alexametrics

Juragan Empang

Cerpen: Kedung Darma Romansha
8 September 2019, 15:28:50 WIB

SEBELUM kumulai cerita ini, sebaiknya Kamu simak baik-baik syair lagu dangdut di bawah ini. Sengaja kuterjemahkan untuk seorang pemalas sepertimu. Tidak perlu? Baik, bila kamu punya opsi terjemahan lebih baik, silakan. Tapi, demi keseimbangan jalan cerita ini, kusarankan Kamu mendengarkan lagu Juragan Empang. Dengan begitu, Kamu bisa dengan mudah mendalami dua tokoh dalam cerita ini. Selamat bergoyang!

Casta

Dasarnya memang nasibku beruntung. Tanpa diminta, Kaji Daspan datang ke rumah dan memintaku untuk bekerja di empang miliknya. Mendapat nasib baik rasa-rasanya seperti ketiban lintang di malam buta. Lebih-lebih orang yang bekerja serabutan sepertiku. Pemasukan datangnya untung-untungan.

Jika panen tiba, aku bekerja sebagai buruh tani. Lepas menjadi buruh tani, jadi buruh bangunan. Lepas jadi buruh bangunan, menganggur. Lepas menganggur, menganggur lagi. Lepas menganggur lagi, menganggur lagi, lagi. Lepas menganggur lagi, menganggur lagi, lagi, dan lagi. Sebab, bekerja sebagai buruh –buruh bangunan atau buruh tani– di kampungku sifatnya musiman. Tidak tentu. Jadi, bagiku mendapat pekerjaan di empang Kaji Daspan merupakan keberuntungan untukku, juga keluargaku.

Aku tidak perlu seperti Caswani yang berpura-pura sakit hanya untuk menyentuh hati anaknya supaya berangkat menjadi TKW di Taiwan. Anakku juga tidak perlu khawatir seperti Wartini yang nelembuk ngalor-ngidul untuk membiayai orang tuanya yang mulutnya mirip kaleng rombeng itu. Aku tidak perlu khawatir dengan nasib buruk yang jatuh pada kami-kami ini, yang hidupnya setengah-setengah: hidup segan, mati pun enggan.

Cara-cara yang kusebutkan tadi banyak dilakukan oleh orang tua di kampung kami, yang tentu dikarenakan nasib menekan kami. Menekan jika ada tetangga sedang menceritakan motor barunya. Menekan jika ada yang pamer gelang emas –kemudian, istri-istri ngoceh sepanjang hari meminta nasib yang sama. Menekan jika ada yang mempersolek rumahnya. Menekan jika ada kabar baik datang pada kondisi yang tidak baik. Dan sialnya, kabar di kampungku cepat sekali tumbuh-menjalar. Seperti lumut di musim hujan dan siapa pun bisa terjatuh karena mulut lumut yang licin itu.

Tapi, kemudian di malam yang biasa, Cartini, rabiku1 yang montok itu, menolak diajak rabi2. Ini mula-mula terjadi empat hari lalu ketika kuremas bokongnya yang semok itu –yang jika terkena getaran mirip agar-agar, dia malah menepisnya sambil terus memunggungiku. Gejala semacam ini biasanya istriku lagi kedatangan tamu bulanan, dan biasanya disisipi suara manja, ’’Ihh… lagi tanggal abang kih.’’3 Suara manjanya itulah yang sebenarnya aku tunggu dari mulutnya yang mirip ikan gurameh. Tetapi, berkali-kali aku remas bokongnya tetap saja suara manjanya tak keluar. Aku pikir mungkin dia sudah kelewat ngantuk. Jadi, malam itu terpaksa aku tidur sambil menahan berahi.

Lebih dari seminggu, rabi-ku yang montok itu masih tetap tidak mau diajak rabi. Bagiku, ini sudah tidak biasa. Aku tidak mau hal ini kuceritakan kepada teman-temanku. Aku sudah menduga bagaimana jawaban mereka. Misalnya, begini: mungkin istrimu suka sama laki-laki lain. Atau begini: istrimu marah mungkin karena tidak dibelikan kalung emas. Atau yang paling singkat tapi menyakitkan: pasti selingkuh. Dugaan-dugaan semacam itu tidak mau aku dengar dari teman-temanku. Jadi, aku tidak perlu menceritakannya daripada hal tersebut mengganggu pikiran dan perasaanku. Lebih baik kutunggu saja sampai sebulan.

Menunggu sebulan dengan pikiran yang menggantung itu sangat mengganggu dan menyiksa batin. Terlebih sikap istriku tidak seperti biasanya. Tidak penting aku jelaskan sikap yang tidak biasanya itu seperti apa. Hal tersebut sangat mudah dibayangkan. Meskipun aku sendiri tidak mudah membayangkan sikap istriku yang tidak biasanya. Aku hanya sanggup membayangkan sikap istriku yang biasanya. Biasanya dia suka sekali bercerita tentang Sini yang baru saja membeli gelang emas, Sini yang menceritakan bagaimana Mukimin payah di ranjang sejak kecelakaan motor menimpanya. Tidak seperti waktu pacaran dulu, begitu katanya.

Setelah bercerita, kemudian dia mengomentarinya sendiri. Sini itu tak tahu malu, katanya. Sebelum menikah dengan Mukimin dia bercerita pernah bercinta dengan anaknya Kaji Daspan, Tarmadi, dan istriku meyakini anak yang sekarang diasuh oleh Mukimin adalah anaknya Tarmadi. Cerita-ceritanya itu seperti dongeng menjelang tidur. Kadang sebelum cerita selesai, aku ngorok lebih dulu. Kemudian, pagi-pagi dia ngomel-ngomel tidak keruan, dan malamnya kami bercinta dengan sengit. Tapi, sekarang istriku tidak seperti biasanya.

Lebih dari sebulan istriku masih menolak diajak bercinta. Sikapnya masih sama. Dia lebih sering melamun sendiri. Dan aku tidak menduga sama sekali kalau dia sedang memikirkan sesuatu. Aku tidak mempunyai begitu banyak waktu sejak bekerja di empang Kaji Daspan. Kadang pulang magrib, kadang menginap, tergantung perintah Kaji Daspan. Jadi, hal-hal keseharian yang menimpa istriku aku tak tahu. Mungkin dia butuh dibelikan gelang emas setelah hatinya terbakar mendengar tetangganya pamer gelang emas. Kupikir gejala semacam itu sangat biasa. Jadi, siang itu aku meminta izin Kaji Daspan untuk pergi ke toko emas sebentar.

’’Mau beli emas buat siapa?”

’’Buat istriku, Ji.”

“Sudah, tidak usah repot-repot. Kamu urus empang saja, nanti aku yang belikan,” katanya dengan senyum yang mengembang. Senyum yang menenangkan.

Sorenya Kaji Daspan kembali datang menemuiku. Seperti biasa dia tersenyum dan mendekatiku.

’’Nih, sekarang kamu pulang sana. Kasih ini untuk istrimu,’’ ujarnya sambil memberikan gelang emas yang baru dibelinya.

’’Berapa, Ji?’’

’’Berapa?’’

’’Berapa saya harus menggantinya?”

’’Tidak usah,’’ jawabnya, lantas tertawa kecil.

Aku pulang dengan wajah semringah. Sambil diam-diam masuk rumah, aku menyelinap ke dalam kamar dan menaruh gelang emas di atas meja riasnya. Aku ingin tahu bagaimana reaksi istriku. Tentu saja dia akan tersenyum dan malamnya pasti akan menjadi malam yang panjang untukku. Istriku tak akan lagi cemberut. Aku bisa membayangkan mulutnya yang mirip ikan gurameh itu mengembang, lalu pelan-pelan mencaplok mulutku. Dan betapa pantatnya yang sentausa itu benar-benar membuatku selalu panas di ranjang.

Tapi, apa yang kudapati tidak seperti yang kubayangkan. Malam ketika aku terbangun di kasur depan tipi, aku terperanjat melihat jarum jam menunjuk pukul satu dini hari. Aku tidak tahu persis kapan aku tertidur. Yang kutahu, selepas magrib aku menonton sinetron Berandal Tobat yang dibintangi Sasha Syakila Micin dan Ray Cho.

Gelang emas yang kutaruh di meja rias tidak berubah posisinya. Kulihat istriku tidur menghadap tembok, padahal aku tahu dia paling tidak suka tidur menghadap tembok. Dulu aku sempat menanyainya kenapa dia tidak suka tidur menghadap tembok.

’’Sehari-hari aku melihat tembok. Masa tidur pun melihat tembok juga.’’

’’Kalau kamu di luar rumah, kan tidak melihat tembok.’’

“Kamu pikir rumah-rumah itu bukan tembok?”

’’Kalau begitu, ke sawah sana. Di sana tidak ada tembok.’’

“Memangnya musim tandur, ada juga kalau kemarau begini lihat orang berak.”

’’Daripada melihat tembok?”

Lalu dia meremas kemaluanku dan aku menciumnya. Kehangatan semacam ini sudah hilang hampir sebulan. Dan aku tahu, istriku masih belum tidur. Ini kutahu dari cara bernapasnya. Biasanya istriku kalau tidur perutnya kembang-kempis secara teratur. Tapi apa yang kulihat sekarang lain sama sekali. Kulihat punggungnya naik-turun, seperti menahan muatan yang berat. Persis ketika dulu dia cemburu kepada Nok Iti –penyanyi dangdut yang konon digadang-gadang sebagai pengganti Diva Fiesta. Dia cemburu lantaran aku menyuruhnya bergoyang seperti Nok Iti sebelum kami memulai bercinta. Setelah kejadian itu, selama tiga hari istriku tidur sambil menghadap tembok, persis dengan sekarang ini.

’’Kamu kenapa, Ni? Marah sama aku?”

Aku tahu persis jika istriku sedang marah dia tidak langsung menjawab. Biasanya dia akan menjawab jika aku sudah bertanya lebih dari tiga kali. Maka untuk mendapat jawaban cepat, biasanya aku langsung mengulang sampai tiga kali dengan pertanyaan yang sama. Dan ketika pertanyaan itu sudah lebih dari tiga kali, dipastikan akan keluar jawaban dari mulutnya yang mirip ikan gurameh.

’’Aku mau cerai!’’

Dan itulah jawabannya. Sebenarnya aku tidak tahu persis kenapa istriku meminta cerai. Sebab, selama kami berkeluarga tidak ada hambatan yang berarti dalam rumah tangga kami. Apa yang menjadi berat dalam perceraian ini bagiku adalah anak semata wayang kami. Dia sudah menginjak kelas VIII SMP. Tapi, kenapa kemudian istriku tiba-tiba meminta cerai. Dugaan pertamaku barangkali sama dengan dugaan setiap orang pada umumnya.

Cartini

Mungkin ini salahku. Tapi, yang kulakukan ini baik untuk keluargaku, lebih-lebih anakku. Barangkali apa yang setiap orang pikirkan mengenai perceraianku, akan sama. Dan yang paling menyedihkan dari semua itu adalah aku, sebagai istri. Orang akan mengira bahwa aku istri tidak tahu diri. Punya suami yang diberi penghasilan tinggi oleh orang sebaik Kaji Daspan dan diberi kecukupan hidup yang belum tentu setiap orang mendapatkannya. Tentu setiap orang bebas berpendapat. Siapa yang sanggup mencegah mulut setiap orang. Tidak ada, bahkan presiden pun tak akan mampu.

Mungkin ini salahku, tapi bagiku ini baik untuk anakku. Aku menyadari memang sejak suamiku bekerja di empang Kaji Daspan, hidup kami kecukupan. Aku mensyukuri akan hal itu. Lebih dari itu malah. Tapi, hal itu tidak akan cukup untuk menutup kejadian yang akan aku ceritakan. Kejadian ini dimulai ketika anakku ngotot minta dibelikan sepeda motor. Katanya malu jika terus menerus nebeng ke sekolah sama Wartiah.

’’Tidak ada uang mau beli pakai apa, Nok?”

’’Beli pakai apa sajalah, pakai daun kalau bisa juga tidak apa-apa,’’ pangkasnya dengan suara serau.

’’Kamu itu aneh-aneh saja. Dipikirnya kita punya pabrik penggilingan uang!’’

Di tengah kami perang mulut, Kaji Daspan muncul di depan pintu –yang sudah terbuka sejak anakku pulang sekolah. Kaji Daspan menatap kami dengan pandangan seolah-olah kami kucing yang kelaparan. Dan anakku terus mengiau sampai laparnya dipenuhi.

’’Ada apa ribut-ribut?”

’’Eh, Wa Kaji. Ini Rasmini minta motor kayak orang punya uang banyak saja. Kalau kayak Wa Kaji sih enak, tinggal gesek.”

’’Kayak babi ngepet dong, tinggal gesek,’’ timpalnya lantas tertawa.

’’Kayak ning tipi-tipi kah, Wa.’’

’’ATM.’’

’’Nah, itu.’’

’’Sudah, sudah, besok uang DP aku yang bayar. Nanti angsuran tiap bulannya tinggal diterusin. Suamimu kan kerja di empangku, cukuplah kalau cuma bayar kredit bulanan.’’

Jawabannya sedikit menenangkanku, tapi juga sekaligus menambah beban baru. Sebab, sebagian gaji bulanan suamiku akan habis hanya untuk bayar angsuran motor. Tapi, untuk menyenangkan anak semata wayang kami, apa boleh buat. Toh uang itu tidak hilang, ada wujudnya.

Tapi, kemudian kesenangan itu tidak berlangsung lama. Sejak kebaikan itu, Kaji Daspan berkali-kali datang ke rumah kami. Kami tidak tahu kalau kebaikan itulah yang akhirnya membuat keadaan menjadi tidak baik. Tentu, kami bersyukur atas kebaikannya. Kami bukan orang yang tidak tahu berterima kasih. Bahkan untuk membayar kebaikan Kaji Daspan, suamiku rela menginap untuk menjaga empangnya. Meski sebelumnya suamiku menolak. Tapi, lantaran tidak enak hati, aku menyetujuinya untuk menginap. Ditambah Kaji Daspan memberikan gaji lebih. Jadi itu lumayan untuk menambah penghasilan bulanan.

Tapi, kemudian kesenangan itu tidak berlangsung lama. Barangkali orang-orang tidak akan tahu keadaan yang sebenarnya di keluarga kami. Bahkan mungkin suamiku sendiri. Sebab, keputusanku ini memang sepihak dan mungkin juga merugikan keluargaku. Tapi, tekanan yang kualami barangkali tak akan menjawab nasihat-nasihat yang mungkin dipikirkan semua orang. Sebab mereka bukan aku, sebab mereka tidak mengalaminya. Maka keputusanku ini mutlak dan aku tidak cukup waktu untuk memikirkan hal yang sebenarnya tidak bisa kuselesaikan dengan bahagia.

Tapi kemudian kesenangan itu tidak berlangsung lama. Sejak pintu kamar anakku setengah terbuka, dan dari kamar itu aku tahu bahwa dunia telah terbuka di depan mataku. Aku merasa jantungku seperti merosot jatuh dari ketinggian dan aku tidak bisa berteriak sambil menahan sakit di ulu hatiku. Kira-kira hampir satu menit aku mematung di depan pintu kamar anakku yang setengah terbuka. Kemudian, dengan langkah yang berat aku pergi ke dalam kamar dan tidur.

Setelah kejadian pintu setengah terbuka itu, aku berharap peristiwa itu tidak terulang. Tetapi, apa yang kupikirkan ternyata salah, hampir tiga kali dalam sepekan aku melihatnya lagi. Perasaan ini aku simpan sendiri. Sampai akhirnya aku tidak tahan dan aku harus mengatakan bahwa aku meminta cerai kepada suamiku. Aku ingin anakku terbebas dari tekanan berahi Kaji Daspan. Aku tidak sampai hati melihat anakku secara berkala disetubuhi Kaji Daspan.

Aku tahu jika orang-orang mengetahui kejadian ini pasti mereka bertanya, kenapa tidak bilang saja sama suami kalau anaknya diperkosa?

Maka, jawaban yang paling tepat adalah bagaimana kalau ternyata suamiku ikut mengamini kejadian ini. ***

Jogja, 2019

Cerpen ini ditujukan untuk

Suryana Hafidin di Indramayu.

KETERANGAN:

Istriku

Dalam konteks ini artinya berhubungan badan

Ihh… lagi tanggal merah nih.


KEDUNG DARMA ROMANSHA

Lahir di Indramayu. Kumpulan puisi terbarunya Masa Lalu Terjatuh ke Dalam Senyumanmu (2018). Menulis novel berjudul Telembuk (Dangdut dan Kisah Cinta yang Keparat) yang masuk lima besar Kusala Sastra Khatulistiwa dan buku rekomendasi Tempo 2017. Sekarang mengelola komunitas Rumah Kami Yogyakarta.

Editor : Dhimas Ginanjar



Close Ads