Nama Saya Tetap Ben

Oleh FANNY J. POYK
4 Desember 2022, 07:34:18 WIB

Ketika saya mengilas balik kisah ini, ada beragam rasa seolah hendak berpacu membentuk satu kesatuan ingatan yang terdahulu lalu tercerai-berai oleh beberapa catatan peristiwa. Kisah itu memiliki ragam cerita, ada yang menyenangkan, sedih, hingga tak terduga. Dari kesemua cerita yang merupakan kompilasi data tentang jalinan waktu yang mengikuti detak demi detak di alur epik yang terekam oleh masa, saya akhirnya sadar bahwa hidup yang saya lakoni keras dan tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ada perjuangan yang berbaur dengan harapan dan air mata.

BAIKLAH, perkenalkan nama saya Eben, tepatnya Ebeninus Balla. Orang-orang yang akrab dengan saya memperpendek nama itu menjadi menjadi Ben saja. Perkara nama ternyata tidak berhenti hingga di situ. Keluarga bapa dan mama saya memanggil saya dengan sebutan yang berbeda-beda, saya sendiri sampai bingung.

Ada yang serius menamai saya Ben, ada yang memanggil dengan kata satire Benno, nama itu mirip dengan nama anjing pelacak peliharaan tetangga saya. Kedua orang tua saya berasal dari Pulau Rote, tepatnya bersuku Denka. Bapa dan mama saya memilih menetap di Kupang. Di sana mereka memiliki tanah seluas 500 meter, diolah bapa menjadi sawah juga perkebunan selain rumah bebak, rumah dengan pagar pelepah daun lontar atau bambu untuk kami menetap.

Hampir sebagian halaman rumah bebak kami ditanami pohon lontar yang nira atau airnya bisa diubah menjadi gula lempeng, tuak, minuman keras sofi, atau makanan lainnya. Kami bertahan hidup dari pohon lontar dan jagung yang ditanam bapa dan mama.

Perkara nama, saya tidak mau pusing lagi jika bapa, mama, para saudara, hingga teman-teman yang memanggil saya dengan nama yang berubah-ubah. Kekuasaan absolut untuk menoleh atau tidak ada di diri saya. Andai saya tidak menoleh, mereka akan berkata demikian, ”awiii eee, lu pung kuping su tuli Ben?” yang berarti telingamu sudah tuli Ben? Biarlah, saya lebih berkonsentrasi membantu bapa yang juga hidup dari menangkap kepiting atau ikan di laut yang berpantai indah bernama Kelapalima.

Bapa dan mama sosok pekerja keras. Mereka mempunyai empat anak laki-laki yang kuat makan. Kala kami masih kanak-kanak, makanan utama kami jagung. Mama pandai menjadikannya masakan jagung yang enak, ada jagung bose atau jagung yang direbus dengan santan, jagung katemak, dan jagung titi. Kedua jagung itu telah melalui proses penjemuran yang cukup lama dan setelah itu baru diolah atau ditumbuk. Mama harus bekerja dua puluh jam sehari membantu bapa. Jika tidak kami bisa kelaparan. Situasi yang berat membuat mama dan bapa tak memiliki pilihan lain selain mengerahkan segenap tenaga untuk memperpanjang kehidupan kami.

Selain itu, mama dan bapa juga berjualan kayu ke Kota Kupang, saya membantu memikulnya. Terkadang mama menawarkan garam, ikan asin ke para sobak (teman mama) di Desa Baumata, kira-kira 10 kilometer dari rumah kami di Desa Tuak Daun Merah, Kota Kupang. Setelah lelah bekerja, keduanya tidak langsung beristirahat. Mereka membuat tikar, menganyam sokal (semacam penampungan air dari daun lontar), dan membuat haik atau ember juga dari daun lontar dan kapisak penutup tempat menampung air. Semua benda itu akan dijual mama dari rumah ke rumah. Sambil menemani mama dan bapa membuat anyaman dari daun lontar, saya menghibur mereka dengan iringan sesandu, semacam alat musik mirip biola yang berasal dari Pulau Rote. Saya belajar bermain sesandu dari keluarga Pah yang tinggal di Desa Bakunase, Kota Kupang. Oh iya, saya kala itu baru duduk di kelas lima sekolah dasar.

Bapa saya bernama Foe Balla, ia seorang pekerja keras. Bapa pernah ke luar negeri, tepatnya di Broom, Australia. Bapa lahir dan besar di Rote. Lalu ia mengadu nasib ke Kupang, saat remaja bapa menjadi penyadap lontar dan mengiris tuak. Bapa juga bekerja di ladang yang telah dibuka terlebih dahulu oleh mertuanya. Begitu ada permintaan Belanda untuk menjadi buruh yang bekerja di perusahaan minyak di Papua, bapa mengadu nasib ke sana, ia bekerja dengan sistem kontrak pada sebuah perusahaan minyak Belanda. Tapi bapa tidak betah, ia kembali ke Kupang. Beliau tidak memperpanjang kontraknya, lalu pulang dan menikahi mama saya. Bapa kembali bekerja sebagai penyadap lontar dan menggarap sawah juga ladang serta mencari kepiting dan ikan.

Tabungannya dari bekerja di Papua dibelikannya tanah di desa tempat kami tinggal sekarang, Tuak Daun Merah. Bosan dengan pekerjaan sebagai petani dan pencari ikan serta kepiting, bapa kembali mengadu nasib dengan menandatangani kontrak pada perusahaan Mutiara di Broom, Australia Barat. Di sana bapa menjadi juru masak untuk pekerja-pekerja dari Indonesia. Namun, bapa saya yang pembosan itu lagi-lagi menolak memperpanjang kontraknya karena khawatir tidak bisa pulang ke tanah air akibat rumor mengenai kemungkinan pecah Perang Dunia Kedua. Tapi saya duga, bapa rindu pada istrinya, yaitu mama saya. Bapa pulang dengan membawa mutiara yang cukup banyak untuk mama.

Waktu berlalu tidak dengan ketergesaan yang fatal. Saya telah lulus sekolah menegah atas. Namun pekerjaan bapa dan mama tidak mencerahkan suasana hati saya. Semua tabungan dan mutiara yang dibawa bapa dari Broom ludes, dijual untuk biaya sekolah adik dan kakak serta makan sehari-hari. Pekerjaan bapa sebagai penangkap ikan dan kepiting memberikan hasil yang kurang memuaskan. Saya sering ikut bapa menggendong kapisak tempat menampung hasil tangkapan kepiting dan menjualnya di Pasar Koenino atau ke paklaru semacam lapo tuak orang Rote untuk dijadikan teman meminum sofi semacam minuman keras hasil fermentasi dari tuak pohon lontar.

Bagi saya masa-masa sekolah adalah masa perjuangan berbaur derita terselubung. Tak ada yang bisa menggiring saya untuk dapat merasakan nikmatnya bangku kuliah kecuali dengan beasiswa. Melalui kemampuan otak yang bisa dibilang cemerlang, saya mengejar beasiswa itu. Ketika dapat, dengan kemeja dan celana terbaik yang penuh jahitan penutup lubang karena usang termakan waktu, pakaian itu saya pakai untuk semua acara, yaitu ke kampus dan gereja. Setiap hari saya harus berjalan sejauh 10 kilometer bolak-balik dari Tuak Daun Merah ke Kampung Baru untuk menuntut ilmu. Saya tidak memiliki sepatu. Sandal terbaik yang pernah menempel di telapak kaki kadang terlepas akibat lumpur yang terguyur hujan. Saya mencari getah karet untuk mengelemnya kembali. Jalanan yang kotor kadang terselip kotoran manusia, menjadi kisah memilukan bahwa jalan itu beralih rupa menjadi WC umum. Masa itu kesadaran manusia akan kebersihan diri belum tampak jelas, semuanya buntu oleh rasa lapar yang menggelegak di usus.

Perjalanan pulang-pergi dengan berjalan kaki demi menuntut ilmu di sebuah kampus theologia membuat saya hampir menyerah dan kehilangan beasiswa. Mama meminta saya tinggal di saudaranya yang memiliki rumah di dekat kampus. Saya senang, namun di perjalanan waktu saya menyadari lingkungan di situ tidak memberikan dampak positif bagi perkembangan karakter saya.

Di rumah itu kerap dijadikan arena berjudi. Saya kehilangan waktu untuk menekuni pelajaran karena harus membuatkan kopi untuk para penjudi. Dan saya, Ben Henuk, memutuskan untuk kembali ke Tuak Daun Merah, rumah bapa dan mama saya. Di sana kemerdekaan yang sejati kembali saya rasakan.

Saya bersukacita dengan para sahabat sekampung, berteriak dengan bahasa ibu, lao teu taliu sia lifu nggeok e yang artinya ayo ramai-ramai kita berenang di kolam Air Hitam Lifu Ngeok. Kolam ikan itu berada di tengah desa. Sukacita yang lain adalah mengambil sarang lebah di batu karang pantai dan langsung memakannya dengan telur atau larva lebah yang masih menggeliat-geliat. Rasanya enak sekali.

Musim hujan biasanya merupakan masa yang sulit bagi kami karena hasil panen sebelumnya digunakan untuk bibit, ini membuat kami kerap kelaparan. Tetapi selain ada sobak (teman mama) yang orang Timor di Baumata, kami masih bisa bertahan hidup karena mereka mau melakukan barter barang apa saja untuk kelanjutan hidup kami.

Ada juga sang penolong di kala paceklik. Ia berupa jamur putih yang tumbuh di tempat terbuka, berbentuk payung yang lezat, juga sayur berbentuk bulu ayam berwarna kehijauan. Dua jenis tanaman ini biasanya cukup untuk kami konsumsi sepanjang hari. Setelah itu kami meminum nira lontar atau tuak. Gizi kami tentu bertambah kalau bapa pergi menangkap kepiting di Oesapa, biasanya mama ikut serta. Kalau saya ikut, saya bisa menangkap gurita yang bahasa Kupang-nya disebut pado.

Pada musim kemarau tambahan gizi bisa diperoleh dari burung puyuh. Khususnya saat burung-burung puyuh ”mencari suaka” ke semak yang masih ditumbuhi ilalang. Ketika mereka bergerombol, kami bisa menangkapnya dengan mudah. Burung-burung puyuh ini biasanya gemuk dan lezat, dagingnya sangat bergizi untuk kami. Hal yang sangat menyenangkan juga adalah menangkap udang besar di sungai dan membakarnya. Kami menikmati udang bersama potongan kelapa muda yang ditusuk pada sebatang kayu unumeok (kayu kering). Begitulah keseharian yang saya lalui bila liburan sekolah. Binar bahagia yang tecermin dari sorot di mata saya dan teman-teman mengalahkan rasa bahagia kaum jet set dengan gelimang harta di sekeliling mereka.

Ketika saya berjalan dari rumah kemudian melewati kantor wali kota dan Hotel Sesando serta bagian selatan Rumah Sakit Siloam di Kota Kupang, saya terkenang penuturan bapa tentang nama tempat itu di era Kota Kupang masih berupa tanah karang dan lautan pohon lontar serta alang-alang. Selain itu ada banyak kebun yang entah milik siapa serta pohon-pohon dilak dengan buah-buahnya yang lezat, saya sering memakannya. Sumber pemandangan indah lainnya adalah pohon flamboyan yang banyak tumbuh tanpa ditanam dan disiram. Pohon-pohon itu akan berbunga dengan warna oranye cerah. Ia tumbuh mulai dari Lutufatu sampai Nainggoto, Naietru, Lamuk, Ninilu Naluk, itu nama-nama desa dari Rote Dengka yang sudah lenyap ditelan bumi, diganti dengan nama-nama yang asing, megah berbau kapitalis.

Saya belajar bersama alam, menikmati bumi NTT nan indah dengan obsesi idealis kelak saya akan memajukan desa tempat saya tinggal. Modernisasi sudah memoles Kota Kupang, kerinduan akan masa lalu terekam kuat di benak. Belajar secara akademisi yang berbaur dengan alam mengejawantah dalam sebuah tanya, apakah setelah lulus kuliah saya akan menjadi pendeta atau petani dan pencari ikan seperti bapa saya? Nama Ben kemudian berdengung kembali di telinga saya. Ada keinginan yang merayap diam-diam di dada, saya ingin nama itu memberikan makna yang jelas bahwa dia bukan sekadar nama tanpa memiliki arti yang kuat dengan kaitan intelektualitas yang bersemayam di otak seorang anak kampung asal Denka, Pulau Rote. Anak dengan jerat kemiskinan yang tak sekadar artifisial, namun nyata.

Dari Desa Tuak Daun Merah Kupang, saya Ben berjalan ke makam bapa dan mama di Desa Fatukoa. Jejeran perbukitan mengitarinya. Ombak Laut Sawu terdengar berdebur perlahan. Dari bisunya dua makam itu, saya teringat ucapan bapa, ”Ben, lu makan ini kepiting yang banyak supaya lu jangan jadi lelaki bodok seperti bapa. Lu harus jadi orang pintar, olah itu kebon lontar lebih bermartabat lagi!”

Saya menahan tangis meski air mata kemudian turun di pipi. Setelah lulus sebagai doktor dari Princeton University, Amerika Serikat, dengan beasiswa penuh, saya mengamini ucapan bapa. Sampai saat ini nama saya tetap Ben, Ebeninus Henuk, gelar doktor tidak saya cantumkan. (*)

FANNY J. POYK, Penulis dan tinggal di Jakarta

Editor : Ilham Safutra

Saksikan video menarik berikut ini:



Close Ads