alexametrics

Rolet

Cerpen: SULISTIYO SUPARNO
2 Agustus 2020, 15:41:03 WIB

NASIB seorang pejudi tulen. Apa pun bisa dia perjudikan dan rolet adalah kesukaannya. Dia juga pemabuk. Aku ingin sekali membunuhnya.

Ayah Nasib penjaga kantor kecamatan. Tiap sore, seusai bermain di sungai atau di sawah, Nasib selalu mengajakku membantu ayahnya bersih-bersih kantor. Sering kulihat ayah Nasib duduk di kursi pojok ruangan, menulis sesuatu di meja bertaplak batik kuning.

”Ayahku sedang meramal togel,” bisik Nasib. Mengertilah aku mengapa Nasib gemar berjudi. Sudah keturunan, batinku.

Setiap pulang sekolah, Nasib selalu bertanya kepadaku tentang sisa uang saku. Selalu kujawab ada karena uang sakuku memang banyak.

”Aku punya nomor bagus. Kamu modali aku, ya?”

Aku tak pernah mampu menolak permintaannya. Nasib sangat baik kepadaku, selalu menjagaku dari gangguan kakak-kakak kelas yang suka memalak.

”Mau beli di mana?” tanyaku.

”Wan Zing.”

”Itu dekat rumah kakek. Kalau ketahuan, kakek bisa lapor ayahku.”

”Tenang saja. Kamu tunggu di pos ronda.”

Wan Zing adalah lelaki tua berkulit putih, bermata sipit. Dia punya toko kelontong yang konon juga menyediakan minuman keras. Tiap hari, terutama menjelang pukul 11 malam, ramai orang ke sana untuk membeli togel. Entah siapa nama sebenarnya dan bagaimana cara penulisan namanya, yang kutahu orang-orang melafalkan namanya: Wan Zing.

Sejumlah uang di kantong celana pendek biruku berpindah ke tangan Nasib. Dia selalu yakin nomornya akan tembus tiap kali menerima uang dariku. Seingatku, belum satu kali pun nomor-nomor bagus yang ditembak Nasib itu tembus. Keyakinan Nasib memang luar biasa. Atau memang begitulah tabiat pejudi, selalu yakin akan menang.

”Besok aku traktir kamu,” selalu begitu janji Nasib ketika akan membeli nomor togel. Meski, yang terjadi, aku yang sering mentraktirnya di warung depan sekolah saat jam istirahat.

Pernah, suatu kali, sepulang sekolah Nasib mengajakku membeli durian, lalu memakannya di sungai. Dia menunjukkan beberapa lembar uang lima ribuan.

”Masih sisa banyak,” katanya, tersenyum.

Nasib juga mengeluarkan sesuatu dari kantong celana pendek birunya.

”Apa itu?” tanyaku.

”Rokok lah. Masak permen?” sahutnya.

Untuk pertama kali kulihat Nasib merokok. Dia batuk-batuk, lalu mencoba lagi sampai akhirnya benar-benar bisa merokok dengan benar.

”Cobalah,” dia menyodorkan sebatang rokok filter kepadaku.

”Tidak,” kataku.

Nasib menghabiskan sebatang rokok dengan penuh nikmat. Aku duduk di dekatnya, terbatuk-batuk karena asap rokok yang diembuskan Nasib leluasa memasuki hidungku.

”Nomormu tembus?” tanyaku.

”Tidak,” sahutnya, menyulut batang kedua rokok filter. ”Bosan aku beli togel. Aku main rolet semalam. Aku menang banyak.”

Aku tak tahu apa itu rolet. Nasib menjelaskan kepadaku tentang permainan judi itu dan betapa menyenangkannya bermain rolet.

Celana pendek biru berganti celana panjang abu-abu, Nasib masih setia dengan rolet. Berkali-kali dia mengajakku melihatnya bermain rolet, tetapi aku selalu menolak.

Di kampung kami perjudian tumbuh subur. Setiap ada pertunjukan musik dangdut, sintren, wayang kulit, barongan, atau pertunjukan lain, selalu ada perjudian, terutama rolet.

Biasanya, perjudian itu berlangsung di tempat-tempat tersembunyi seperti rumah kosong, kebun, atau kuburan yang tak jauh dari lokasi pertunjukan-pertunjukan itu. Dapat kupastikan, Nasib ada di arena rolet itu.

Kuperhatikan, Nasib tak pernah kekurangan uang. Dia tak pernah lagi minta modal kepadaku seperti yang dilakukannya saat SMP dulu. Dia merasa telah menggenggam masa depan. Dia tak perlu kuliah ketika lulus SMA nanti. Nasib mengatakan dengan mata berkilat penuh keyakinan bahwa rezekinya ada di papan rolet. Katanya, rolet akan membuatnya kaya raya.

”Buat modal melamar Satirah,” katanya, lalu tertawa.

Tak jauh dari rumahku ada gadis bernama Satirah. Dia berlesung pipi, rambut panjang berombak, bila berjalan seperti kucing lapar. Sungguh gadis yang memikat hati. Usia Satirah sebaya denganku.

Diam-diam aku menyukai Satirah. Hatiku melonjak girang ketika suatu malam aku mendengar ayah dan ibuku membicarakan Satirah. Karena mengetahui aku menguping, ayah dan ibu memintaku untuk bergabung dengan mereka di ruang tamu.

”Kamu kuliah D-1 komputer dulu. Lulus, buka bengkel komputer, lalu melamar Satirah,” kata ibu. Menikah di usia 20 atau 21 tahun sudah biasa di kampungku.

”Apa Satirah tidak kuliah?” tanyaku.

”Kata ayahnya, Satirah akan kursus akuntansi. Pamannya punya diler motor. Satirah bisa kerja di sana nantinya,” jawab ibuku. Di kota kecamatan ada tempat kursus akuntansi.

Begitulah, aku kuliah D-1 komputer di kota yang berjarak dua jam naik motor dari kampungku. Sebulan sekali pulang. Sebulan, ah, terlalu lama untukku memendam rindu kepada Satirah.

Melalui SMS, aku bertukar kabar dengan kawan-kawan di kampung, dengan Nasib, dan tentu saja dengan Satirah. Kawan-kawan mengabarkan perilaku Nasib yang makin amburadul. Nasib pernah ngamuk saat pertunjukan sintren karena kalah banyak dari bermain rolet. Berkelahi dengan pemuda tetangga kampung karena kalah taruhan bola.

Suatu malam Nasib mengirim SMS kepadaku.

Kau akan melamar Satirah?

Tidak kubalas pesan itu. Apa yang harus kutulis?

Bajingan kau!

Darahku mendidih membaca pesan berikutnya dari Nasib. Tetapi, setelah mengela napas, kuputuskan untuk mematikan ponsel.

Beberapa hari kemudian aku pulang dengan amat marah. Aku tidak segera ke rumah, tetapi ke rumah Nasib. Kudobrak pintu rumahnya, kucari Nasib, tapi tidak ketemu. Beberapa tetangga berdatangan, menenangkanku. Seorang tetangga, dengan hati-hati, meraih pisau lipat dari tanganku.

”Mana Nasib? Akan kubunuh dia!” teriakku.

Ayah Satirah datang pula, ikut menenangkanku.

”Sabar, Nak Seno. Semua sudah selesai. Ayah Nasib sudah menjamin Nasib tidak akan berbuat kurang ajar lagi kepada Satirah,” kata ayah Satirah.

Masih kuingat SMS dari kawan yang mengabarkan Nasib kepergok hendak merudapaksa Satirah di kebun, suatu sore. Alkohol telah merusak pikiran Nasib. Itu alasan yang cukup bagiku untuk membunuh Nasib.

Sudah tiga hari aku bolos kuliah. Aku masih di kampung untuk menjaga Satirah dari gangguan Nasib. Tiap saat selalu kukunjungi rumah Satirah untuk memastikan gadis itu aman. Satirah pun meliburkan diri dari kursus akuntansinya. Dia takut keluar rumah.

Suatu malam, kudengar kabar bahwa ada pertunjukan sintren di kampung sebelah. Diam-diam aku pergi ke sana. Aku tahu tempat judi rolet berlangsung; di sebuah kebun yang tak jauh dari pertunjukan sintren. Di arena rolet itu, aku yakin, orang yang kucari ada di sana. Di saku celana panjangku telah kusiapkan sebilah pisau lipat.

Jalan setapak menuju kebun itu remang-remang. Di langit ada purnama. Dadaku berdebar-debar. Berkali-kali kurogoh kantong celanaku. Pisau lipatku masih ada, gagangnya terasa licin karena keringat jari-jari tanganku. Angin malam semilir, tetapi wajahku terasa panas dan berpeluh.

Kudengar suara-suara dan dari depan kulihat beberapa orang mengusung sesuatu. Aku menepi, membiarkan mereka lewat. Jelas di mataku, seorang pemuda digotong beberapa orang. Sebilah belati atau pisau, entahlah, tertancap di perutnya.

”Mampus kau sekarang!” seseorang memaki.

Aku mencegat seorang lelaki paro baya yang berlari menyusul para pengusung itu.

”Ada apa, Pak?”

Lelaki paro baya itu menjawab dengan bergegas.

”Nasib kalah rolet. Berkelahi, kalah pula. Pisau di perutnya, pasti mati dia,” katanya, lantas berlalu.

Aku tertegun. Kurogoh kantong celana panjangku. Pisau lipatku masih ada. (*)

Batang, 29 Juli 2020


SULISTIYO SUPARNO, Pedagang cerpen kelahiran Batang, 9 Mei 1974. Menulis cerpen untuk menghasilkan uang agar bisa beli beras dan sesekali durian kalau pas musim. Sempat mengalami depresi ringan ketika bekerja kantoran. Kini mencoba aktif menulis lagi meski harus memulai dari nol. Bermukim di Limpung, Batang, Jawa Tengah.

 

Saksikan video menarik berikut ini:

 

 

 

Editor : Ilham Safutra



Close Ads