alexametrics

Selagi Ia Menulis Cerita Pendek Ini

Cerpen oleh: Guntur Alam
11 Agustus 2019, 11:07:29 WIB

IA teringat pada ucapanmu, yang pernah kau utarakan bertahun-tahun lalu, di halte bus yang sepi pada pukul dua puluh dua, seberang Grand Indonesia, ”Apa kamu mencintaiku?”

Usianya baru delapan belas tahun waktu itu. Tetapi, ia pernah bilang secara jujur bahwa ia mengagumimu. Kau berumur tiga puluh tahun. Kau merasa hubungan kalian sedikit ganjil. Perbedaan usia yang tak lazim.

”Kamu seumuran dengan adik bungsuku,” ia teringat juga dengan kata-katamu ini saat menulis paragraf ketiga cerita pendeknya.

”Lalu?”

”Kamu nggak malu jalan denganku?”

”Kamu cantik, kenapa aku harus malu?”

Ia memang mengatakan itu. Ia jujur. Namun, ia masih bertanya-tanya sekarang, kenapa ia tak menjawab saat kau bertanya, ”Apa kamu mencintaiku?”

***

IA menjangkau gelas kopinya, menghirup isinya perlahan sembari matanya menatap layar komputernya. Ia masih menulis cerita pendek ini ketika ingatan tentangmu menyerangnya tanpa ampun. Kau tahu? Matanya berkaca-kaca dan mungkin saja sekarang ia tengah menyesal, kenapa ia tak pernah menjawab pertanyaanmu malam itu.

”Kenapa kamu harus nanya gitu?” ia justru balik bertanya tanpa memedulikan air wajahmu yang berubah. Kau menatap lurus ke jalanan yang lengang. Kalian duduk rapat, tapi tak ada yang memulai untuk saling menjangkau tangan yang tertumpu di kursi halte.

”Aku cuma mau tahu saja,” hanya itu yang kau jawab.

”Apa karena usia?”

”Maksudmu?”

”Kamu ingin segera menikah?”

Kau diam sejenak, meluruskan punggung, membuat kedua lenganmu yang menumpu di kursi menjadi lurus. Sepasang matamu berlari ke dalam kegelapan malam yang pucat, terpendar-pendar cahaya lampu jalanan.

”Apa aku terlihat tua?” kau kembali bertanya.

Dia menggeleng. ”Hanya dewasa.”

Kau tergelak, ia menyeringai.

”Teman-teman sebayaku sudah menikah semua. Rata-rata sudah punya anak balita.”

”Jadi, kamu ingin segera menikah?” ia kembali bertanya.

Kau menoleh, mencari-cari sesuatu dari bola matanya. ”Kamu tidak merokok, kan?” kau seolah mengalihkan pembicaraan.

”Ya,” dia menaikkan kedua alisnya.

”Bibirmu merah dan seksi.”

”Jangan bilang kau ingin mencium bibirku.”

Kau kembali tergelak. Kali ini tawanya pun berderai.

”Kau belum menjawab,” ucapnya setelah tawanya reda.

”Yang mana?”

”Apa kamu ingin segera menikah?”

Kau menghela napas, ”Menurutmu?”

Ia menggedikkan bahu.

”Aku sudah tiga puluh tahun. Sebentar lagi keriput, lalu menopause. Kalau nggak cepat-cepat menikah, tidak akan ada lagi laki-laki yang mau denganku.”

”Kata siapa?”

”Maksudnya?”

”Tidak ada laki-laki yang mau menikah dengan perempuan yang sudah menopause.” Perjelasnya.

”Kata orang lah,” kau terlihat jengkel.

”Memangnya menikah hanya untuk berkembang biak? Perempuan menopause pun masih bisa melakukan hubungan seks. Kalau nikah cuma untuk berkembang biak, apa bedanya kita dengan hewan?”

Kau kesal mendengar jawabannya. Kau memilih bungkam, tak menggubrisnya lagi. Lima menit kalian dibungkus sepi, sebelum bus Mayangsari nomor 9B yang kalian tunggu tiba. Ia bangkit dari duduknya, menoleh sejenak dan berkata, ”Aku pulang, ya.” Kau hanya mengangguk.

Saat menulis cerita pendek ini, ia teringat, ia langsung mengempaskan bokongnya di atas kursi bus, lalu terlelap sehingga tidak sempat menoleh dan melambaikan tangan kepada dirimu yang masih terduduk di halte yang sepi dan gelap itu. Saat ini pula ia baru sempat bertanya kepada dirinya sendiri, ”Kenapa aku tak mengantarmu dulu kembali ke kosmu di belakang Grand Indonesia? Kenapa aku menyetujui saranmu untuk mengantarku ke halte bus karena sebagai anak Bekasi, aku tak tahu apa-apa tentang wilayah itu?”

Mungkin karena aku masih berumur delapan belas tahun, jawab hatinya. Ragu.

***

IA masih menulis cerita pendek ini, saat ia pun teringat dengan obrolan bersama teman baikmu.

Ia dan temanmu itu bertemu secara tidak sengaja di Taman Ismail Marzuki, pada sebuah acara literasi. Ia berusaha mengingat-ingat acara apa itu. Tapi, ia tak mampu mengingatnya. Hal yang menempel di kepalanya hanya ia membeli buku puisi teman baikmu itu. Sebuah buku puisi yang memang sudah ia dan kau tunggu sejak lama. Di buku puisi itu, teman baikmu itu menuliskan sebuah puisi untukmu dan di kata pengantarnya, teman baikmu menyebut namanya.

Teman baikmu itu datang bersama kekasihnya. Ia dan kekasih teman baikmu belum pernah berjumpa sama sekali. Ia terlihat kikuk dan bingung mau memulai obrolan. Padahal, jika saja hanya kalian bertiga; kau, ia, dan teman baikmu itu, kalian sudah pasti akan mengobrol banyak hal. Apa saja. Bahkan, kalian tak segan tertawa keras-keras sampai pengunjung lainnya merasa terganggu, tetapi kalian tidak peduli.

”Sudah lama, ya,” teman baikmu membuka obrolan.

”Ya,” ia menjawab sembari memutar-mutar sedotan plastik pada minuman dinginnya. ”Sudah tiga tahun sejak aku dan ia berpisah.”

”Terakhir kali kita ketemu saat makan ramen di Grand Indonesia. Malamnya ia meneleponku. Curhat sampai pagi.”

”O ya?” ia terkejut. Saat menulis cerita pendek ini, ia mengingat-ingat ekspresi terkejutnya. Namun, ia gagal untuk menggambarkan detailnya.

”Katanya, kamu menolaknya. Bahkan, kamu yang menurutnya baik dan mencintainya juga menolaknya. Ia merasa tidak pantas untuk dicintai dan kembali bertanya, untuk apa ia hidup?”

Ia merasa kerongkongannya kering. Diisapnya air minum dingin yang ternyata tak mampu menghalau rasa kering itu.

”Aku nggak nolak, kok.” Suaranya bergetar.

”Tapi, kamu nggak mau nikah sama dia, kan?”

”Aku baru delapan belas tahun waktu itu.”

Senyap.

”Ya,” teman baikmu menjawab lirih. ”Kamu terlalu muda untuk menikah. Jika saja kalian seumuran. Aku yakin kalian akan menikah dan bahagia. Tapi, kenapa cinta harus melihat usia?”

Sampai minumannya tandas dan ia berpisah dengan teman baikmu itu, ia tak bisa menjawab pertanyaan yang teman baikmu lontarkan. Kekasih temanmu juga tak berkata apa-apa selama mereka duduk berhadapan di meja yang sama.

Ilustrasi. (Budiono/Jawa Pos)

***

IA masih menulis cerita pendek ini, saat ia teringat pada teleponmu sebulan setelah pertanyaanmu di halte bus seberang Grand Indonesia itu.

”Kamu apa kabarnya? Gimana proyek novelmu?” Ia tahu, kau hanya berbasa-basi dengan pertanyaan itu. Oleh karena itu, ia pun menjawab dengan berbasa-basi pula.

”Baik. Agak macet. Aku harus fokus ujian nasional. Kalau kamu?”

”Baik,” suaramu terdengar renyah di cupingnya. ”Eh, aku jalan sama polisi sekarang.” Kau memamerkan pacar barumu. Ia pun berusaha mengingat-ingat saat menulis cerita pendek ini, apa ia merasa cemburu atau tidak ketika mendengar ucapanmu itu. Dan ia lupa dengan perasaannya sendiri waktu itu.

”O ya?” sahutnya, cepat. ”Baguslah. Umurnya berapa?”

”Dua puluh enam tahun. Tapi, dia tugas di Palu,” suaramu menyiratkan kesedihan.

”Jadi, kalian LDR?”

”Ya,” suaramu semakin lirih.

Ia terkekeh. Ya, ia ingat. Ia waktu itu benar-benar terkekeh, seperti senang sekali mengetahui kenyataan bahwa pacar barumu yang polisi itu bertugas di kota yang jauh. Namun, saat menuliskan cerita pendek ini, ia tak dapat memastikan dengan tepat apakah saat itu tawanya sebagai wujud puas dari kekecewaannya lantaran dirimu sudah punya pacar lagi, tetapi kalian menjalani hubungan jarak jauh.

”Tapi, ia mencintaiku. Ia janji, libur dinas ini, ia akan mengajakku bertemu dan mengenalkan kepada ibunya. Kurasa ia akan melamarku.”

”Baguslah.”

Dan ia lupa dengan fragmen lanjutan dari obrolan itu. Ia terus mengingat-ingat, tetapi ia tak mampu mengingat apa pun. Mungkin setelah mendengar ucapanmu itu, ia langsung memutuskan percakapan kalian.

Namun, ia ingat dengan teleponmu yang datang beberapa bulan kemudian. Suara tangismu yang pecah dan isak yang timbul tenggelam. Ia dapat membayangkan ingusmu yang meleleh bersama air mata sembari kau terus menceritakan kisah patah hatimu.

”Ibunya tidak setuju. Ibunya bilang aku terlalu tua untuk anaknya. Badanku juga terlalu lebar. Bahkan, ibunya bilang, aku terlalu pendek untuk menjadi istri seorang polisi.”

Ia masih bisa merasakan tangismu merambat di dalam gendang telinganya saat menuliskan bagian ini dalam cerita pendeknya.

Ia mendengarkan semua tumpahan kesedihanmu sampai ia jatuh tertidur dan ponsel itu masih saja menempel di bantalnya ketika ia terbangun paginya. Ia tergesa mengirimimu SMS, ”Sori, aku ketiduran.” Dan kau menjawabnya beberapa hari kemudian.

***

SELAGI ia menulis cerita pendek ini, ia teringat dengan pertanyaanmu, ”Apakah kamu mau menikah denganku?”

Umurnya baru delapan belas tahun waktu itu dan ia bingung hendak menjawab apa untukmu. Terlebih ketika kau bercerita bahwa kau menulis sebuah novel tentang hubungan kalian berdua. Seorang perempuan berumur tiga puluh tahun yang berpacaran dengan laki-laki berumur delapan belas tahun yang tengah duduk di kelas dua belas SMA.

”Tapi, editor penerbit G menolaknya,” ucapnya. ”Katanya, tokoh laki-lakinya kurang rasional. Mana ada anak laki-laki seumuran itu begitu dewasa. Sementara yang perempuan sudah tua tetapi justru kekanak-kanakan. Eh, dia belum pernah saja ketemu kita berdua, ya,” ujarmu sembari tergelak-gelak. ”Aku ingin kirim naskah novel itu ke Paman Yusi dan Mas Sulak. Mau tahu pendapat mereka apa.”

”Bisa jadi, review mereka jauh lebih sadis dari editor itu.”

”Eh, kamu mau kan nikah denganku?” kau bertanya lagi.

Ia menghela napas. ”Ya, kalau aku sudah lulus kuliah dan bisa selesaikan novelku.”

”Ya ampun, lama sekali. Lima tahun lagi. Aku sudah berumur tiga puluh lima tahun lebih. Entar susah dapat anaknya.”

”Siapa yang peduli?”

Ia tersenyum. Kau juga tersenyum. Lalu, kalian membahas kelas menulis novel yang mempertemukan kalian, juga impian-impian tentang novel yang tak kunjung selesai ditulis.

***

IA masih menulis cerita pendek ini, ketika ia tiba-tiba teringat padamu dan sebuah rasa rindu menjalari dadanya. Sebuah giginya, di bagian depan, agak goyah sejak sebulan terakhir. Ia memperhatikannya, pada bagian rumpun gigi itu ada sebuah lubang kecil, hitam, dan menguarkan bau agak busuk. Ia ketakutan sendiri dan tak sabar ingin mengunjungi dokter gigi. Ia takut gigi depannya tanggal dan ia semakin terlihat tua dan tak menarik, sementara ia belum menikah di usia tiga puluh tahunnya.

Saat cerita pendek ini hampir selesai ia tulis, ia tiba-tiba memahami akan makna pertanyaan yang kau lontarkan di halte malam itu. Tiba-tiba saja ia ingin duduk di halte itu lagi bersamamu dan menjawab dengan cepat tanpa berpikir demikian lama, bertahun-tahun, sampai kau merasa lelah dan memilih jalan lain untuk bahagia. Seharusnya ia segera menjawabmu malam itu, ”Ya, aku mencintaimu.” (*)

Pali, April–Agustus 2019

Judul cerpen ini terinspirasi dari judul puisi Norman Erikson Pasaribu, ”Selagi Ia Menulis Puisi Ini,” dalam buku puisi ”Sergius Mencari Bacchus” (2016).

Guntur Alam

Menulis cerita pendek di koran sejak 2010. Buku kumpulan cerita pendeknya ”Magi Perempuan dan Malam Kunang-Kunang” (2015). Sekarang dia menetap di kampung halamannya. Bisa diajak mengobrol

via Twitter di @AlamGuntur.

Editor : Dhimas Ginanjar

Close Ads