alexametrics

Malam Dingin Tak Lagi Terlihat

Oleh ELVAN DE PORRES
12 Juni 2022, 09:55:05 WIB

Sekarang waktu sembahyang rosario dan mereka semua duduk di pelataran rumah Mama Sira. Angin musim kering berembus dari belakang pohon cermele, membawa dengkingan burung elang, dan daun-daun berguguran sebelum berkalang tanah.

MENDENGAR suara burung elang anak-anak memegang lengan orang tuanya erat-erat. Meski suster Ursula telah berkali-kali katakan bahwa burung elang bukan hantu dan suaranya merdu seperti malaikat, anak-anak tetap menganggap itu jelmaan wu’en toan. Malam dingin sekali sebelum kehangatan sedikit terpancar ketika Mama Sira membakar lilin di sekitar patung Bunda Maria.

”Siapa yang belum datang?” Tanta Ester, ketua doa gabungan itu, bertanya.

”Semua orang mesti hadir dulu baru kita mulai berdoa,” sambung suaminya, Om Linus.

”Banyak yang belum datang, kita tunggu sebentar,” Mama Sira menenangkan orang-orang yang mulai riuh. ”Anak-anak jangan bikin ribut,” tuan rumah itu melanjutkan.

***

Minggu lalu tersiar pengumuman dari paroki bahwa selama bulan Maria orang-orang harus banyak memperdalam iman agar terhindar dari kutukan dan malapetaka. Romo Anton, pastor pribumi yang ditahbiskan misionaris Belanda, mulai menyisiri bukit-bukit di Kimang Buleng dan mendata umat Allah yang berdiam di sana. Siapa yang belum masuk Katolik, segera ia baptis; yang sudah beragama, ia perintahkan rajin berkumpul dan berdoa rosario. Di kota ada yang telah mati karena tak mau masuk agama, katanya, biasanya setelah turun dari pelana kuda.

Sesudah visitasi Romo Anton, umat kontas gabungan di kaki bukit itu kian sering mengunjungi satu sama lain; dari rumah ke rumah pada setiap malam usai kembali dari huma. Sebelumnya hanya perempuan yang mengikuti doa kontas, kali ini laki-laki juga turut serta kendatipun beberapanya jarang hadir. Tidak boleh ada yang bersendiri di rumah, begitulah perintah ketua gabungan, apalagi sudah dua hari pamong utusan desa selalu datang memeriksa; membuat mereka lebih takut kepada pamong daripada pastor.

”Mana kau punya suami, Nurak?” tanya Tanta Ester usai menghitung jumlah anggota gabungan.

”Tadi dia suruh saya duluan,” Nurak, perempuan muda yang memakai sarung merak dan duduk berselonjor di dekat kuburan, menjawab dengan suara pelan.

”Hanya dia yang belum datang,” suara Tanta Ester datar. ”Ada yang lihat atau bertemu Marinus?”

Semua orang terdiam, kemudian saling melotot satu sama lain. Orang-orang yang lebih tua menatap Nurak dengan perasaan waswas, teman-teman sebayanya mengerutkan pipi mereka, dan anak-anak makin bersedekap di pinggang ayah dan ibunya.

”Kalian tidak sama-sama?” Mama Sira kembali membuka suara. ”Memangnya tidak takut?”

”Marinus masih cari rumput untuk babi.”

”Cari di mana?” Om Linus tiba-tiba menyambar.

”Di hutan bao dekat belakang pondok,” kata Nurak, kemudian disusul bisik-bisik dari kerumunan itu.

”Dia selalu tidak datang,” timpal lelaki itu.

”Sebaiknya kita mulai sembahyang saja,” Tanta Ester, yang menyadari percakapan telah merembes ke mana-mana, segera memotong pembicaraan, ”dan semoga Tuhan mengampuni dosa-dosanya.”

***

Pasar Nibang sepi pada hari Kamis pagi itu. Para pedagang dari wilayah timur kota tidak kelihatan batang hidungnya dan membuat pembeli gerabah dan tuak kelas satu mendongkol tetapi kemudian khawatir. Kabar angin melingsir cepat; penyisiran orang-orang yang bukan Partai Katolik telah mulai dari timur dan perlahan-lahan bergeser ke barat serta kebun-kebun pisang sudah berubah menjadi rawa-rawa penuh darah. Beberapa orang yang telanjur datang ke pasar memutuskan untuk pulang, beberapa lainnya bersembunyi dari bilik rumah sembari menyingkirkan jauh-jauh benih jagung dan wetar yang mereka terima waktu program ketahanan pangan nasional. Di pasar tidak ada lagi penjual dan pembeli, terik matahari menyiratkan gigil dingin seakan-akan membekukan gema lonceng dari biara terdekat yang entah mengumandangkan apa ke cakrawala.

Marinus –yang baru kembali dari pasar– memberi tahu istrinya bahwa pasar tidak lagi ramai dan banyak penduduk telah diangkut truk-truk tentara dan pedagang dari timur enggan berjualan. ”Tuan tanah tidak mau kalah,” dia berkata ke istrinya. ”Mereka melawan komunis?” istrinya Nurak membalas. ”Tidak ada komunis, hanya orang-orang liberal.” ”Orang-orang itu ingin menguasai kabupaten?” ”Mereka mengecam monopoli bisnis kopra.”

Pasangan suami istri itu menikah setahun lalu dan memperoleh sepetak tanah waktu reforma agraria terlaksana di seluruh kabupaten. Lahan dari keluarga kapitan bekas penguasa hamente mereka dirikan rumah kecil beratap bebang dan di halamannya ada sepasang kelapa merah dan tanaman delima serta di samping kanannya terdapat kandang babi. Di bawah pohon delima Marinus membangun balai-balai untuk menjamu anggota PNI yang sedang menjaring kader. Orang-orang itulah yang telah membantunya mendapatkan tanah dan dia menganggap mereka pahlawan, lalu ingin menjadi anggota partai. Hampir setiap hari dia mengenakan kaus Soekarno, dan ketika istrinya menegur bahwa baju itu tidak pernah dicuci ia selalu mengatakan, Biarkan Bapak Revolusi menyatu dengan kulit saya.

”Bagaimana dengan orang-orang PNI?” Nurak bertanya ke suaminya.

”Mereka tidak lagi berkabar,” kata Marinus.

”Apakah mereka takut?”

”Merekalah yang menjadi sasaran.”

”Dari mana kau tahu?”

”Pemimpinnya yang mantan Partai Katolik itu sudah mati terseret-seret di penjara kota.”

”Apakah masih ada lagi penangkapan?”

”Informasi tidak jelas. Entah PKI atau PNI atau orang-orang kafir.”

”Semuanya dari timur?” Nurak bertanya khawatir.

”Sejarah yang kelam selalu dari timur,” kata Marinus, sesudah itu mengambil sako di belakang para-para.

Itulah percakapan terakhir antara Nurak dan suaminya sebelum keduanya bertemu kembali pada senja hari saat doa angelus ketika Marinus pulang menggarap kebun Ansel Davilla dari keturunan prajurit misionaris Dominikan. Nurak lalu mengajak Marinus sembahyang gabungan karena tadi siang Ensi, ponakan Tanta Ester, datang mengendap-endap ke dalam rumah dan memberi tahu bahwa ketua kontas gabungan meminta umatnya ikut doa rosario agar pamong desa mengganggap mereka beriman dan bukannya orang kafir. ”Hari ini giliran doa di rumah Mama Sira,” kata Nurak lebih lanjut.

”Mama Sira yang janda itu dan dulu rumahnya sering didatangi Pastor Kloumans?”

”Sopan sedikit kalau bicara. Iya, di situ.”

”Kau pergi duluan,” kata Marinus.

”Kau tidak mau ikut?”

”Saya harus pergi ambil makanan babi.”

”Kau lebih pentingkan babi daripada ikut doa?” Nurak merutuk.

”Babi itu pemberian PNI, gereja tidak pernah kasih saya babi.”

”Leluhur kita bukanlah orang-orang yang dekat dengan biara.”

”Leluhur kita menyembah mahe.”

”Sekarang kita menyembah salib.”

***

Tanta Ester menutup sembahyang, memasukkan biji kontas ke kotak anyaman lontar, dan sesudah itu mengeluarkan kapur sirih beserta surat gembala uskup dari tatakan itu. Udara semakin dingin, membuat para lelaki membakar tembakau, dan kaum perempuan ikut memamah kapur sirih yang diedarkan Tanta Ester. Sementara itu, anak-anak tetap terjaga lantaran suara wu’en toan masih melaung. Anak-anak merasa heran kenapa orang tua tidak takut terhadap burung itu padahal merekalah yang sering menyampaikan cerita setan; mungkin suster Ursula lebih banyak memberikan gula-gula penangkal takut ke orang tua ketimbang anak-anak.

Burung elang masih berdengking ketika ketua gabungan membaca hening surat gembala uskup. Baru setelah semua orang kembali tenang Tanta Ester menyerahkan surat itu ke suaminya, meminta Om Linus membacakannya keras-keras dan lelaki itu membacanya keras-keras dengan nada suara seperti deru mesin oto colt. ”Biar mereka yang tidak hadir ikut mendengar,” kata Tanta Ester, ”supaya hantu-hantu keluar dari sarangnya.”

Selanjutnya perkumpulan itu membubarkan diri, kembali ke rumah masing-masing, dan kian memercayai kebenaran kabar yang beredar tadi pagi di Pasar Nibang. Sambil membawa malu Nurak berjalan dengan tergesa-gesa. Dia berharap segera menemui suaminya dan ingin memaki hancur lelaki penyembah berhala itu. Dia memikirkan isi surat gembala uskup dan tatapan sindir anggota gabungan waktu surat itu dibacakan.

Sebelum berbelok melewati gorong-gorong ke arah rumahnya Nurak melafalkan Salam Maria, memohon ampun sekaligus minta berkat dari Mama Bunda, agar lelaki itu bertobat dan setan komunis enyah dari kepalanya. Kemudian dia tiba di rumah. Dia menatap pintu rumah seolah-olah di dalamnya berdiam makhluk asing. Tanpa menunggu jeda, ia mendobrak pintu itu dan memanggil nama Marinus. Satu, dua, dan tiga kali. Tidak ada jawaban.

Bulu kuduknya tiba-tiba berdiri; malam yang dingin seketika berubah jadi hangat dan di dalam rumah itu suaminya tidak terlihat. (*)

Maumere, 2021

Keterangan:

  • wu’en toan: hantu, makhluk halus
  • sako: cangkul
  • mahe: batu penghormatan kepada leluhur

*) ELVAN DE PORRES

Alumnus Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, Nusa Tenggara Timur

Editor : Ilham Safutra

Saksikan video menarik berikut ini:

Close Ads