alexametrics

Membawa Epos ke Ruang Kekinian

Oleh: Khrisna Pabichara
28 Juli 2019, 15:33:57 WIB

NAMANYA Sawerigading. Dia lelaki yang jatuh cinta kepada We Tenriabeng, adik kembarnya sendiri. Dia legenda yang mendekam di bilik ingatan warga Bugis. Dia sumur inspirasi yang tak henti-henti membasahi kerongkongan imajinasi para pengarang dari kaki Pulau Sulawesi.

Namanya Faisal Oddang. Dia salah seorang pengarang yang keranjingan menyerok imajinasi dari kisah Sawerigading. Fai, demikian saya menyapanya, seperti pencari harta karun yang tidak puas hanya dengan memamah dan menelan cerita rakyat yang ditularkan secara turun-temurun. Dia gelisah dalam pencariannya sehingga rela berpayah-payah mengutak-atik, mengulik-ulik, dan mereka-reka riwayat Sawerigading –Lelaki Pencari Cinta Tiada Tara.

Namanya Weri. Dia lelaki rekaan Fai dalam Sawerigading Datang dari Laut (2019: 68) yang muncul dari dasar lautan setelah perahunya karam ratusan tahun lalu. Dia lelaki yang kembali ke bumi demi menjumpai perempuan yang serupa dengan adik kembarnya. Dia lelaki dari masa lalu yang memasuki dunia masa kini dengan bekal sejumput rambut Tenriabeng.

Tiga nama itulah yang mengilik-ngilik pikiran saya selaku pembaca yang cukup akrab dengan Sawerigading dan lumayan mengenal Fai. Lewat cerpen Sawerigading Datang dari Laut, Fai berupaya memancas atau memangkas hikayat Sawerigading dan menyelusupkannya ke dalam helai kisahan baru. Lebih tepatnya, Fai berusaha memutakhirkan epos yang sudah menyejarah ke dalam ruang kisahan yang lebih ”kekinian”.

Kekuatan Fai ketika memulas kisah purba tampak dalam kemampuannya mengasah cerita, memperjangat konflik, dan mempertajam makna. Dia gunakan ”pisau bahasa” yang kedua bilahnya terasah dengan baik. Seturut dengan pendapat Claire Kramsch dalam Language and Culture (2000: 3), bahasa mengekspresikan realitas kultural, fakta, ide, dan peristiwa karena berhubungan dengan pengetahuan tentang dunia dan merefleksikan sikap, kepercayaan, serta pandangan masyarakat.

Berbekal kedalaman pengetahuan dan kebeningan ide, Fai meracik pemikirannya secara brilian dan membenturkannya dengan realitas kekinian. Kendati dianut banyak warga, Tolotang tidak diakui negara sebagai agama. Fai berhasil mengawinkan peristiwa purba dengan realitas kultural secara gemilang.

Secara cerdik, Fai mengkritik kuasa pemuka agama yang sangat banal sampai-sampai persoalan orang yang ditengarai mengidap kelainan jiwa mesti diurus Pak Ustaz (hlm 67). Pada sisi lain, Fai menyingkap fakta tentang kaum yang selalu mampu melakukan pekerjaan sambilan, sambil menyelam minum air, lewat sosok sang majikan: mengasuh dan merawat Zelle sekaligus memanfaatkan tubuh Zelle buat melunaskan hajat biologisnya.

Fai, pengarang generasi milenial yang lahir di Wajo (salah satu kerajaan besar di masa silam dengan warisan budaya luhur tiada terkira), secara samar menyampirkan pappaseng (petuah) leluhur tentang ”tidak mengambil kayu di sandaran jika bukan kamu yang menyandarkannya” (Haddade, 1986: 15).

Selain itu, Fai menukik lebih dalam hingga ke dasar kepercayaan kolektif warga atas warisan leluhur, yang diamsalkan Fai melalui kisah Sawerigading, tetapi hanya kulitnya yang dipertahankan. Tidak heran, Fai menyentil hingga penamaan orang-orang Bugis yang kini cenderung digaul-gaulkan. We Cudai sebagai nama kuno dari masa lalu dibenturkan dengan Zelle yang lebih gaul (hlm 64).

Pada puncaknya, Fai menampilkan ketangguhan Weri mencari pengantinnya dan ketabahan Zelle menanti kedatangan pangerannya. Fai memilih akhir kisah yang bahagia. Namun, tidak ada rasa bahagia yang sempurna.

Tetap ada jejak getir di balik ledak tawa. Anak yang lahir dari rahim Zelle diakui Weri sebagai I La Galigo (hlm 71), semacam rekonstruksi cerita kelahiran I La Galigo yang diyakini lahir tanpa persentuhan kulit antara Sawerigading dan We Cudai. Dalam cerpen ini, Fai memunculkan ”kegirangan sang aku” sebagai penutup cerita yang tragis.

Namanya Zelle. Dia perempuan yang setia menjaga keyakinan masa kecilnya, sekalipun apa yang dia yakini bermuara pada dongeng belaka. Dia perempuan yang gigih merawat rambutnya. Sebab, dia yakin pangerannya akan menemuinya dengan cara memanjat batang-batang rambutnya. Dia perempuan yang diciptakan secara khusus oleh Fai sebagai calon pengantin Sawerigading. Dia perempuan tangguh yang dimunculkan Fai selaku cermin bagi tabiat lama yang perlahan-lahan kita tinggalkan: hanya datang ketika dicari dan hanya mengiya tatkala disepakati.

Begitul cara Faisal Oddang mengairi ”ladang hikayat yang mulai kering”, sebuah tontonan menarik tentang kedalaman eksplorasi estetis dan keluasan jelajah tematik. Kelezatan tontonan itu dapat dilahap khalayak pembaca lewat 14 belas cerpen lain dalam buku ini. (*)

Judul buku: Sawerigading Datang dari Laut (Cerita-Cerita Faisal Oddang)

Penulis: Faisal Oddang

Penyelaras Akhir: Athena

Tebal: 192 halaman

Penerbit: Diva Press

Cetakan Pertama: Januari 2019

Kekuatan Faisal Oddang memulas kisah purba dalam kumpulan cerpen ini tampak dalam kemampuannya mengasah cerita, memperjangat konflik, dan mempertajam makna.

Khrisna Pabichara, Menulis cerpen, esai, dan novel

Editor : Dhimas Ginanjar



Close Ads