alexametrics

’84

Oleh MAHFUD IKHWAN
13 September 2020, 14:47:25 WIB

Jika benar ingin memenuhi permintaan orang tuaku untuk kawin, aku hanya menginginkan perempuan seperti Ratna. Orang tuaku mengenal dan menerimanya dengan baik, tak seperti terhadap kebanyakan kawan yang datang ke rumah.

IA akan jadi menantu sempurna bagi keluarga besarku yang Tionghoa-Katolik. Ia juga kuyakin akan jadi istri sempurna untukku. Aku bisa membayangkan kami punya anak-anak lucu, anak-anak Indonesia sebenar-benarnya, yang bernenek moyang Cina, Jawa, Flores, Madura, dan sedikit Portugis.

Ia mencintai sastra Indonesia sebagaimana aku dan karena itu kami menjadi dekat. Alasan lain adalah karena kami satu fakultas dan satu angkatan, meskipun beda jurusan. Untuk urusan akademik dan intrauniversiter, jelas ia jauh meninggalkanku. Cita-citaku jadi Jassin berikutnya, tapi aku malah putus kuliah dan seterusnya cuma jadi tukang kliping yang ceroboh. Ia cemerlang sejak awal, lulus dengan sangat baik, salah satu sarjana spesialisasi sastra Melayu paling dibicarakan di masa itu. Tak mengherankan, ia segera diterima sebagai dosen muda di jurusannya. Dan mungkin saja hari ini kita akan mengenal nama Prof Dr Maria Ratna Dacosta di jurnal-jurnal filologi paling terkemuka dunia jika saja penulis pop berengsek itu tak merusuhinya.

Penulis itu –silakan cari tahu sendiri, aku tak mau sebut nama di sini– satu jurusan dengan Ratna, sekitar dua–tiga tingkat di atas kami. Gagal menulis roman filsafati seperti Iwan Simatupang, tak becus menjajal novel warna lokal macam Korrie dan Linus, ia pilih ikut arus menulis pop dan segera jadi top. Ia dekat dengan Ratna, juga kenal baik denganku. Kami pernah terlibat kelompok menulis yang dibentuknya, hadir di banyak forum seni-budaya bersama. Ia mencintai Ratna, tapi Ratna menolaknya. Penolakan itu rupanya menyakitinya. Lalu, ia mulai bikin perhitungan. Kemampuan dan ketenarannya sebagai penulis ia kerahkan untuk balas dendam. Ia mencipta tokoh bernama Retno, yang karakternya nyaris menyerupai Ratna. Bedanya, jika Ratna campuran Flores-Madura asal Surabaya yang ceria, Retno adalah gadis Jawa asli Wonogiri yang pemalu; Ratna anak sastra, Retno mahasiswi filsafat.

Diceritakan di situ, Retno jatuh cinta dengan kakak angkatannya, Hadi, penyair muda yang mulai diperhitungkan di kesusastraan nasional. (Hadi, mudah diduga, mirip karakter pengarangnya.) Retno menyangka Hadi mencintainya, namun Hadi malah pacaran dengan Poppy, penulis novel remaja yang sedang trendi. Retno patah hati dan frustrasi. Ia mendendam kepada Hadi, tapi terutama menyalahkan diri sendiri, menyalahkan keluguannya; ia merasa tak menarik di mata penyair pujaannya. Seperti kebanyakan tokoh di novel pop ’70-an, Retno mengalami perubahan watak drastis. Ia mengubah diri, dari gadis desa pemalu menjadi gadis kota merdeka. Ia memilih bergaul bebas, sebagai pelampiasan, juga berharap Hadi memperhatikan. Upaya itu tak berhasil, dan Retno makin terjerumus. Anehnya (meski ini keanehan yang wajar di novel pop), itu tak menghalangi Retno menjadi dosen di fakultasnya. Tak seperti Ratna yang berprestasi, Retno jadi dosen dengan segala intrik dan skandal: ia ada main dengan pejabat universitas, punya affair dengan dosen senior, juga merayu mahasiswanya sendiri, baik untuk senang-senang maupun untuk tetap jadi populer. Dan, seperti tradisi turun-temurun di novel-novel kita, karakter macam ini harus dihukum: Retno pun kena batunya. Ketika membimbing KKN di sebuah desa terpencil, Bu Dosen Retno yang gerak-geriknya mengundang dijebak sekelompok pemuda desa kasar dan penuh nafsu. Ia diperkosa beramai-ramai. Retno hancur sekali lagi, tapi kali ini lebih parah. Ia terguncang dan hilang ingatan. Seakan itu tak cukup, ia juga hamil. Lalu, muncullah pahlawan di akhir cerita. Hadi, yang telah jadi penyair terkenal, trenyuh atas apa yang menimpa Retno. Hadi meninggalkan Poppy dan karir kepenyairannya untuk Retno. Hadi baru tahu apa yang selama ini dilakukan Retno cuma untuk menunjukkan rasa cintanya. Dengan semangat penebusan, Hadi berjanji akan menikahi Retno jika sembuh. Tapi telat, Retno meninggal setelah melahirkan.

Bung pernah baca cerita itu? Kuharap tidak. Cerita buruk itu gagal di pasar. Juga disebut-sebut terlalu mengekor tren masa itu. (Cermati lagi ringkasan di atas, maka akan segera terasa seperti trilogi Kampus Biru-nya Ashadi yang dipotong-potong lalu dipasang lagi secara berantakan.) Dan, kabarnya, kegagalan itu juga menghabisi karir kepengarangan penulisnya. Tapi, bukan berarti novel jelek itu tak punya dampak. Novel itu, bagaimanapun, beredar dan dibaca di kampus tempat Ratna mengajar dan menimbulkan desas-desus. Ratna awalnya cuek, tapi tekanan di lingkungan kampusnya mulai muncul. Lalu, prasangka jadi vonis. Akhirnya, Ratna tak mampu lagi menanggungnya. Ia pilih keluar. Dari kampus terbesar di negeri ini, ia pindah ke sebuah kampus kecil di pinggiran kota.

Beruntung Ratna tak kehilangan keceriaannya. Ia betul-betul gadis Surabaya, dengan kesurabayaan yang tak disembunyikannya. (Cak-cuk-nya fasih betul, tapi bukan hanya itu.) Aku tak yakin apa benar-benar pernah jatuh cinta kepadanya, tapi aku merasa inilah yang paling menarik darinya: Ratna sungguh berbeda dari Retno. Ia tak tergoyahkan. Saat itulah aku pernah mengajaknya menikah. Tapi, dengan lidah Surabaya-nya yang terus terang, enteng saja ia menolakku. ”Sudahlah, Mam. Aku tak membencimu, tapi kita tak akan cocok kalau kawin.” Mungkin ia benar. Dan karena itu, aku tak apa-apa. Kami tetap bersahabat. Ia masih sering main ke rumah seperti sebelumnya, sementara aku tak tergerak menulis novel pop seperti pengarang yang karirnya tamat itu; mungkin aku tak bisa menulis seburuk itu.

Tapi, sekuat-kuatnya gadis Surabaya, ia punya kelemahan. Ratna punya dua: film India dan ludruk. Itu kuketahui belakangan. Karena dua hal itu, kukira, ia jatuh cinta kepada orang yang salah. Sangat salah!

Pada sebuah petang, Ratna datang ke rumahku. Biasanya ia datang untuk sebuah buku puisi stensilan tahun ’70-an yang hanya aku yang punya, atau sebuah roman terbitan Medan dari masa akhir kolonial karya penulis peranakan. Tapi, petang itu ia mengajak menonton. Entah saat itu sedang ada urusan apa, aku menunjukkan keengganan. Aku ajukan pertanyaan-pertanyaan tak perlu yang menjengkelkannya.

”Film apa?”

”Romance.”

”Film lama?”

”Baru.”

”Robert Redford ya?”

”Kumar Gaurav.”

Aku menatapnya heran. Aku tak kenal nama yang disebutnya, tapi aku bisa mengira-ira itu nama dan film macam apa, dan itu sama sekali tak cocok dengan profilnya: seorang dosen sastra sekaligus gadis Katolik. Lalu, bajingan tengik itu nyelonong begitu saja.

”Aku tahu, Mbak!”

Rumahku, yang sebenarnya pintu belakang dari sebuah ruko berlantai dua, sering dikunjungi banyak orang. Ada 7.000-an buku di sana. Bukan yang terbanyak di kotaku, tapi sepertinya buku-bukuku dan suasana rumahku lebih disukai dibanding perpustakaan umum atau perpus kampus di kota ini. Orang-orang yang datang sebenarnya macam-macam, tapi bisa dikatakan tipikal: mahasiswa, dosen, penulis, seniman, atau sejenisnya. Mereka kebanyakan adalah orang-orang dengan embel-embel di belakang namanya. Misalnya Beni Virgo, pengarang; Maria Ratna Dacosta, dosen; dst. Kecuali mungkin Anwar Tohari.

Meski punya nama mirip pengarang, Anwar tak punya potongan pengarang sama sekali –kecuali kesan kumalnya. Dan ia tak jelas dari mana. Pada suatu pagi, ketika aku membuka pintu rumah, ia sudah ada di beranda, membaca koran langgananku. Tak banyak bicara, tak juga bertingkah. Aku tak punya alasan untuk mengusirnya. Entah bagaimana urutannya, tiba-tiba Anwar menjadi salah satu orang yang paling kerap muncul di rumahku. Kesukaannya adalah membaca cerita-cerita silat koleksiku. Lalu, ia mulai membuatkan minum untuk orang-orang, membelikan rokok, mencarikan makanan, menemaniku ke acara-acara seni. Ada teman yang mengingatkan, ”Ini tahun ’84, Mam. Awas intel.” Tapi, Anwar tak menyisakan sedikit pun celah untuk curiga. Ia mulai kerap tidur di rumahku. Kami pun jadi sahabat.

Dan pada sore yang tak seharusnya itu, ia ada untuk Ratna.

”Kumar Gaurav Love Story, kan?” tanya Anwar, mendongak dari buku cerita silat yang dibacanya.

Ratna berbinar. ”Kamu tahu?”

”Tentu saja. Yang lagunya….” Lalu, tanpa sungkan Anwar berdendang: ”Yaad aa rahi hai….” (Atau semacam itu). Dan Ratna menyahutinya. Astaga! Aku seperti menonton adegan film India secara langsung dan hidup.

”Nonton yuk!” ajak Ratna. Sebelum Anwar mengeluarkan raut muka miskinnya, Ratna menukas: ”Sudah, aku yang beli tiketnya.”

Dua orang itu pun pergi, meninggalkanku dalam ketercengangan dan ketakmengertian.

Setelah itu, Ratna menjadi lebih sering datang ke rumah, sementara Anwar selalu ada di sana. Mereka kerap keluar bersama. Tapi, kadang mereka hanya ngobrol di beranda. Mereka mulai tampak menjadi dekat. Dalam beberapa kesempatan curi dengar, aku tahu keduanya tidak saja cocok soal si Kumar Gaurav atau Tina Munim atau tetek bengek film India kegemaran mereka, tapi juga tentang ludruk, yang belakangan aku ketahui merupakan ketertarikan Ratna saat remaja. Aku pernah dengar mereka pergi berdua nonton ludruk di luar kota. Beberapa teman mulai menyebut mereka pacaran. Mungkin aku sedikit meremehkan Anwar, tapi aku menganggap itu dilebih-lebihkan. Lalu, setelah sempat begitu kerap terlihat bersama, tiba-tiba dua orang itu lenyap juga secara bersamaan.

Pada sebuah acara diskusi buku, berbilang bulan setelah aku terakhir melihatnya, aku bertemu Ratna dalam keadaan yang sangat berbeda dari biasa aku mengenalnya. Dan ia sendirian. Meski ia tetap berusaha ceria ketika menyapaku, aku tak bisa ditipu. Ia lebih kurus dan tampak pucat, tipikal gadis patah hati yang biasa muncul di film-film kita. Rupanya benar, ia benar-benar patah hati. Dan penyebabnya adalah Anwar. Bajingan! Meski pernah mendengarnya, aku tetap tercengang juga ketika tahu bahwa itu benar. Apalagi setelah Ratna cerita duduk perkaranya. Kata Ratna, ia mengungkapkan perasaannya, tapi Anwar menolaknya.

Mungkin karena cemburu, atau karena rasa melindungi, atau entah apa namanya, aku marah dengan Anwar. Lebih-lebih karena dalam keadaan demikian ia justru menghilang. Ketika ia akhirnya muncul, aku langsung mendampratnya.

”Kau dicintai perempuan cantik dan cerdas seperti Ratna, dan kau menolaknya? Sombong sekali!”

Setelah sempat terdiam, ia menyahut kalem: ”Kurasa aku tak pantas untuknya.”

”Ya, kau memang tak pantas untuknya!”

Ia mengangguk-angguk.

”Tahu kenapa? Karena ia perempuan cerdas dan kau pemuda bodoh!”

Ia mengangguk-angguk lagi.

”Atau karena ia berbeda agama denganmu?”

”Aku tak tahu.”

”Karena kau bodoh?”

”Karena aku tak pernah bertanya.”

”Bohong!”

Ia memandang tajam ke arahku.

”Karena kau bodoh dan fanatik!”

Tiba-tiba kepalan tangannya sudah ada di wajahku. Itu cukup untuk membuatku terjengkang. Dan ia pergi lagi. Hidungku bonyok berhari-hari. Ketika beberapa waktu kemudian aku bisa menyaksikan sendiri apa yang bisa dilakukannya dengan tangannya, kurasa aku harus bersyukur. Anwar jelas tak betul-betul ingin menghajarku.

Sementara Anwar menghilang lagi, Ratna benar-benar tak pernah lagi menginjak rumahku. Ia pulang ke Surabaya, mengajar di sebuah universitas swasta besar di kotanya, tempat ia bertemu suaminya, dan tampaknya hidup berbahagia. Ketika aku hampir yakin bahwa aku telah kehilangan dua teman dekat dalam waktu bersamaan, Anwar muncul lagi, datang dengan permohonan maaf yang kikuk karena telah memukulku. Juga pamit. Katanya untuk seterusnya. Tapi, rasa bersalahku tak kurang besarnya. Tak betul-betul tahu masalahnya, aku langsung menyalahkannya. Aku coba menahannya.

”Tidak balik lagi ke sini?”

”Tidak. Aku harus pergi dari kota ini.”

”Sekarang juga?”

”Aku melayat dulu. Ada teman meninggal.”

”Siapa?”

”Kau tidak kenal.”

”Sakit apa?”

”Ditembak.”

*Fragmen dari calon novel

”Gadis Filologi dan Seorang Gali”


MAHFUD IKHWAN

Penulis kelahiran Lamongan yang saat ini tinggal di Jogja. Novelnya, Dawuk, memenangi Kusala Sastra kategori prosa 2017.

 

Saksikan video menarik berikut ini:

 

Editor : Ilham Safutra




Close Ads