alexametrics

Jakarta Bukan Kota yang Baik untuk Bersedih

Cerpen oleh: Erwin Setia
1 September 2019, 15:33:26 WIB

KAU duduk di salah satu kursi tunggu dan mulai mengenang segalanya secara hati-hati.

Di Stasiun Manggarai, puluhan orang berlalu-lalang. Sebagian dalam langkah-langkah lambat, sebagian bergegas seperti mengejar sesuatu yang mudah lepas. Kau pikir, sebagaimana dirimu, tiap orang di stasiun ini pasti mempunyai kisah sedih masing-masing. Kisah-kisah yang akan membuat pemiliknya merasa muak dengan kehidupan dan ingin melompat ke semesta lain.

Melompat ke semesta lain –melarikan diri? Apakah itu yang sedang kau inginkan? Tidak, cepat-cepat kau menggeleng. Kau hanya ingin menenangkan diri sekaligus menata ingatan rapi-rapi. Kau mengira tidak ada waktu yang tepat untuk melakukan itu selain saat ini.

Dua kereta datang bersamaan dari dua arah yang berbeda.

Persis ketika jubelan orang keluar dari gerbong serupa telur-telur ikan, kau memikirkan tentang kepergian. Seseorang baru saja pergi dan keping-keping ingatan tentangnya menyerbumu seperti segerombolan orang yang keluar dari kereta.

”Raega.” Ia mengulurkan tangan kecokelatan dan berototnya kepadamu. Suaranya, kau ingat betul, sedikit serak tapi tidak membuatmu berpikir ia seorang pemalak atau sejenisnya. Justru keserakan itu menjadi kekhasan, semacam ciri yang membuatnya semakin mudah diingat. Kau menyambut ulurannya dan memperkenalkan nama.

Di mana peristiwa itu terjadi?

Matamu mencari plang stasiun, mengeja huruf-huruf tanpa suara. Tentu saja di sini. Di stasiun ini. Kejadian itu belum lama dan bukan sesuatu yang mudah dilupakan. Pertemuan pertama, kelahiran, kematian, pernikahan, perceraian, perpisahan; semuanya adalah hal yang sulit dilupakan. Kau mengamininya dan mulai mencari letak tisu di dalam tas tanganmu.

Tidak ada tisu di dalam tasmu. Kau luput membawanya. Kau juga tidak sempat membelinya dalam perjalanan pulang tadi. Barangkali kau memang tidak pernah mempersiapkan apa pun untuk menghadapi momen ini. Kau embuskan napas. Seorang petugas mencegah sekelompok orang yang ingin menerabas rel. Dengan wajah menegang, ia memberi instruksi tertentu kepada mereka sambil menunjuk arah di mana kepala kereta pelan-pelan menyembul. Mungkin dalam hatinya petugas itu berkata, ”Hati-hati! Kalau tidak, kalian bisa mati sia-sia.”

”Hati-hati, jangan terlalu dekat dengan pintu.” Seseorang yang bukan petugas itu pernah mengatakannya kepadamu.

Saat itu kau menumpangi satu kereta yang sama dengannya. Itu terjadi beberapa menit setelah perkenalan kalian. Kereta sedang lengang, namun kau memilih untuk berdiri. Ia mengajakmu duduk, tapi kau tak menghiraukannya. Pandanganmu menembus jendela kereta yang mulai bergerak. Di langit, awan gelap berarak; di suatu jalan, daun-daun mati terserak.

”Ada masalah?”

Kau tidak menanggapinya. Kau sedang tidak ingin bicara.

Namun, ia tampaknya terlalu berani dan percaya diri. Ia terus saja bicara, menceritakan kejengkelannya selama di kantor, mengucapkan sesuatu tentang stasiun dan kursi tunggu, berusaha melucu, apa saja –tapi kau tetap sebungkam benda mati.

Akhirnya, ia berujar pelan, ”Jakarta bukan kota yang baik untuk bersedih.”

Memang ada kota yang baik untuk bersedih, hah? Batinmu.

Raega menggenggam pegangan kereta dengan sebelah tangan. Ia mencondongkan tubuhnya padamu, lalu berbisik, ”Bolehkah aku bercerita?”

Kau menoleh, menghadap wajahnya yang basah entah oleh keringat atau embun pendingin. Sebelum kau menjawab ”ya” atau ”tidak”, ia sudah lebih dulu mengawali ceritanya. Kata-kata lalu mengalir seperti sungai, menuju telingamu, turun ke dadamu, dan nyaris menenggelamkanmu.

Ia bicara tentang hal-hal yang dekat, namun rumit. Ia sendiri yang bilang. ”Itu dekat, tapi rumit,” katanya selepas menyebutkan satu nama perempuan dan cerita-cerita yang ia lalui bersamanya. ”Aku tidak mengerti lagi bagaimana cara terbaik untuk menceritakan soal ini.”

Raega sedang terluka. Tiada kesimpulan lain yang bisa kau ambil selain itu. Kekasihnya, yang disebutnya ”dia” dengan tekanan pada huruf ”a” baru saja mengkhianatinya. ”Dia berselingkuh dengan rekan sekantorku sendiri. Kau tahu, aku bahkan memergoki mereka hendak berciuman di lorong mal yang biasa kami kunjungi. Tapi, aku tidak bisa memarahinya dan mengungkapkan semua kekesalanku. Aku hanya pergi meninggalkannya, membiarkan dadaku penuh api, dan membuang semua barang pemberiannya sesampai aku di rumah.”

Usai bercerita, Raega tampak lega. Kau juga. Meski kau tidak menimpalinya selain dengan ujaran-ujaran pendek dan reaksi secukupnya. Meski kau tidak balik menyampaikan apa yang tengah kaurasakan. Misalnya, kau tidak mengatakan, ”Aku juga mengalami sesuatu yang serupa denganmu, Raega. Kekasihku baru saja memutuskan untuk bertunangan dengan seorang perempuan yang bukan aku.”

Sejak itu, kalian –sepasang manusia yang dipertemukan oleh kesedihan– rutin bertemu. Selain di stasiun dan dalam kereta, kalian menyusun agenda-agenda pada hari libur. Kalian begitu cepat akrab, karena barangkali tidak ada sesuatu yang punya daya lekat sehebat perasaan senasib. Terlebih, kau dan Raega senasib dalam hal menyakitkan: sama-sama dikhianati dan ditinggalkan.

Kalian mengunjungi Kebun Binatang Ragunan dan melemparkan makanan untuk hewan-hewan dengan bahagia. Kalian pergi ke Taman Mini Indonesia Indah dan berkelakar bahwa Indonesia yang sangat luas ini bisa dijelajahi hanya dalam waktu beberapa jam. Kalian duduk pada suatu pagi di lapangan Monas dan bertanya-tanya mengapa Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral dibangun berdampingan.

”Sebab, meski dua tempat ibadah itu punya bentuk bangunan dan pengunjung yang berbeda, sejatinya keduanya sama saja. Sama-sama disusun dari batu dan sama-sama dikunjungi oleh manusia,” kata Raega.

Kau suka caranya bicara dan memandang suatu hal. Ia santai, cerdas, elegan, dan bisa membantumu menimbun luka lama dengan cepat.

Ilustrasi. (Budiono/Jawa Pos)

Kalian hanya butuh waktu beberapa bulan sebelum bersepakat menjadi sepasang kekasih. Di Stasiun Manggarai, pada suatu Jumat malam yang dingin dengan rembulan penuh, Raega mengutarakan cinta kepadamu dan kau tak merasa perlu berpikir panjang untuk menerimanya.

Sudah berapa lama itu terjadi? Ah, seperti baru kemarin.

Kau masih duduk di kursi stasiun. Dirimu kembali terbantun ke masa kini. Di sini malam kian dalam. Tapi, stasiun ini belum juga sepi. Sepasang anak muda dalam tampilan edgy melintas di depanmu sambil bergenggaman tangan. Tiba-tiba kau merasa terperosok ke suatu jurang dan menemukan dirimu berdua saja dengan Raega. Kau dan Raega saling menceritakan soal apa saja, tentang hal-hal lalu atau bayangan-bayangan akan masa depan. Ia akan menyeka matamu jika roda cerita menyentuh permukaan jalan yang menyedihkan. Kalian akan tertawa jika sesuatu yang lucu menyelip di sela cerita.

Kau membayangkan Raega berada di sisimu dan kau akan menceritakan macam-macam. Kau akan menceritakan perasaanmu akhir-akhir ini, teman-teman kantormu yang menyebalkan, ruangan-ruangan di apartemenmu yang malas kau bersihkan, tisu yang lupa kau beli, dan sebagainya. Kau tahu, Raega tidak akan marah sekalipun kau melulu bercerita masalah-masalah remeh. Sepasang telinganya begitu setia dan kau pernah berpikir seharusnya Raega menjadi psikolog saja, bukan pegawai kantoran. Ia akan memberi tanggapan-tanggapan pendek dan satu–dua saran kepadamu. Kemudian, ia balik bercerita, kau bercerita lagi, ia bercerita lagi, kau lagi, dan seterusnya.

Tetapi, tidak ada Raega di sini. Hanya ada orang-orang tak kau kenal dengan wajah penuh keletihan. Satu per satu dari mereka bangkit dari kursi. Dan mungkin tak lama lagi kau akan tinggal seorang diri. Sendirian memperhatikan petugas-petugas yang sedang dilanda lelah dan rindu kepada orang-orang di rumah, kereta-kereta jarak jauh yang berjalan cepat, langkah-langkah tergesa, gedung-gedung tinggi dan bercahaya di kejauhan, sebongkah bulan yang mulai diselimuti awan, dan dirimu sendiri.

Kau mengecek jam dan bertanya: Sudah berapa lama aku duduk di sini?

Waktu berlalu, stasiun kian sepi. Seorang petugas menghampirimu. ”Maaf, Mbak, sedang menunggu kereta apa?”

Lamunanmu buyar. Kau tergeragap dan mengusap-usap mata dalam gerak cepat.

”Tidak. Tidak. Saya tidak sedang menunggu kereta apa-apa.”

Petugas itu terlihat kebingungan. ”Maksud, Mbak?”

Kau hanya menggeleng. Melihat reaksimu yang aneh, petugas itu lekas berlalu. Barangkali ia maklum, di dunia ini memang ada beberapa hal yang tak perlu diketahui lebih dalam.

Kau bangun dari kursi –kali pertama setelah beberapa lama– dan kembali mengecek jam. Kereta terakhir yang akan mengantarkanmu menuju rumah sebentar lagi melintas. Kau berjalan, berdiri di peron bersama beberapa orang, dan menunggu.

Lima menit kemudian, kereta itu tiba. Kau masuk gerbong biasa. Kau sengaja tidak masuk gerbong khusus perempuan karena alasan sentimentil sekaligus konyol. Banyak kursi yang kosong, namun kau memilih berdiri –itu juga karena alasan sentimentil sekaligus konyol.

Kau berkhayal seorang lelaki berdiri di sisimu, menyapamu, bercerita kepadamu, dan mengatakan kepadamu sesuatu seperti, ”Jakarta bukan kota yang baik untuk bersedih.”

Dan kau berharap lelaki itu bernama Raega.

Tetapi, tidak ada Raega. Hanya ada orang-orang tak kau kenal yang sibuk dengan ponsel dan pikiran masing-masing.

Tidak akan ada Raega. Sebab, ia memang sudah tak ada.

”Ia mati keracunan.”

Kau mengingat-ingat lagi dengan sedih ketika temannya mengabarkan kematian Raega kepadamu.

Raega memang mati. Yang tidak kau tahu, ia bukan keracunan, tapi ia sengaja meracuni diri sendiri dengan puluhan pil obat. Dan yang juga tidak kau tahu, beberapa malam sebelum kematiannya, mantan kekasih Raega datang kepadanya sebagai perempuan terluka, cerita segala rupa, dan malam itu keduanya tidur dalam ranjang yang sama.

Tetapi, kau sebaiknya memang tidak perlu tahu itu.

Kereta berjalan, melewati stasiun demi stasiun, dan kau tetap mengkhayalkan Raega akan hadir di sisimu, lalu mengucapkan, ”Jakarta bukan kota yang baik untuk bersedih.” (*)

Tambun Selatan, 22 Juni 2019


Erwin Setia , lahir tahun 1998. Penikmat puisi dan prosa. Kini menempuh pendidikan di Prodi Sejarah dan Peradaban Islam UIN Sunan Gunung Djati, Bandung. Tulisan-tulisannya pernah dimuat di berbagai media. Buku perdananya, Orang Keempat yang Masuk Neraka, akan terbit dalam waktu dekat.

Editor : Dhimas Ginanjar



Close Ads