alexametrics

Kerbau Terakhir Kakek Is

Oleh MUHAMMAD NANDA FAUZAN
3 Juli 2022, 11:18:23 WIB

Kusaksikan segalanya semakin memburuk, dari waktu ke waktu. Sepuluh hari yang lalu, kerbau terakhir yang dimiliki Kakek Is terjual dengan harga rendah. Kini laki-laki tua itu lenyap berikut dengan nisan penanda makam kerbau kesayangannya –seolah, keduanya disedot oleh langit yang lapang.

BLEKI, seekor kerbau bertubuh sintal, dengan kulit bercorak belang yang didominasi warna putih gading, adalah sebuah anomali yang memesona. Tak ayal, ketika baru saja dilahirkan, seorang belantik pernah menaruh harga setara dua belas sepeda motor untuknya. Tapi, Kakek Is saat itu menolak dengan alasan yang akan kujelaskan secara perlahan.

Pada dasarnya, Kakek Is lahir dari keluarga peternak, bukan pedagang. Itu harus kujelaskan lebih awal agar semuanya menjadi lebih jelas. Tak syak bila para tetangga menganggapnya kelewat tolol setelah menolak tawaran belantik yang dikenal sadis ketika menaksir harga. Namun, kupikir, semua orang akan mengambil keputusan serupa jika ia menjadi Kakek Is.

Seluruh deskripsi fisik ihwal tedong saleko, kerbau belang yang menjadi prasyarat dalam ritual rambu solo di Toraja, bisa kita dapati pada tubuh Bleki. Di samping itu, ketahanannya dalam menghadapi penyakit juga terbilang ajaib. Ketika sembilan ekor kerbau milik Kakek Is mati serentak terserang septicaemia epizootica –atau ngorok, istilah yang digunakan awam– Bleki masih tampak bugar. Padahal, mereka hidup berdampingan di kandang yang sama. Tapi, yang lebih menarik minatku ialah bagaimana Bleki, berbeda dari kerbau kebanyakan, kehilangan perangai liarnya sehingga ia tak memerlukan seorang gembala; ia dibebas-lepaskan di Dusun Wanatirta, dan tak pernah sekali pun membuat kegaduhan dengan merusak perkebunan atau menubruk sembarang orang; ia akan pulang ke kandang menjelang senja hari tanpa harus digiring.

Namun, pada akhirnya, kerbau dengan spesifikasi seistimewa Bleki harus terjual dengan banderol yang disesuaikan berdasar bobot tubuh belaka. Ia menjadi setara dengan kerbau gelondongan di Pasar Rau. Meski jika dilihat dari sisi berbeda, itu adalah sejenis keberuntungan juga. Maksudku, siapa yang berminat menebus jasad seekor kerbau yang mati dalam keadaan hangus tersengat listrik di kubangan sawah dengan harga mahal?

Ya, Bleki yang legendaris itu mati dengan cara yang kelewat mengenaskan. Sulur-sulur kabel yang menghantarkan listrik dari gardu menuju perusahaan tambang sedang galat, separonya rebah ke tanah yang digenangi oleh air, menciptakan kolam kematian bertegangan tinggi. Pada hari yang nahas itu, Bleki melintas dan sepertinya tak mampu menahan godaan untuk sekadar bergenang di kubangannya.

Kabar kematian Bleki sampai pada telingaku melalui Salikin, cucu pertama Kakek Is, yang menjadi pendamping selama aku ditugaskan menulis laporan untuk Majalah Sains tempatku bekerja dulu, tiga tahun lalu. ”Pihak perusahaan tidak mau bertanggung jawab, Bang,” kata Salikin di ujung telepon setelah menceritakan semuanya secara mendetail. ”Mereka bilang ini semua karena keteledoran semata. Aku khawatir Kakek Is justru akan dituntut balik karena membuat kegaduhan.”

Saat itu, sepuluh hari yang lalu, aku tiba di Dusun Wanatirta sekitar pukul tiga sore, tepat ketika berlangsung mediasi ulang antara pihak perwakilan perusahaan tambang dan Kakek Is. Di beranda balai dusun, kulihat sejumlah preman suruhan duduk berjajar memasang wajah ganas, tapi para pemuda –yang berdiri di pihak Kakek Is– juga tampil siaga dan menakutkan. Seumpama senjata, keduanya adalah mesiu yang siap meledak terkena percik api.

Negosiasi berlangsung alot. Sebentar-sebentar terdengar gemuruh, kemudian berganti hening. Dalam situasi ini, pertikaian rawan pecah meski dipicu oleh hal-hal tak terduga. Salikin, seperti membaca gelagat risi dalam wajahku, melontarkan gagasan untuk menengok jasad Bleki.

Tentu ajakan itu kusambut dengan riang. Maka, kami melangkah santai meniti jalan setapak, membelah pematang sawah, melintasi kebun-kebun milik penduduk yang kini tampak gersang tak terawat. Pohon-pohon rindang kian menyusut kuyu, membuat burung-burung enggan menciptakan sarangnya. Pemandangan semacam itu menemani perjalanan selama lima belas menit, hingga akhirnya kami tiba di perbatasan antara ruang hijau yang membentang dan area pertambangan yang disesaki oleh debu.

Jasad Bleki yang malang masih terbujur kaku di dalam kubangan yang belum kering sempurna. Aku memperhatikannya dari jarak dekat meski aroma tak sedap telah menguar sejak puluhan meter. Lalat dan aneka serangga mengerubungi tubuh Bleki yang kini gosong menyedihkan.

”Dua hari sebelum mati, belang-belang di tubuhnya menghilang, Bang.”

”Maksudmu?” Aku berusaha memastikan ucapan Salikin.

”Ya, tiba-tiba saja semua bercak hitam itu lenyap, Bang. Tubuh Bleki menjadi sepenuhnya putih sebagaimana kebanyakan kerbau bule yang pernah kulihat.”

Aku menjauh ke arah gubuk, berusaha mengurai ucapan Salikin menjadi kalimat yang lebih bisa diterima. Kubakar sebatang rokok, lalu memutar-mutar batangnya dia antara jemari –suatu gerakan yang didorong oleh alam bawah sadar ketika merasa bingung. Salikin menyusul kemudian, mencomot sebatang tanpa meminta izin, menandakan keakraban yang terjalin di antara kami.

Dulu, ketika editor memintaku meliput kisah Kakek Is dan Bleki, aku menulis kesimpulan serampangan bahwa kelahirannya semacam anomali, yakni kelainan genetika seperti yang terjadi pada seekor kucing jantan dengan belang berjumlah tiga alias jenis calico, di mana mereka beroleh kelebihan kromosom seksual, yang lazimnya X pada pejantan, menjadi XXY. Atau semacam itu. Aku tak ingat kalimat persisnya karena editorku merombaknya menjadi lebih rasional guna mengakali kecenderungan kalangan pembaca majalah kami.

Tentu saja itu kesimpulan buruk dan sok tahu dan tergesa-gesa. Aku menutup satu misteri semata agar tak menjadi objek olok-olok. Ialah nubuat dari Nenek Tri, yang pada malam terakhirku di Wanatirta, diceritakan secara gamblang oleh Kakek Is. Semuanya terhubung secara langsung dengan Bleki, si kerbau ajaib.

”Di detik-detik akhir hidupnya, di atas ranjang lapuk tempatnya berpulang, ia menanyakan ihwal perselingkuhanku. Aku mengelak, tentu saja. Tapi, istriku tahu terlalu banyak hal,” kata Kakek Is sembari memilin-milin ujung rokok yang ia linting sendiri.

”Tak ada cara lain selain berpasrah diri dan mengkui kesalahan,” aku menimpali, tanpa berusaha memberi penghakiman.

”Kau salah,” Kakek is kini menundukkan kepala, ”Aku berkeras bahwa aku tak pernah bermain serong. Ia tersenyum, lalu membuat semacam nubuat. Katanya, akan tumbuh satu belang hitam pada salah satu kerbau kami yang lahir untuk setiap dosa rahasia yang pernah diperbuat olehku.”

”Lalu, ada berapa bercak hitam pada tubuh Bleki?”

”Awalnya tujuh, kini tersisa lima,” kata Kakek Is sembari mengangkat semua jari tangan kanannya, bermaksud menunjukkan jumlah. ”Dan aku hafal lima dosa yang pernah, dan masih, kulakukan. Menurut istriku, belang itu akan lenyap bersamaan dengan luruh tabiat buruk dalam diriku.”

”Dan kau memercayai itu?”

”Percaya atau tidak, itu urusan lain. Yang pasti, aku akan terus merawat Bleki hingga bercak hitam di tubuhnya hilang. Aku tak akan mati sebelum itu terjadi.”

Bersamaan dengan itu, Kakek Is bercerita tentang orang-orang yang datang padanya dengan sejumlah uang demi menebus Bleki –termasuk belantik yang kuceritakan di awal. Tapi, pikiranku saat itu menjadi terbelah, aku menduga bahwa Kakek Is sedang berusaha memberi olok-olok atau tipuan sederhana agar aku mendapatkan dongeng bagus untuk dituliskan di majalah.

Salikin bangkit dari duduknya, menyadarkan lamunanku. Di kejauhan gerombolan orang berduyun-duyun menyesaki jasad Bleki. Mereka berpindah dari ruang mediasi di balai dusun menuju lokasi kejadian dengan kebisingan yang tak berkesudahan. Dalam waktu singkat tercipta kerumunan membentuk lingkaran seperti tengah menyaksikan pertarungan tinju. Aku dan Salikin segera menyusul untuk bergabung, tak mau menyesal karena melewatkun satu kejadian penting.

Delapan orang mengikat tubuh kerbau malang itu, lalu menyelipkan sebatang besi panjang di antara gugusan temali yang telah dirangkai demikian rupa. Dalam hitungan yang telah disepakati sebelumnya, mereka serempak mengangkat tubuh Bleki ke atas timbangan mahabesar yang sudah tersedia. Semuanya memasang mata teliti. Lalu muncullah angka 258 kilogram –setelah dikurangi bobot besi penyangga dan tali tambang.

Perwakilan dari perusahaan tambang menghitung uang di tempat, lalu menyerahkan seluruhnya kepada Kakek Is dalam jumlah yang akurat. Orang-orang yang datang bertepuk tangan. Meski begitu, kepuasan tak terpancar di wajah Kakek Is sebagaimana semestinya hadir ketika seorang peternak menjual hewan yang ia miliki. Kakek Is hanya berseloroh, ”Jangan lupa makamkan Bleki dengan layak, seperti yang kuminta, seperti perjanjian kita,” yang disambut dengan anggukan kepala.

Semua selesai begitu cepat, begitu terburu-buru. Barisan seketika bubar. Semua kembali asyik masyuk pada kesibukan masing-masing, kecuali petugas yang dikerahkan untuk mengubur jasad Bleki oleh pihak perusahaan. Aku sendiri, setelah berpamitan pada Salikin, segera pulang. Aku mengurungkan niat untuk sejenak berbincang dengan Kakek Is karena merasa ia sedang tak ingin diganggu.

Semuanya berjalan baik-baik saja pada mulanya. Namun, seperti yang telah kukatakan sebelumnya, ternyata segalanya telah berubah menjadi lebih buruk dari waktu ke waktu. Setelah Bleki terjual dengan harga rendah, sepuluh hari yang lalu, hari ini aku kembali dibuat termenung oleh pesan singkat yang dikirimkan oleh Salikin. Katanya, Kakek Is tiba-tiba menghilang dan nisan yang menjadi penanda kubur Bleki turut lenyap bersamanya.

Pada mulanya aku hendak menyusul ke Wanatirta. Tapi, niat itu surut setelah aku menyadari bahwa segalanya harus berakhir seperti itu. (*)

MUHAMMAD NANDA FAUZAN, Cerpenis dan esais. Kumpulan cerita pertamanya, Persembunyian Terakhir Ilyas Hussein (2022). Kini berdomisili di Serang, Banten.

Editor : Ilham Safutra

Saksikan video menarik berikut ini: