alexametrics

Di Bawah Langit yang Sama, Kita Berdansa

Oleh: D. HARDI
5 Juni 2022, 06:02:26 WIB

Kau mendongakkan wajah pada langit kelabu sewarna udara dan jalanan dan paras kota yang kehilangan cemerlang. Pada batas samar antara dengung sirene atau peluru yang berdesingan, imajinasi meruyup ingatan, menggetarkan jemari dan tungkaimu dalam sekali pejam.

KAU dibaringkan di kursi malas ayahmu yang pemalas, ”Rasakan, cukup rasakan iramanya,” suara lembut ibumu tak berhenti menenteramkan.

”Komposisi yang indah. Megah.”

”Itu bukan sekadar musik. Itu Tchaikovsky.”

Kau meresapinya dalam-dalam hingga bulu-bulu putih tak lama merambak dari sweter wolmu, kusam, dan hanya satu. Itu nomor Danau Angsa. Kedua tanganmu perlahan laun mewujud gemulai sayap, mengepak-ngepak di langit-langit kamar laksana seekor angsa putih murung yang melesat dari kutukan penyihir buruk; penyihir itu sediakala mengorok sehabis mabuk.

Di malam-malam yang hanya terdengar angin kalut, waktu memamah dongeng suara ibumu. Ia berkisah putri Odette yang dikutuk menjadi angsa putih nan cantik, berkubang di danau air mata sampai cinta sejati datang melepas kutukannya.

Bukan angsa putih elok, teman-teman sekolah mencibirmu anak kijang rawan, ceking, dan takut-takut. Ayahmu pernah muntap sekali tempo –karena tak banyak bisa dia kerjakan kecuali muntah dan muntap– sambil berkoar, ”Berjalanlah tegak seperti beruang merah sejati,” menepis gagalnya dalam militer, dalam hal lainnya dan sebagainya.

Suatu kali kau bertanya padanya yang sering kedapatan termenung: ”Mengapa selalu ada tokoh nahas untuk dikutuk dalam dongeng, Bu?”

Kau mengingat-ingat kembali ucapan dan senyum kecilnya di kemudian hari saat menatap cermin dengan tonjolan bahu telah tumbuh mengeras, ”Supaya dia menemukan mantra pembebas. Nasib tak akan membunuh orang-orang bebas.” Kata-katanya bagai denging mantra kala mimpi lamur.

Kalian kucing-kucingan dengan pria asing yang baru setahun ini terpaksa kau panggil ayah di flat sempit pinggiran kota itu. Kalian, kau dan ibumu, di masa kecilnya yang telah dikubur, pernah bercita-cita jadi balerina, menyulap taman, jalanan sepi pinggiran Moskow, bahkan di kompleks pemakaman Novodevichy, arwah sang maestro seolah bangkit memainkan repertoar yang tak asing.

Ia melepas sepatu, melonggarkan syal, dan berjinjit kecil di antara kerisik dedaunan birch hijau sempurna. Kau membebek dari belakang. Memperhatikannya penuh saksama.

”Fondasi awal.”

Sebelah ujung kakinya menekuk maju membentuk tendu devant. Dagunya terangkat, tangan-tangan melentik terbuka di udara untuk kemudian berputar dua tiga kali dengan raut sedikit pongah yang tak biasa.

”Membuka tangan di hadapan penonton yang terhormat, menutup saat memunggunginya,” ucapnya seolah-olah sedang berpentas di Mariinsky. Ia mengulanginya sekali lagi. Ibumu tak pernah seantusias ini kecuali sekarang, saat menari.

”Ini agak sulit. Tapi tungkaimu lebih kuat dari tungkaiku, jadi kukira tak masalah.” Ia mencontohkan gerakan lain.

Fouette meminta dua kaki liat sekaligus; satu menyangga tubuh, satu gerak cambuknya membikin ayunan serupa baling-baling. Satu cambukan bagi satu putaran, dan ia pun lantas berputar, dan berputar, dan terus berputar semakin liar, semakin menggelora. Kalian menari beriringan –pas de deux– tanpa seorang pun Pangeran Siegfried, tanpa dampratan penyihir mabuk di bawah lembayung yang semakin matang terobos dahan-dahan.

”Kamu akan masuk Bolshoi suatu saat.”

”Aku tak yakin, Bu.”

”Yakinlah. Hanya itu yang kita punya.”

”Aku menginginkan Royal, atau Paris Opera. Apa pun yang bukan di sini.”

”Di sini rumahmu.”

”Rumah….” Kau tercenung jauh.

***

Seperti peluru menyangkuti rongga dada, ia menggeleng pelan mengembuskan napas. Di luar jendela, hanya putih beku di hamparan jalan dan pepohonan. Perempuan muda di sampingnya diam, lalu bertanya lagi tentang mimpi kecil yang pernah ada untuk tandas begitu saja, ”Kenapa, kamu ditolak Bolshoi atau… karena ayahmu?”

”Dua tahun kemudian ibu wafat.”

Tatiana kembali geming. Tak ingin bertanya apa sebab –semua kematian sama. Tidak kawan-kawan Maidan. Tidak para demonstran. Tidak aparat polisi. Tidak siapa pun, semua kematian sama.

”Malam butuh lebih banyak api ketimbang salju.” Tatiana memaliskan wajah ke luar.

Teringat ia hari-hari menggetarkan itu; semua orang, tua, muda, remaja, turun ke jalan, berkumpul di alun-alun kota meneriakkan yel-yel Slava Ukrayini. Bendera biru-kuning selimuti tubuh laksana tameng. Lagu kebangsaan mengudara bagai elegi. Ribuan aparat bersiaga membentuk barikade, tumpah ruah suasana. Semuanya menunggu pengumuman rezim.

”Tak ada integrasi bersama Eropa.” Keputusan yang sudah diduga. Orang-orang kecewa. Orang-orang berteriak. Aparat Berkut mulai merangsek. Mobil-mobil polisi masuk. Para demonstran terkungkung di monumen.

”Polisi bersama rakyat! Polisi bersama rakyat!”

Semua lelaki berjajar di tangga, mengelilingi kaum perempuan. Sewaktu ujaran lembut di balik megafon terdengar, ”Revolyutsiya,” bentrokan tiba-tiba pecah. Polisi Berkut memukuli demonstran dengan pentungan. Beberapa terkapar. Darah segar berceceran. Sisanya kekacauan; kalang kabut di bawah Monumen Kemerdekaan. Di naungan tugu Dewi Berehynia berjerait mawar guelder itu, para perempuan histeris.

”Apa yang kalian perbuat?! Kalian juga Ukraina!”

Hari-hari berikutnya bak Revolusi Oranye jilid dua. Binatang berseragam berjuluk Titushky direkrut untuk menghajar rakyat. Sejak aktivis Gongadze sadis terbunuh, negeri ini seakan kerap membara. Tak peduli butiran salju menusuk, jutaan orang kembali berjalan memenuhi alun-alun. Gedung Administrasi Negara diduduki rakyat. Genta biara Mykhaylivskyi berdentangan. Burung-burung menghambur. Bergema lagi sejak bangsa Tatar menginvasi Kyiv tahun 1240. Pensiunan tentara banyak yang bergabung. Semua orang berkumpul melakukan apa yang bisa dilakukan.

Para lelaki memblokade jalan, para perempuan membagi logistik. Tenda-tenda terpancang di taman kota. Sebagian menghangatkan diri dekat perapian, rehat sejenak berbincang-bincang, memainkan gitar, atau piano. Semacam perayaan –demi kebebasan– tanpa bir dan vodka.

Tatiana sedang membagi-bagi makanan saat terdengar lamat-lamat sebuah nomor dari dentingan piano. Ia melangkah memasuki aula gedung. Orang-orang berkerumun memusatkan perhatian.

”Indah, bukan?” Sesosok di sampingnya tiba-tiba berujar.

”Ya….” Tatiana melirik sekilas untuk kemudian menatap samar lelaki itu, ”semacam waltz.”

”Chopin. Aku rasa E minor.”

Wanita di belakang tuts-tuts lincah itu mungkin sekitar lima puluh. Rambutnya banyak memutih. Mungkin guru piano. Rautnya terbaca murung meski tegar. Sedang lelaki dengan lekuk hidung Yunani klasik bercambang tipis ini mungkin mahasiswa tingkat akhir atau pegawai pemerintah yang ikut mogok. Di sudut lain, sepasang opa dan oma menari berdansa seirama. Diikuti sepasang lainnya, dan sepasang lainnya, dan sepasang lainnya.

”Sudikah berdansa, Nona?”

”Ee, saya sedang ditugasi membagikan….”

”Ayolah. Revolusi tak sempurna tanpa dansa.” Sepasang mata itu bertemu, dan bertamu.

Tak pikir lama, Tatiana meraih uluran tangannya.

***

Krimea jatuh, sebagaimana aku tak menyangka bakal sama jatuh ke pelukan musuh dalam selimut. Betul-betul musuh dalam selimut secara harfiah. Igor hanya lelaki lembut yang terjebak dalam nasib buruk. Nasib yang tak pernah ia sukai; laksana Odile, si angsa hitam.

Aku tak bisa membayangkan seberapa jauh atau dekat masa depan tanpa atau bersama dirinya. Seperti fatamorgana, dalam situasi begini, bahkan kami kerap dipermainkan oleh bayang-bayang masa depan itu sendiri.

”Sebentar, kamu dengar suara itu?” Igor dengan saksama memasang telinga. Gemuruh seolah merambati dinding dan lantai flat ini. Ia melirik jam tangannya.

”Mortir?”

”Sejenis itu.”

”Kalian akan menyerang lagi?”

”Mungkin tentara kalian, siapa yang tahu? Kita di perbatasan timur.”

”Sesungguhnya apa yang ingin kamu bilang, Igor?” Beberapa hari belakangan gelagatnya terlihat gamang.

Igor diam sejenak.

”Kita pergi.”

”Pergi?”

”Ya, pergi.”

”Ke mana?”

”Ke mana saja. Paris, London, New York, Bali. Ke mana pun yang bukan di sini. Aku akan berhenti dari kesatuan. Kita menikah. Memulai hidup baru. Melahirkan anak-anak yang lucu menggemaskan. Menjilati dunia. Kita bangun teater, buka restoran, apa pun yang jauh dari perang berengsek ini!”

Ia sepenuhnya benar. Tidak ada wajah manusia dalam peperangan. Kami tak ubahnya pembelot bagi lingkaran kebuasan. Tapi cukupkah setimpal dengan pengorbanan mereka yang gugur? Apakah semua luka akibat kehilangan menjadi mati rasa demi cinta? Apa sesungguhnya yang dinamakan cinta?

”Bagaimana orang tuaku? Sahabat-sahabatku? Rumahku di sini, Igor.”

”Rumah….” Igor menatapku hampa. Ia berdiri, menerawang di sisi jendela.

”Kita berperang karena rumah, Tatiana. Memperebutkan sejarah yang bukan milik kita.”

Gemuruh kembali datang. Rentetan senjata meletus. Kali ini terdengar lebih dekat. Nyaring mengenyah hening. Erang teriakan meraung di luar sana.

Igor mengintip sela-sela gorden. Aku mendekatinya perlahan, pendar api menyala-nyala di bayangan mata kami. Sebuah mobil terbakar. Asap hitam mengepul di udara. Igor bergegas meraih ransel hijau di bawah kasur.

”Kamu pergi?”

”Aku harus pergi. Kalau itu pasukan kalian, mungkin aku tak bakal kembali,” ucapnya dengan rahang mengeras, mata berkaca-kaca.

Aku mendekapnya lagi. Erat sekali, seolah-olah dekapan yang terakhir kali.

”Kalau itu pasukan kami, aku pastikan semua akan baik-baik saja.”

”Aku benci kalimat itu.”

”Nasib tak membunuh orang-orang bebas.” Igor merengkuh bahuku, sebelum gegas melangkah menuju pintu.

”Tunggu!” sergahku.

”Beberapa menit saja.”

”Sudikah berdansa… Tuan?” giliranku mengulurkan tangan.

Ia tercenung. ”Kamu sudah gila. Sekarang?”

”Revolusi tak sempurna tanpa dansa.”

***

Dan mereka pun berdansa berputaran, dan berputaran, dengan kedua pasang tungkai seakan melayang, menembus langit-langit berselimut pancaran ungu penuh kerlip gemintang di angkasa tak berbatas, tanpa hirau nyaring letusan, tanpa peduli nasib membawa ke mana.

Arwah sang maestro seolah bangkit, memainkan repertoar yang tak asing. (*)

Bojongsoang, Maret 2022

*) D. HARDI, Cerpenis. Buku kumpulan cerpen berjudul Palindrom (Poiesis/2021) telah terbit.

Editor : Ilham Safutra

Saksikan video menarik berikut ini:

Close Ads