrinya, yang diberi tugas oleh Pak RT untuk melayani segala kebutuhan Kasmuri atas tanggungan Pak RT yang memang baik hatinya.

Hari Kamis Tanggal 10 November Tahun 2022, Pukul 08.45 Pagi

Sejak subuh tadi Kasmuri sudah mengenakan pakaian seragam veterannya, lengkap dengan topinya. Terlihat Kasmuri sangat bangga dengan baju seragamnya itu. Karena hanya itulah satu-satunya kebanggaan yang ia miliki di usia senjanya yang semakin meredup.

Kasmuri mengenang:

Beberapa tahun yang lalu, di jam yang sama seperti saat ini, Sulkan dan Waras pasti datang untuk menjemputnya, diantar oleh anaknya Sulkan yang memiliki mobil. Mereka kemudian menuju ke Tugu Pahlawan untuk menghadiri upacara Hari Pahlawan pada tanggal 10 November.

Pada tahun ini dan tahun-tahun selanjutnya, hal itu tidak akan terjadi lagi. Sebab di awal tahun ini, Sulkan dan Waras telah meninggal dunia dalam waktu yang hampir bersamaan.

Kini tinggallah Kasmuri sendiri. Ia tahu bahwa pada hari ini ia tak mungkin bisa hadir dalam acara peringatan Hari Pahlawan di Tugu Pahlawan. Kalau pada hari ini ia mengenakan pakaian seragam veteran, itu semata-mata karena ia menghormati Hari Pahlawan dengan cara dia sendiri. Dan yang bisa ia lakukan hanyalah mengenakan pakaian seragam veterannya. Rencananya, ia akan mengenakan pakaian seragamnya ini seharian. Ia tidak akan pergi ke mana-mana, ia hanya tinggal di gubuknya.

Sesuai pesan Pak RT pada Surti, yang selama ini merawat Kasmuri, nanti tepat pukul 09.00, Mbah Kasmuri agar dibawa ke luar rumah. Surti juga diminta untuk berdandan rapi. Istrinya Tarno itu hanya menduga-duga, namun sesungguhnya ia tidak paham benar dengan maksud ucapan Pak RT. Surti juga tidak berusaha untuk bertanya karena bagi dirinya hal itu tidaklah penting. Di sisi lain, semenjak subuh tadi, istri Tarno itu memang belum keluar rumah sehingga ia juga tidak tahu apa yang sedang terjadi di luar sana.

Sementara itu, para peserta acara ini telah berdatangan dan memenuhi lapangan di depan gubuk Kasmuri. Sesuai kesepakatan bersama, mereka datang tanpa kegaduhan dan tanpa menimbulkan suara. Ketika menata barisan-barisan dalam lapangan juga tak ada suara yang terdengar sebab semuanya dilakukan dengan isyarat tangan.

Para peserta acara ini semula terdiri atas satu peleton polisi pamong praja, satu peleton hansip, keduanya diambilkan dari masing-masing kelurahan. Satu peleton Pramuka dan satu peleton PMR (Palang Merah Remaja). Juga ada satu regu TNI-AD dari koramil dan satu regu anggota kepolisian dari polsek.

Rupanya Danramil (komandan koramil) dan Kapolsek (kepala polisi sektor) melaporkan pada atasannya masing-masing, yaitu Dandim (komandan kodim) dan Kapolres (kepala polisi resor) tentang adanya kegiatan itu. Pada pukul 08.50 datanglah tambahan peserta, yaitu satu peleton pasukan TNI-AD dan satu peleton Brimob bersenjata lengkap. Mereka juga memasuki lapangan dalam diam tanpa suara. Bahkan derap suara sepatu mereka tak terdengar sama sekali.

Yang ditunjuk sebagai komandan upacara adalah Danramil. Seorang perwira muda, berpangkat kapten, ganteng dan gagah. Istrinya Sulkan dan istrinya Waras juga diundang sebagai tamu kehormatan. Mereka duduk di tenda khusus bersama Ibu Camat, Ibu Lurah, para lurah lainnya, serta ibu-ibu Dharma Wanita.

Langit mendung, namun bukan berarti hujan akan turun.

Tepat pukul 09.00, pintu gubuk Kasmuri dibuka. Masih mengenakan pakaian seragam veteran lengkap dengan topinya, Kasmuri duduk di kursi roda yang didorong oleh Surti.

Bukan hanya Kasmuri yang terkejut, Surti pun terheran-heran demi melihat pemandangan yang ada di depan mereka. Mengapa ada tentara, ada polisi, ada hansip, polisi pamong praja, dan masih banyak lagi. Mereka semua berbaris rapi menghadap ke arah Kasmuri. Anehnya lagi, mereka berdiri dalam diam. Tak ada seorang pun yang mengeluarkan suara. Begitu juga orang-orang yang berada di bawah tenda-tenda kehormatan. Mereka juga membisu semua…

Ketika Kasmuri dan Surti masih kamitenggengen (terheran-heran), tiba-tiba muncullah Pak RT.

”Karena Pak Kasmuri tidak bisa hadir dalam upacara peringatan Hari Pahlawan di Tugu Pahlawan, kami menyelenggarakan upacara sederhana ini untuk memberi penghormatan bagi Bapak.”

Demi mendengar penjelasan dari Pak RT, Kasmuri mengangguk, lidahnya kelu. Ia tidak mampu berkata apa-apa. Bibirnya mengatup rapat, menahan air matanya yang akan mengalir, membasahi pipinya yang keriput.

Pak RT mendorong kursi roda Kasmuri menuju ke tenda berukuran kecil yang memang diperuntukkan bagi dirinya. Surti mengikutinya dari belakang. Sementara pegawai kecamatan yang bertugas untuk mendokumentasikan acara ini sejak tadi mengarahkan kamera videonya ke wajah Kasmuri. Terdengar suara trompet, komandan upacara pun berteriak lantang.

”Kepada Bapak Kasmuri, hormat senjata, graaak!!!”

Seluruh peserta upacara memberikan penghormatan pada Mbah Kasmuri. Dari TNI-AD dan Brimob yang membawa senjata dengan cara mengangkat senjata di depan dada. Bagi peserta lain seperti polisi pamong praja, hansip, Pramuka, PMR, dan lain-lain, mengangkat tangan kanannya ke ujung topi atau dahi. Sedangkan sang komandan upacara menyilangkan pedangnya ke sisi kanan.

Terjadi keajaiban. Mbah Kasmuri yang selama enam bulan terakhir ini tidak bisa berdiri tiba-tiba bisa berdiri. Surti yang terkejut melihat kejadian itu segera berlari mendekatinya.

”Mbah…Mbah…atos-atos Mbah,” bisik Surti. Kasmuri mendengar suara Surti, namun ia tetap berdiri, tangan kanannya diangkat ke ujung topi. Dia membalas penghormatan para peserta upacara selama kurang lebih setengah menit.

”Tegak, graaak!!!” Kembali suara lantang komandan upacara terdengar diikuti suara trompet. Mbah Kasmuri kembali duduk di kursi rodanya.

Komandan upacara memberikan isyarat. Di luar dugaan, tiba-tiba seluruh yang hadir di lapangan itu berteriak bersama-sama:

”Selamat Hari Pahlawan, Mbaaah!!!”

Setelah itu mereka pun bertepuk tangan. Mendengar ucapan selamat yang tidak lazim dan tidak diduga-duga itu membuat Kasmuri kembali menangis.

Seperti lazimnya dalam sebuah upacara resmi, dalam upacara ini juga ada pengibaran Sang Saka Merah Putih serta memperdengarkan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Pada saat itu Kasmuri juga berdiri dari kursi rodanya dan memberi penghormatan seperti peserta upacara lainnya.

Yang menjadi pembawa acara dalam upacara ini adalah seorang guru wanita. Ia menjelaskan bahwa ada seorang guru seni suara yang secara kebetulan menemukan lirik dan notasi lagu-lagu perjuangan di pasar loak buku.

”Lagu-lagu itu belum pernah diketahui oleh masyarakat. Dan lagu-lagu itu diciptakan oleh Kasmuri ketika masih remaja,” ujarnya. Kasmuri terlihat kaget mendengar penjelasan itu.

Sesaat kemudian terdengarlah rekaman lagu yang berjudul Perang 10 November 1945. Kemudian dilanjutkan dengan lagu berjudul Kembalilah Pahlawanku. Dan terakhir adalah lagu berjudul Pahlawan Tak Dikenal.

Mbah Kasmuri meneteskan air matanya kembali. Betapa tidak, lagu-lagu ciptaannya di kala ia masih remaja itu baru bisa ia dengarkan 77 tahun kemudian. Hadirin dan peserta upacara pun banyak yang meneteskan air mata ketika mendengar lagu-lagu itu. Lirik ketiga lagu itu benar-benar telah menyentuh hati mereka.

Upacara di lapangan depan gubuk Kasmuri itu dapat terlaksana berkat jasa Surti, istri Tarno. Dua hari sebelumnya, wanita itu mendengar percakapan antara Mbah Kasmuri dan Tarno, suaminya.

”Sakjane ngono aku pingin nekani upacara Hari Pahlawan iku.”

”Bagaimana kalau saya antarkan naik becak, Mbah?” Tarno yang bekerja sebagai penarik becak menawarkan diri. Ia begitu iba melihat Mbah Kasmuri yang sangat bersemangat ingin hadir dalam upacara tersebut. Namun, dengan halus Kasmuri menolak tawaran itu.

Diam-diam Surti melaporkan pembicaraan antara Mbah Kasmuri dan Tarno tersebut ke Pak RT. Pak RT meneruskannya ke Pak RW. Pak RW melaporkannya ke Ibu Lurah. Ibu Lurah pun melapor ke Ibu Camat sehingga upacara tersebut bisa dilaksanakan.

Orang-orang itu adalah pribadi-pribadi yang tahu, bagaimana menghargai dan menghormati pahlawannya. Mereka tahu bahwa di kecamatan ini Mbah Kasmuri tinggal satu-satunya veteran Perang 10 November yang masih hidup. Namun, tiga hari setelah upacara di lapangan depan gubuknya, Mbah Kasmuri wafat.

Seperti halnya Sulkan dan Waras, Kasmuri tidak mau dimakamkan di Taman Makam Pahlawan. Sesuai pesannya pada Tarno dan Surti sebelum meninggal, ia minta dimakamkan di samping istrinya. (*)

DUKUT IMAM WIDODO, Budayawan dan penulis buku Hikajat Soerabaia Tempo Doeloe dan Monggo Dipun Badhog

Editor : Ilham Safutra

Saksikan video menarik berikut ini:


Close Ads